Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Semburan Lumpur Pekat di Oro-oro Kesongo Blora Bergemuruh Mencapai 20 Meter

badge-check


					Beginilah kondisi semburan lumpur pekat yang sudah terjadi sejak 1978 hingga saat ini yerus terjadi Oro-Oro Kesongo, Desa Tempuran, Kecamatan Kunduran, Blora Jawa Tengah. Foto: ist Perbesar

Beginilah kondisi semburan lumpur pekat yang sudah terjadi sejak 1978 hingga saat ini yerus terjadi Oro-Oro Kesongo, Desa Tempuran, Kecamatan Kunduran, Blora Jawa Tengah. Foto: ist

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, BLORA – Fenomena alam berupa semburan lumpur pekat sejak 1978 hingga saat ini terus terjadi di kawasan Oro-Oro Kesongo, Desa Tempuran, Kecamatan Kunduran, Blora Jawa Tengah.

Namun, semburan yang terjadi pada hari Jumat, 7 Agustua 2026, tinggi lontaran teramati mencapai 8 hingga 20 meter, disertai suara gemuruh yang terdengar jelas dari dalam tanah.

Kondisi ini memancing kekaguman sekaligus kewaspadaan warga sekitar. Peristiwa ini bukanlah fenomena alam yang baru muncul tiba-tiba.

Secara turun-temurun warga sudah mengetahui karakter wilayah ini, namun secara resmi tercatat dan ditetapkan sebagai zona geologi aktif yang dipantau sejak tahun 1978.

Rongga Bawah Tanah

Sejak masa itu mulai terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan gelembung gas dan lumpur, yang dari waktu ke waktu semakin terlihat jelas seiring melebarnya rongga di lapisan bawah tanah.

Sepanjang sejarah pemantauan, aktivitasnya bergerak naik turun: sempat tercatat meningkat pada tahun 1995, kembali cukup kuat pada 2006, lalu pada 2018 semburan pernah mencapai ketinggian sekitar 10 meter.

Awal gejala yang mengarah pada kejadian hari ini mulai terlihat sejak pertengahan Juli 2026.

Warga dan petugas pengamat mulai merasakan suhu tanah yang lebih hangat dari biasanya, jumlah gelembung di sekitar titik aliran makin banyak, dan suara gemuruh samar yang makin sering terdengar.

Puncaknya terjadi Jumat ini, 7 Agustus 2026, di mana letupan berulang kali terjadi dalam sehari, menyemburkan lumpur pekat ke udara dengan ketinggian yang jauh melampaui rata-rata yang biasa terlihat.

 

Menurut keterangan Drs. H. Bambang Prasetyo, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blora, tim gabungan segera diturunkan ke lokasi begitu laporan masuk.

“Kami sudah memantau sejak dini hari. Memang frekuensi dan ketinggian semburan lebih tinggi dari hari-hari biasanya, namun sampai saat ini masih berada dalam karakteristik alami wilayah tersebut. Kami tetap memantau setiap jam guna memastikan tidak ada perubahan yang menyimpang.”

Dorongan Air Hujan

Ir. Suharto, Peneliti Badan Geologi Wilayah Jawa Tengah, menjelaskan alasan terjadi peningkatan ini.

“Secara geologis kawasan ini memiliki akumulasi gas dan air tanah yang terperangkap di bawah lapisan batuan berpori. Curah hujan yang cukup deras dan terus menerus beberapa pekan belakangan menambah beban dan tekanan dari atas, sehingga mendorong cairan di bawah dengan kekuatan yang lebih besar ke permukaan.”

“Ini berbeda sepenuhnya dengan karakter semburan lumpur di daerah lain, mekanismenya murni didorong tekanan fluida alamiah.”

Di tingkat lapangan, Sumarno, Kepala Desa Tempuran, telah mengerahkan aparat desa dan tokoh masyarakat untuk menjaga situasi serta memberikan pemahaman kepada warga.

“Warga sempat panik karena suaranya sangat keras dan tampak dahsyat. Kami sudah pasang batas aman sejauh 50 meter dari titik teraktif, mengimbau agar tidak mendekat, apalagi membawa anak-anak bermain di sana. Orang tua kami dulu sudah berpesan tempat ini memang begini sifatnya: kadang diam berbulan-bulan, kadang aktif kembali.”

Sampai berita ini disusun, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan, lahan pertanian, maupun korban jiwa. Belum juga diterbitkan perintah evakuasi pemukiman. Akses jalan menuju lokasi terdekat dibatasi sementara demi keselamatan.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tetap tenang, namun senantiasa melapor segera jika melihat tanda baru seperti retakan tanah yang memanjang, munculnya mata air di tempat tak biasa, atau perubahan bau yang menyengat.

Fenomena ini mengingatkan kembali bahwa setiap wilayah memiliki karakter alamnya sendiri, dan kewaspadaan bukan berarti kepanikan, melainkan langkah bijak hidup berdampingan dengan potensi kekuatan bumi.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (59): Masyarakat Rahasia Tiongkok

21 September 2026 - 22:40 WIB

Jaksa Tuntut 8 Tahun 6 Bulan, Pendukung Sudewo Ngamuk di PN Tipikor Jakarta

21 September 2026 - 22:16 WIB

Valuta Asing Rp2,8 M Disimpan di Plafon Rumah Madyopura Malang, Jejak Gatot Heroe Pejabat Dirjen Bea Cukai

21 September 2026 - 20:46 WIB

5 Kepsek SDN Tebingtinggi Dicopot, Gegara Tolak Serahkan Revitalisasi Rp2,44 M yang Ditunjuk Diknas

21 September 2026 - 18:04 WIB

PT Annisa Ahmada Diduga Pakai Sistem Ponzi: Rekrut 4.000 Pendaftar Umrah, Taksir Kerugian Rp120 M

21 September 2026 - 10:24 WIB

Pidato KH Hasan Abdullah Sahal: Kami Tidak Cari Muka, Pak Presiden Kami Tetap Pilih Pendidikan

20 September 2026 - 23:36 WIB

Rudal Houthi Sasar Bandara Raja Khaled dan Mengenai Fasilitas Perminyakan Aramco

20 September 2026 - 08:57 WIB

Penelisik Akar Terorisme (58): Pemberontak Chang Hsien-chung Hingga Jejak Perang Salib di Tiongkok

20 September 2026 - 08:30 WIB

100 Tahun Pondok Darussalam Gontor, Presiden Tiga Kali Pekikan Free Palestine! Mau Heboh, Terserah

19 September 2026 - 16:06 WIB

Trending di News