Penulis: Mulawarman | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SAMARINDA– Unggahan pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan, 48 tahun, menjadi viral di akun Threads, pribadinya.
Ia meninggal dunia, setelah delapan jam menunggu di IGD RSD IA Moeis, ternyat tidak dapat tempat tawap inap.
Mendiang diantara saudara datang ke IGD RSUD Inche Abdoel Moeis Senin, 27 Juli 2026 sekitar pukul 18.15 WITA.
Warga kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Samarinda Utara itu mengeluh sesak napas berat, nyeri ulu hati menjalar ke punggung, kondisi fisik makin melemah.
Karena setelah menunggu 8 jam, tak ada tempat atau kamar, maka pasien dan keluarga meninggalkan rumah sakit.
Total waktu menunggu sebelum dipulangkan: sekitar 8 jam, sejak pukul 18.15 hingga sekitar pukul 02.15 WITA
Namun kemudian pasien itu meninggal dunia, Selasa, 28 Juli 2026 sekitar pukul 03.45 WITA di kediaman keluarga.
Namun sebelum meningal dunia, mendiang masih bisa membuat status utas pasien sendiri dari akun pribadinya di platform Threads saat masih berada di tempat tunggu.
“Sudah 8 jam belum dapat ruangan. Enggak mau spill RS-nya, soalnya gue pakai BPJS.”
Kronologi Peristiwa
- Setelah pengecekan tanda vital awal sekitar pukul 18.22 WITA, keluarga disampaikan seluruh ruang observasi, tempat tidur rawat inap, dan alat pemantauan sudah terisi penuh.
- Keluarga berkali-kali melaporkan kondisi pasien makin memburuk, namun belum ada giliran pindah ke ruang penanganan lanjut
- Sekitar pukul 02.15 WITA keluarga memutuskan membawa pulang karena khawatir kondisi makin kritis
- Fakta bahwa lokasi yang dimaksud adalah RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda baru terungkap kemudian, setelah warganet menelusuri jejak balasan komentar terhadap unggahan pasien
- Pihak rumah sakit mencatat pertolongan dasar dan pemantauan berkala sempat diberikan petugas jaga.
Komentar Oknum Petugas
Merespon unggahan si pasien yang mengunggah keluhannya di medsos seperti di atas, sedikitnya ada lima tanggapan dari oknum yang diketahui bertugas di rumah sakit tersebut, yang dinilai tidak berempati, kasar, dan melanggar etika profesi.
Segera setelah identitas keterkaitannya diketahui, manajemen rumah sakit mengambil langkah tegas.
Kelima oknum tersebut diistirahatkan sementara dari tugas pelayanan pasien guna menjalani pemeriksaan kode etik dan aturan kedinasan.
Kutipan komentar
“Yang ngatain bacot”
“Nyuruh pindah ruang jenazah saja sana”
“Nyuruh potong nadi sendiri saja”
“Kamu goblok apa gimana”
“Gak punya sel otak rupanya”
Hujatan dan Ancaman
Respon balik menanggapi keluhan mendiang Yurizal, justru berdampak besar. Bukan cuma adu hijatan di medsos saja, tetapi sudah nyerempet pribasi, ancaman hingga ancaman fisik kepada pengabdi kesehata itu.
– Kemarahan menyebar tidak hanya kepada oknum terkait, melainkan juga menunjuk seluruh tenaga medis dan pimpinan rumah sakit
– Catatan pihak berwenang menunjukkan adanya pesan ancaman ke akun pribadi, nomor kontak, hingga alamat tempat tinggal sejumlah staf
– Sebagian besar pelaku mengirim pesan lewat akun samaran, kepolisian masih menelusuri jejak komunikasi tersebut.
Kutipan Sarkas Warganet
“Kalian makan gaji tapi pasien dibiarkan 8 jam sampai meninggal”
“Tunggu saja kami akan cari alamat kalian satu-satu”
“Semua di sana tidak punya rasa kemanusiaan”
“Jangan pikir aman, nama dan pekerjaan kalian akan kami sebar seluasnya”
Pernyataan
Dokter Rizky Ananda Putra, Dokter Jaga Koordinator IGD, menuturkan: “Kami memohon maaf sebesar-besarnya kepada keluarga almarhum.
“Harapan agar segera ditangani belum terpenuhi sebagaimana mestinya. Padatnya pasien bukan alasan mutlak, kami berjanji perbaiki alur penanganan darurat.”
Dokter Devi Oktaviani, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam:
“Turut berduka sedalam-dalamnya. Pertolongan awal sudah dilakukan, namun pemantauan lanjut belum bisa secepat yang diharapkan. Kami siap diawasi dan diperiksa langkah kerja kami.”
dr. Achmad Fauzi, Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik:
“Atas nama jajaran, kami memohon maaf atas segala ketidaknyamanan dan kehilangan. Keterbatasan ada, namun tanggung jawab melayani tetap mutlak kami emban.”
Jangan Menghakimi
Ns. Hendra Gunawan, S.Kep., Ketua Unit Perawat RSUD Inche Abdoel Moeis mengungkap bahwa kejadian itu
merupakan efek beban kerja berat.
“Kami bekerja melampaui jam kerja setiap hari. Mendapat makian dan ancaman seperti ini terasa sangat berat. Kritik boleh disampaikan, jangan menghakimi kami seolah tidak punya hati nurani.”
Dokter Muhammad Yamin Noor, Ketua Cabang IDI Kota Samarinda secara netral agar kasus ini bisa diselesaiakn srcara adil, dengan tujuan agar pelayanan medis tetap berjalan untk menjaga senua pihak.
“Hak keluarga tahu kebenaran mutlak harus dipenuhi. Menghina, mengancam, menghakimi sebelum hasil pemeriksaan keluar adalah tindakan melampaui batas.”
Dokter H. M. Syafii, M.Hes., Direktur RSUD Inche Abdoel Moeis, menyatakan permohonan maaf atas insiden yang tidak dikehendaki semua ini.
“Kami sangat berduka. Saat itu beban mencapai 130–150 persen daya tampung. Kami akui pelayanan belum sempurna, sedang diperbaiki sambil diverifikasi seluruh catatan kejadian.”
Dr. Iwan Darmawan, M.Kes., Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, langsung merespon dengan menurunkan tim gabungan.
“Tim gabungan turun ke lokasi. Jika terbukti ada kelalaian prosedur, tindakan tegas diambil tanpa pandang bulu.”
H. Akbar Riza, Anggota DPRD Kaltim Komisi V, menyatakan prihatin atas kejadian ini. Menurut dia semua bermuara pada kekurangan tenaga dan fasilitas ruang dan alat pada rumah sakit.
“Ini peringatan keras. Kapasitas rumah sakit sudah lama melampaui batas wajar, penambahan fasilitas harus segera diwujudkan.”**

















