Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, BEIJING— Membakar gulungan obat nyamuk setiap malam ternyata juga membawa dampak yang tidak terlihat bagi si penghuni rumah. Bahkan alternatif mebggunakan listrik pun masih melepaskan bahan kimia ke udara.
Apakah ada cara lain yang sama ampuhnya, tetapi sama sekali tidak meninggalkan apa pun di udara yang kita hirup?
Jawaban yang kini datang dari Tiongkok terdengar seperti adegan film fiksi ilmiah: sebuah perangkat yang melihat nyamuk terbang, mengenalinya, lalu menembakkan sinar laser tepat ke tubuhnya.
Hingga serangga itu jatuh mati seketika, tanpa suara, tanpa asap, tanpa bau, dan tanpa satu butir bahan kimia pun yang dilepaskan ke ruangan.
Perangkat ini dikembangkan oleh Photon Matrix LAB, sebuah perusahaan rintisan berbasis di Tiongkok yang mengumumkan proyek ini secara terbuka.
Kini telah berhasil mengumpulkan dana penggalangan dana masyarakat sebesar US$ 2,7 juta (Rp 43 miliar).
Dana datang dari ribuan pendukung yang menanti solusi yang lebih bersih daripada obat nyamuk yang kita kenal sekarang.
Produksi massal perangkat ini dijadwalkan akan dimulai Agustus 2026, benar ya bulan ini.
Kepak Sayap
Cara kerjanya terbagi menjadi tiga tahap yang berjalan sepenuhnya otomatis: pertama, kamera beresolusi tinggi dan sensor gerak memantau seluruh ruangan untuk setiap benda yang terbang.
Kedua, kecerdasan buatan atau AI menganalisis ukuran tubuh, bentuk, dan yang paling menentukan — frekuensi kepakan sayapnya.
Setiap spesies serangga memiliki pola kepakan sayap yang unik, dan sistem ini dilatih dengan data ribuan sampel untuk membedakan dengan tepat mana yang nyamuk, mana yang lalat, mana yang lebah, dan mana yang sama sekali bukan serangga.
Ketiga — dan hanya jika AI yakin 99 persen lebih itu adalah nyamuk — sistem akan mengunci sasaran dan menembakkan laser berdaya sangat rendah yang memanaskan dan menghancurkan tubuh serangga itu dalam sekejap saat ia masih di udara.
Dibandingkan dengan data konsumsi obat nyamuk di Indonesia yang mencapai Rp 7,8 triliun per tahun — di mana 68 persen rumah tangga masih membakar bahan kimia setiap malam — teknologi ini menawarkan perubahan yang sangat mendasar:
Tidak ada bahan yang dibakar, tidak ada residu yang menempel di dinding atau makanan, tidak ada partikel halus yang terhirup.
Bagi penderita asma, anak-anak, dan lansia yang paling rentan terhadap asap obat nyamuk — ini bisa menjadi terobosan yang mengubah cara kita melindungi diri dari nyamuk.
Amankah?
Namun tepat sebelum teknologi ini masuk ke ribuan rumah, muncul serangkaian pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab — dan layak untuk diajarkan sebelum kita membiarkan mesin menembak di dalam ruang tempat kita tidur:
Pertama, seberapa andal pengenalan sasaran itu? Pengembang mengklaim tingkat keakuratan di atas 98 persen dalam kondisi uji coba terkontrol. Tetapi di ruangan nyata, dengan tirai yang berhembus, rambut yang tertiup kipas, mainan yang jatuh, dan hewan peliharaan yang melompat.
Apakah tingkat keakuratan itu tetap sama? Dan apa yang terjadi jika salah sasaran, meskipun laser dayanya rendah?
Kedua, mata manusia adalah bagian yang paling rentan. Meskipun daya laser ini jauh di bawah batas yang bisa membakar kulit — jika sinar itu terpantul dari cermin, gelas minum, layar ponsel, atau permukaan mengkilap lalu masuk ke mata secara tidak langsung.
Fokus pantulan itu bisa berubah dan menyebabkan kerusakan pada retina yang tidak terasa saat itu juga, tetapi baru diketahui berbulan-bulan kemudian.
Belum ada penelitian jangka panjang mengenai dampak paparan tidak langsung seperti ini.
Rp2,4 Juta -Rp4,8 Juta
Ketiga, harga menjadi penghalang terbesar. Perkiraan harga per unit berkisar antara US$ 150 hingga US$ 300 (Rp 2,4 juta hingga Rp 4,8 juta) untuk satu perangkat yang dirancang untuk satu ruangan.
Sementara obat nyamuk bakar yang dipakai mayoritas rumah tangga harganya hanya Rp 5.000 per pack isi 2 x spiral.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum perangkat ini menjadi terjangkau oleh rumah tangga yang paling membutuhkannya — rumah tangga di daerah endemik demam berdarah yang justru memiliki daya beli paling rendah?
Sampai saat ini, perangkat ini belum menerima sertifikasi keselamatan dari lembaga kesehatan internasional maupun lembaga pengawas standar produk elektronik di sebagian besar negara, termasuk Indonesia.
Artinya — teknologi ini menunjukkan jalan keluar yang sangat menjanjikan dari kebiasaan membakar bahan kimia setiap malam.
Tetapi sebelum kita membiarkan sesuatu yang menembak ke segala arah di ruangan tempat kita tidur — pertanyaan yang paling tepat bukanlah “apakah ini canggih?”, melainkan: “apakah kita sudah cukup yakin bahwa ia hanya akan menembak apa yang seharusnya ditembaknya?”**

















