Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Nasional

Indonesia Punya Harta Karun Mineral Kritis Teknologi Global

badge-check


					Tambang Zirkon Perbesar

Tambang Zirkon

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap cadangan zirkon yang melimpah di Indonesia, menyimpan mineral kritis yang dibutuhkan industri teknologi global, mulai dari pesawat tempur hingga baterai kendaraan listrik. Sayangnya, potensi besar industri hilirisasi mineral tersebut belum tergarap optimal.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) BRIN Herry Poernomo mengatakan, pasir zirkon dari delapan wilayah di Indonesia tidak hanya mengandung zirkonium, tetapi juga menyimpan mineral ikutan strategis seperti titanium, unsur tanah jarang ringan (LREE), unsur tanah jarang berat (HREE), hingga uranium dan torium.

“Ini bukan kelemahan, ini adalah kekuatan tersembunyi. Semua unsur ini adalah komoditas kritis yang sangat dibutuhkan industri teknologi tinggi global,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Bisnis, Minggu (24/5/2026).

Herry, hasil riset BRIN menemukan kandungan titanium oksida (TiO₂) tertinggi mencapai 38,58% pada pasir zirkon asal Ketapang. Sementara itu, total oksida tanah jarang ditemukan hingga 11,27% pada sampel zirkon dari Bangka.

Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan Indonesia memiliki fondasi kuat untuk membangun industri pemurnian titanium dan tanah jarang di dalam negeri. Titanium, lanjut Herry, merupakan logam ringan super kuat yang digunakan di industri dirgantara, alat medis, hingga kapal selam.

Adapun unsur tanah jarang saat ini menjadi bahan baku penting untuk magnet permanen pada kendaraan listrik dan turbin angin, sekaligus digunakan dalam berbagai komponen otomotif, pesawat terbang, hingga perangkat komunikasi.

Selama ini, kata Herry, unsur-unsur tersebut masih ikut terbawa dalam ekspor pasir zirkon mentah sehingga nilai tambahnya belum optimal dinikmati di dalam negeri.

“Ke depan, dengan teknologi yang tepat, kita bisa memisahkan dan memurnikan semuanya di dalam negeri. Nilai tambahnya bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat,” tegasnya.

Herry memaparkan, sekitar 54% produk turunan zirkon digunakan untuk industri keramik berkualitas tinggi, seperti lantai, dinding, dan perlengkapan kamar mandi. Selain itu, sekitar 14% digunakan pada industri pengecoran logam, termasuk cetakan sudu turbin jet yang tahan panas hingga 1.650 derajat Celcius.

Kemudian, sebanyak 13% dimanfaatkan untuk bahan tahan api atau refraktori pada tungku peleburan kaca. Adapun sekitar 12% digunakan untuk bahan antiperspiran, penyamakan kulit, tekstil anti air, hingga komponen reaktor nuklir. “Sisanya sekitar 2% digunakan untuk industri amplas dan abrasif,” sebut Herry.

Saat ini, lanjutnya, Indonesia menduduki peringkat keempat hingga kelima sebagai penghasil zirkon terbesar di dunia. Posisi ini bisa menjadi modal awal yang sangat kuat untuk mendorong industri pemurnian.

Namun disayangkan, posisi Indonesia sebagai produsen besar belum cukup tanpa penguasaan teknologi pengolahan mineral secara mandiri. “Sudah saatnya Indonesia melangkah lebih jauh menjadi bangsa yang kuat dengan menguasai teknologi pengolahan sumber daya alamnya sendiri,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman menyampaikan, BRIN saat ini tengah mengembangkan teknologi pengolahan zirkon yang modern, efisien, dan memenuhi standar keselamatan tinggi. Zirkon juga berpotensi dikembangkan menjadi material maju, termasuk untuk teknologi sel surya.

Dia menegaskan hilirisasi zirkon tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian riset nasional dan mengurangi ketergantungan impor. “Kini saatnya Indonesia membangun ekosistem industri mineral yang berdaulat, aman bagi lingkungan, dan berdaya saing global,” pungkasnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Driver Ojol Teriak Pendapatan Tak Naik karena Potongan Aplikator Masih 20%

9 Juli 2026 - 18:45 WIB

Pembongkaran Tembok Mutiara City Berujung Gugatan, Pemkab Paparkan Empat Fakta di PTUN

9 Juli 2026 - 18:22 WIB

Perlawanan/ Eksepsi atas Dugaan Penipuan Rp5 Miliar, Tuding Dakwaan Jaksa Kabur dan Minta Hakim Bebaskan Terdakwa

6 Juli 2026 - 22:43 WIB

Pemprov Jatim Resmi Usulkan 2.100 Formasi CPNS-PPPK Tahun Ini

6 Juli 2026 - 19:00 WIB

Penyebab Harga Ayam dan Telur di Peternak Loyo

6 Juli 2026 - 18:49 WIB

Ojol Minta Potongan Komisi 8% Diperluas ke Layanan Delivery

3 Juli 2026 - 18:44 WIB

Kadin Jatim: Perlu Pembahasan Komprehensif RPMK Tembakau

2 Juli 2026 - 19:55 WIB

Ditemukan Gudang Narkotika di Gresik Sindikat Internasional

2 Juli 2026 - 19:10 WIB

BPOM Temukan 12 Obat Bahan Alam Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat

1 Juli 2026 - 20:04 WIB

Trending di Nasional