Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarga
KREDONEWS.COM, BATANG— Ratusan warga Kabupaten Batang, Jawa Tengah, berbondong-bondong mengantre sejak pagi di sepanjang Jalan Veteran, salah satu ruas jalan utama kota ini, Senin pagi 10 Agustus 2026.
Mereka tidak mengantre membeli sesuatu, melainkan menerima secara cuma-cuma satu ekor ayam hidup yang dibagikan langsung oleh sesama warga yaitu para peternak unggas dari wilayah setempat.
Sebanyak 600 ekor ayam disiapkan dan seluruhnya habis diterima warga sebelum siang hari.
Pembagian ini dilakukan oleh Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Sektor Batang. Yang terlihat memimpin kegiatan sekaligus menyampaikan maksud di balik aksi ini adalah Sugeng, koordinator koperasi yang juga telah berprofesi sebagai peternak selama lebih dari 15 tahun di Kabupaten Batang.
Dia didampingi pengurus dan anggota koperasi lainnya, di antaranya dikenal oleh warga sebagai Mas Joko dan Pak Edi — keduanya juga peternak yang datang dari desa-desa sekitar wilayah Batang.
Tidak ada petugas dari instansi pemerintah yang terlibat dalam pembagian ini — seluruhnya dilakukan oleh peternak sendiri, atas biaya sendiri, dan atas inisiatif sendiri.
“Kami membagikan ayam ini bukan karena kami berlebih, melainkan karena kami ingin masyarakat tahu — bahwa di balik harga daging yang Anda beli di pasar, ada peternak yang setiap hari justru semakin berat memikul beban,” ujar Sugeng di hadapan warga yang mengantre.
Dan angka-angkanya memang berbicara sendiri. Per awal Agustus 2026, harga ayam hidup di tingkat peternak di wilayah Batang dan sekitarnya berkisar Rp 23.000 hingga Rp 24.500 per kilogram.
Sementara di pasar tradisional yang sama, konsumen harus membayar Rp 38.000 hingga Rp 42.000 per kilogram untuk ayam potong.
Jika dihitung per ekor, dengan berat rata-rata 1,7 kilogram, peternak hanya menerima sekitar Rp 39.000 hingga Rp 41.000 untuk satu ekor yang sudah dipelihara selama berbulan-bulan, padahal warga yang membelinya di pasar harus mengeluarkan uang sebesar Rp 65.000 hingga Rp 71.000 per ekor.
Sementara itu, biaya pakan jadi ayam pedaging yang menjadi penopang utama usaha ini kini bertengger di angka Rp 9.300 hingga Rp 9.800 per kilogram — naik sekitar Rp 1.200 hingga Rp 1.500 per kilogram jika dibandingkan tahun lalu.
Untuk menghasilkan satu kilogram daging ayam, dibutuhkan sekitar dua kilogram pakan. Artinya biaya pakan saja per kilogram daging sudah menelan biaya sekitar Rp 18.500 hingga Rp 20.000.
Setelah dikurangi harga bibit, vaksin, listrik, air, dan tenaga kerja — sisa yang diterima peternak untuk kerja kerasnya setiap hari hanya berkisar antara Rp 1.500 hingga Rp 3.000 per kilogram.
Sekali ada kenaikan harga pakan atau penurunan harga beli pasar sebesar seribu rupiah saja — margin itu langsung hilang dan berubah menjadi kerugian.
Ditunjukkan
“Inilah yang sebenarnya ingin kami tunjukkan. Bukan kami yang menaikkan harga di pasar — justru di antara semua pihak yang terlibat, kami yang paling dekat dengan ayam ini justru yang menerima bagian paling kecil,” tambah Bapak Sugeng.
Warga yang menerima ayam pun tidak sekadar pulang membawa satu ekor ternak. Banyak dari mereka yang baru pertama kali memahami bahwa kenaikan harga ayam di pasar tidak serta-merta berarti bertambahnya pendapatan peternak.
Siti, warga Batang Kota yang ikut mengantre, menyampaikan perasaannya.
“Sangat terbantu, jujur saja harga ayam sekarang memang sudah terasa berat di kantong. Tapi setelah mendengar penjelasan Bapak-bapak peternak tadi, saya justru menjadi paham, bukan mereka yang membuat harga naik, justru merekalah yang paling dirugikan. Semoga pemerintah benar-benar mendengar keluhan mereka hari ini.”
Slamet, warga yang kebetulan lewat dan ikut mengantre, menambahkan: “Saya sebenarnya tidak berniat mengambil, tapi setelah mendengar alasannya saya ikut berdiri di sini. Yang membuat saya terharu bukan ayamnya — melainkan cara mereka berbicara.”
Mereka tidak mengutuk, tidak berteriak, mereka justru berbagi apa yang mereka miliki sambil memberi tahu kami:
‘Kami sedang kesulitan, dan inilah yang kami punya.’ Itu jauh lebih menyentuh daripada sekadar protes di jalanan.”
Mengingat pembagian dilakukan di jalur lalu lintas utama, petugas dari Polsek Batang Kota hadir di lokasi untuk menjaga ketertiban dan kelancaran arus kendaraan.
Sampai kegiatan selesai, tidak terjadi gangguan keamanan maupun keributan sedikit pun.
Perwakilan kepolisian yang bertugas di lokasi menyampaikan secara lisan bahwa cara penyampaian aspirasi ini berjalan tertib, santun, dan tidak mengganggu kepentingan umum secara berlebihan. Namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi tertulis dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah terkait aksi tersebut.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Batang maupun jajaran pimpinan Pemkab Batang.
Pihak koperasi menyatakan berharap dalam waktu dekat akan ada pihak pemerintah yang duduk bersama mereka untuk membahas akar persoalan: harga pakan yang tidak stabil, penetapan harga dasar yang melindungi peternak, serta pengawasan terhadap rantai distribusi yang dinilai menyerap sebagian besar nilai jual sehingga yang bekerja langsung memelihara ternak justru menerima bagian paling kecil.
Sebanyak 600 ekor ayam telah habis dibagikan. Namun bagi para peternak yang melakukannya, angka itu bukanlah ukuran seberapa banyak yang mereka berikan, melainkan seberapa banyak peternak kecil yang mulai merasa tidak sanggup lagi bertahan sendirian.**

















