Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Nasional

Dari Fujian ke Nusantara: Sejarah Panjang Wayang Potehi

badge-check


					Wayang Potehi Perbesar

Wayang Potehi

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Masyarakat Tionghoa telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Salah satu warisan budaya yang turut memberi warna adalah seni pertunjukan wayang potehi, boneka tradisional asal Fujian, Tiongkok Selatan.

Nama potehi sendiri berasal dari kata “pou” (kain), “te” (kantong), dan “hi” (wayang). Secara harfiah berarti wayang berbentuk kantong dari kain, meski beberapa bagian terbuat dari kayu.

Dalam penelitian Dwi Woro Retno Mastuti berjudul “Wayang Potehi: Chinese-Peranakan Performing Arts in Indonesia”, kesenian ini sudah dikenal masyarakat Tiongkok sejak abad ke-7 hingga ke-9 pada masa Dinasti Tang.

Cerita tutur menyebutkan bahwa wayang potehi pertama kali dibuat oleh lima terpidana mati. Untuk mengusir kesedihan, mereka menciptakan boneka dari potongan kain dan memainkannya dengan musik sederhana. Pertunjukan itu menghibur sesama tahanan dan sipir, hingga akhirnya terdengar oleh raja. Karena berhasil menghibur, mereka dibebaskan dari hukuman mati.

Perjalanan ke Nusantara
Wayang potehi dibawa oleh imigran Tiongkok ke Nusantara sekitar abad ke-16. Pertunjukan ini berkembang di kota-kota pesisir utara Jawa, terutama di sekitar kelenteng. Selain hiburan, ia berfungsi sebagai ritual untuk menyampaikan doa dan pujian kepada dewa serta leluhur.

Menurut penelitian Ngesti Lestari dalam “Dari Wayang Potehi ke Wayang Thithi”, boneka potehi dimainkan dengan kelima jari: tiga jari tengah mengendalikan kepala, sementara ibu jari dan kelingking menggerakkan tangan.

Panggung pertunjukan disebut pay low, berbentuk miniatur rumah berwarna merah. Dalang bertugas menyampaikan cerita, sementara asisten menyiapkan busana, senjata, dan tokoh. Dalam satu pementasan bisa digunakan 20–25 wayang.

Musik pengiring dimainkan oleh tiga musisi dengan alat seperti toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), bien siauw* (suling), tong ko (gendang), hingga thua jwee (selompret).

Lakon dan Akulturasi
Beberapa lakon klasik yang sering dibawakan antara lain Cun Hun Cauw Kok, Hong Kian Cun Ciu, Poe Sie Giok, dan Sie Jin Kwie. Bila dipentaskan di luar kelenteng, cerita populer seperti Sun Go Kong, Sam Pek Eng Tay, atau Pendekar Gunung Liang Siang lebih sering dipilih.

Akulturasi dengan budaya Jawa tak terhindarkan. Menurut Hendra Kurniawan dalam Potehi in New Order’s Restraint (International Journal of Humanity Studies, 2017), penggunaan alat musik Jawa seperti bonang, saron, kendang, dan gong mulai masuk. Lagu-lagu Jawa pun kerap dijadikan selingan dengan irama Tiongkok.

Wayang potehi sempat populer pada 1950-an, namun mengalami masa suram sejak 1967 akibat larangan pemerintah terhadap budaya Tionghoa. Bahkan dalam *Buku Petunjuk Museum Wayang Jakarta* (1984), wayang potehi tidak disebutkan sebagai bagian dari budaya nasional.

Sejak era reformasi, kesenian ini kembali menggeliat. Kini wayang potehi dipentaskan di berbagai ruang, termasuk pusat perbelanjaan saat Imlek, dan diakui sebagai bagian dari warisan budaya nasional yang memperkaya khazanah Indonesia.(INDONESIAKAYA.COM/***)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Korban PHK Masih Dapat Gaji Selama 6 Bulan, Ini Syaratnya

16 Juni 2026 - 20:36 WIB

KA Pandalungan 2 Relasi Gambir-Jember Mulai 18 Juni, Diskon 30 Persen

15 Juni 2026 - 20:32 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, dan BP Pekan Ketiga Juni 2026, Ini Daftar Lengkapnya

15 Juni 2026 - 20:18 WIB

Kemnaker Buka Pelatihan Kaigo dan Magang di Jepang

14 Juni 2026 - 20:28 WIB

Harga Anjlok, Peternak Ayam Rugi Ratusan Juta

14 Juni 2026 - 19:45 WIB

REI: Kenaikan BI Rate Jadi Pukulan Telak bagi Properti Nonsubsidi

12 Juni 2026 - 19:19 WIB

ESDM Pastikan Harga Pertalite dan Solar Subsidi Tidak Akan Naik

11 Juni 2026 - 19:59 WIB

Harga Pangan Hari Ini, Beras dan Minyak Kompak Naik

11 Juni 2026 - 19:47 WIB

Peternak Telur Sambut Positif Penguatan HAP Rp 26.500 per Kg

10 Juni 2026 - 15:09 WIB

Trending di Nasional