Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM— Kalangan mapan yang bergerak dalam bidang perdagangan budak membuat bisnis ini menarik bagi semua orang.
Seperti ditulis budak lainya, keuntungannya malah jauh melebihi kenyataan atau kejahatan yang pura-pura. “Akan terlihat, seperti semua keuntungan fana, diperhalus oleh paduan yang baik dan jahat.”
Para pedagang Eropa menghasilkan uang, dan bangsa Afrika melarikan diri kepada pekerjaan-pekerjaan yang teratur dan mungkin juga agama Kristen, sementara para penanam kebun kawasan selatan sangat keras mengamankan tenaga kerja untuk menanam tebu, tembakau, kapas serta padi.
Di atas semuanya itu, ekonomi menjadi masalah yang sangat penting sehingga ketika bangsa Indian Amerika yang diperbudak banyak yang mati, tenaga kerja harus diamankan dari mana-mana.
Para narapidana dan pelayan menjadi sangat bermasalah dan kurang produktif dibanding orang-orang kulit hitam, yang dijemur di tengah terik mentari tropis.
Ekonomi politik perbudakan tidak mengangkat para budak dari kebiadaban menuju budaya Kristen.
Banyak dari mereka sebetulnya tidak berasal dari budaya penggembala atau hutan, tetapi dari budaya pertanian, atau bahkan masyarakat perkotaan.
Orang hitam Afrika Barat tidak hidup pada zaman batu (Neolithicum), tetapi sudah bekerja mengolah tembaga dan kaleng, serta menggunakan pacul-pacul besi.
Ketika suku-suku hutan tertentu Afrika masih berada pada tahap peradaban primitif, orang Ashanti dan Dahomey, Fulan dan Yoruba justru sudah memiliki sistem perdagangan dan pemerintahan, pertanian dan pembagian tenaga kerja yang kompleks sebelum mereka bertemu dengan pengaruh Muslim atau Eropa.
Perkosaan yang berkelanjutan atas budak juga memunculkan sikap buas dalam diri tuan-tuan kulit putih mereka yang baru.
Kekerasan dan ketakutan seksual membuat para tuan itu mempraktekkan perbuatan-perbuatan biadab yang tidak manusiawi bahkan hingga ke Kalabar Tua sekalipun.
Sikap itulah yang membawa orang-orang dari hutan dan desa Afrika ke perkebunan-perkebunan Amerika.
Di Yamaika, pada abad ketujuh belas, orang kulit hitam pemberontak dipaku di tanah dan dibakar pelahan hingga mati, bagian demi bagian anggota tubuh hingga kepala. Mereka dikebiri atau dikuliti tuntas. Ataupun tubuh mereka dilukai terbuka kemudian cabe dimasukkan ke dalam luka-luka itu.
Di selatan Amerika Serikat abad sembilan, hukuman mati tanpa pemeriksaan menjadi praktek umum pada masa-masa penuh ketakutan.
Jenazah-jenazah dibakar hidup-hidup ketika mereka bergantung dan menjerit dari pepohonan.
Rasa ngeri yang melanda sang tuan terhadap orang asing serta ketakutannya terhadap munculnya revolusi justru membangkitkan sikap buas dalam dirinya merajalela.
Ia senantiasa berupaya menaklukan sesamanya demi tujuannya sendiri termasuk memperlakukan mereka seperti binatang buas menemukan sikap buas dalam dirinya sendiri. .
Meski demikian, berbagai pemberontakan yang dilancarkan para budak seperti yang dilansir Nat Turner di Amerika tidak mengakhiri sistem yang biadab.
Revolusi orang kulit putih Prancis yang menyebarluaskan pemikiran-pemikiran tentang kemerdekaan dan kesamaan derajat manusia yang melewati benua Eropa, bukan Revolusi Amerika.
Pesan emansipasi diterjemahkan hingga koloni tebu dan kopi San Domingo, yang kini disebut Haiti. Bagian yang kaya dari kekaisaran Perancis itu dikenal sebagai Mutiara Antilles, tertular oleh retorika kaum Jacobin Republik di Paris.
Setengah juta budak dan bangsa Creole melancarkan aksi kerusuhan melawan 40 ribu tuan tanah mereka dimulai di bawah pimpinan Toussaint L’Ouverture. Sebagai tanggapannya, Konvensi menghapus perbudakan diadakan pada 1794 namun dekrit ini dibatalkan.
Hal ini menyebabkan pembantaian masyarakat sipil di Haiti tidak berakhir karena Bangsa Creol yang bebas masih membutuhkan budak kulit hitam untuk mengelola perkebunan-perkebunan. Seperti di Prancis, kaum borjuis pun ingin menguasai para petani dan pekerja. Toussaint L’ Overture ditangkap dan menemui ajalnya di sebuah penjara Swiss.
Pasukan ekspedisi dikirim dari Prancis akhirnya dibantai dalam sebuah perang yang sangat kejam. Haiti lantas memaklumkan kemerdekaan rakyat kulit hitamnya pada 1804.
Tiga tahun kemudian, kaum penginjil Kristen dibawah pimpinan William Wilberforce dalam parlemen di Westminster menghapuskan perdagangan budak. Larangan diperkuat oleh Angkatan Laut Inggris. (Bersambung)

















