Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Viral Unggahan Yurizal, Meninggal setelah 8 Jam di IGD tak Mendapat Kamar Rawat di RSD IA Moeis

badge-check


					Ucapan duka cita terhadap Yurizal, 48, meninggal dunia seyelaj 8.jam menunggu tidak mendapat rawat. Foto: instgram@akurat.co Perbesar

Ucapan duka cita terhadap Yurizal, 48, meninggal dunia seyelaj 8.jam menunggu tidak mendapat rawat. Foto: [email protected]

Penulis: Mulawarman  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, SAMARINDA– Unggahan pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan, 48 tahun, menjadi viral di akun Threads, pribadinya.

Ia meninggal dunia, setelah delapan jam menunggu di IGD RSD IA Moeis,  ternyat tidak dapat tempat tawap inap.

Mendiang diantara saudara datang ke IGD RSUD Inche Abdoel Moeis Senin, 27 Juli 2026 sekitar pukul 18.15 WITA.

Warga kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Samarinda Utara itu mengeluh sesak napas berat, nyeri ulu hati menjalar ke punggung, kondisi fisik makin melemah.

Karena setelah menunggu 8 jam, tak ada tempat atau kamar, maka pasien dan keluarga meninggalkan rumah sakit.

Total waktu menunggu sebelum dipulangkan: sekitar 8 jam, sejak pukul 18.15 hingga sekitar pukul 02.15 WITA

Namun kemudian pasien itu meninggal dunia, Selasa, 28 Juli 2026 sekitar pukul 03.45 WITA di kediaman keluarga.

Namun sebelum meningal dunia, mendiang masih bisa membuat status utas pasien sendiri dari akun pribadinya di platform Threads saat masih berada di tempat tunggu.

Sudah 8 jam belum dapat ruangan. Enggak mau spill RS-nya, soalnya gue pakai BPJS.”

Kronologi Peristiwa

  • Setelah pengecekan tanda vital awal sekitar pukul 18.22 WITA, keluarga disampaikan seluruh ruang observasi, tempat tidur rawat inap, dan alat pemantauan sudah terisi penuh.
  • Keluarga berkali-kali melaporkan kondisi pasien makin memburuk, namun belum ada giliran pindah ke ruang penanganan lanjut
  •  Sekitar pukul 02.15 WITA keluarga memutuskan membawa pulang karena khawatir kondisi makin kritis
  • Fakta bahwa lokasi yang dimaksud adalah RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda baru terungkap kemudian, setelah warganet menelusuri jejak balasan komentar terhadap unggahan pasien
  • Pihak rumah sakit mencatat pertolongan dasar dan pemantauan berkala sempat diberikan petugas jaga.

Komentar Oknum Petugas

Merespon unggahan si pasien yang mengunggah keluhannya di medsos seperti di atas, sedikitnya ada lima tanggapan dari oknum yang diketahui bertugas di rumah sakit tersebut, yang dinilai tidak berempati, kasar, dan melanggar etika profesi.

Segera setelah identitas keterkaitannya diketahui, manajemen rumah sakit mengambil langkah tegas.

Kelima oknum tersebut diistirahatkan sementara dari tugas pelayanan pasien guna menjalani pemeriksaan kode etik dan aturan kedinasan.

Kutipan komentar

“Yang ngatain bacot”
“Nyuruh pindah ruang jenazah saja sana”
“Nyuruh potong nadi sendiri saja”
“Kamu goblok apa gimana”
“Gak punya sel otak rupanya”

Hujatan dan Ancaman

Respon balik menanggapi keluhan mendiang Yurizal, justru berdampak besar. Bukan cuma adu hijatan di medsos saja, tetapi sudah nyerempet pribasi, ancaman hingga ancaman fisik kepada pengabdi kesehata itu.

– Kemarahan menyebar tidak hanya kepada oknum terkait, melainkan juga menunjuk seluruh tenaga medis dan pimpinan rumah sakit
– Catatan pihak berwenang menunjukkan adanya pesan ancaman ke akun pribadi, nomor kontak, hingga alamat tempat tinggal sejumlah staf
– Sebagian besar pelaku mengirim pesan lewat akun samaran, kepolisian masih menelusuri jejak komunikasi tersebut.

Kutipan Sarkas Warganet

Kalian makan gaji tapi pasien dibiarkan 8 jam sampai meninggal”
“Tunggu saja kami akan cari alamat kalian satu-satu”
“Semua di sana tidak punya rasa kemanusiaan”
“Jangan pikir aman, nama dan pekerjaan kalian akan kami sebar seluasnya”

Pernyataan

Dokter Rizky Ananda Putra, Dokter Jaga Koordinator IGD, menuturkan: “Kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada keluarga almarhum.

“Harapan agar segera ditangani belum terpenuhi sebagaimana mestinya. Padatnya pasien bukan alasan mutlak, kami berjanji perbaiki alur penanganan darurat.”

Dokter Devi Oktaviani, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam:

“Turut berduka sedalam-dalamnya. Pertolongan awal sudah dilakukan, namun pemantauan lanjut belum bisa secepat yang diharapkan. Kami siap diawasi dan diperiksa langkah kerja kami.”

dr. Achmad Fauzi, Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik:

“Atas nama jajaran, kami memohon maaf atas segala ketidaknyamanan dan kehilangan. Keterbatasan ada, namun tanggung jawab melayani tetap mutlak kami emban.”

Jangan Menghakimi

Ns. Hendra Gunawan, S.Kep., Ketua Unit Perawat RSUD Inche Abdoel Moeis mengungkap bahwa kejadian itu

merupakan efek beban kerja berat.

“Kami bekerja melampaui jam kerja setiap hari. Mendapat makian dan ancaman seperti ini terasa sangat berat. Kritik boleh disampaikan, jangan menghakimi kami seolah tidak punya hati nurani.”

Dokter Muhammad Yamin Noor, Ketua Cabang IDI Kota Samarinda secara netral agar kasus ini bisa diselesaiakn srcara adil, dengan tujuan agar pelayanan medis tetap berjalan untk menjaga senua pihak.

“Hak keluarga tahu kebenaran mutlak harus dipenuhi. Menghina, mengancam, menghakimi sebelum hasil pemeriksaan keluar adalah tindakan melampaui batas.”

Dokter H. M. Syafii, M.Hes., Direktur RSUD Inche Abdoel Moeis, menyatakan permohonan maaf atas insiden yang tidak dikehendaki semua ini.

“Kami sangat berduka. Saat itu beban mencapai 130–150 persen daya tampung. Kami akui pelayanan belum sempurna, sedang diperbaiki sambil diverifikasi seluruh catatan kejadian.”

Dr. Iwan Darmawan, M.Kes., Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, langsung merespon dengan menurunkan tim gabungan.

“Tim gabungan turun ke lokasi. Jika terbukti ada kelalaian prosedur, tindakan tegas diambil tanpa pandang bulu.”

H. Akbar Riza, Anggota DPRD Kaltim Komisi V, menyatakan prihatin atas kejadian ini. Menurut dia semua bermuara pada kekurangan tenaga dan fasilitas ruang dan alat pada rumah sakit.

“Ini peringatan keras. Kapasitas rumah sakit sudah lama melampaui batas wajar, penambahan fasilitas harus segera diwujudkan.”**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pidato KH Hasan Abdullah Sahal: Kami Tidak Cari Muka, Pak Presiden Kami Tetap Pilih Pendidikan

20 September 2026 - 23:36 WIB

Rudal Houthi Sasar Bandara Raja Khaled dan Mengenai Fasilitas Perminyakan Aramco

20 September 2026 - 08:57 WIB

Penelisik Akar Terorisme (58): Pemberontak Chang Hsien-chung Hingga Jejak Perang Salib di Tiongkok

20 September 2026 - 08:30 WIB

100 Tahun Pondok Darussalam Gontor, Presiden Tiga Kali Pekikan Free Palestine! Mau Heboh, Terserah

19 September 2026 - 16:06 WIB

Ratusan Orang Tuntut PT Annisa Ahmada Kembalikan Ongkos Umrah: Total Rp57 Miliar

19 September 2026 - 15:13 WIB

Sidang Gratifikasi Rp 1,08 M Dirjen BC Jaka Budi Utama, Faisyal Assegap Ancam Datangkan Massa di PN Tipikor

19 September 2026 - 14:30 WIB

Hilang Saat Liputan Erupsi G. Anak Krakatau: SAR Hentikan Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru

19 September 2026 - 12:30 WIB

Empat Bulan Jalani Hukuman Kasus Rp22 Juta, Hellyana Duduk Kembali ke Singgasana Wagub Babel

19 September 2026 - 11:06 WIB

Harga Emas Antam Jumat Naik Rp25.000 Jadi Rp2,623 Juta per Gram

18 September 2026 - 20:26 WIB

Trending di News