Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Nasional

Kriminolog Bicara soal Kematian Diplomat Muda Kementerian Luar Negeri

badge-check


					Penyebab kematiannya masih misteri Perbesar

Penyebab kematiannya masih misteri

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala menyampaikan analisis terkait kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan.

Dalam dialog Sapa Indonesia Pagi, Kompas TV, Jumat (11/7/2025), Adrianus menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan kematian itu bukan akibat pembunuhan.

“Saya kira begitu ya. Saya kira juga dalam kerangka untuk membuat tenang warga ya, maka skenario pembunuhan itu lebih membuat keluarga tenang,” kata dia.

“Tapi kan ternyata tidak ada. Tidak terlihat bahwa ada orang masuk, ada orang keluar, demikian juga misalnya terkunci dari dalam,” ujarnya.

Berdasarkan hal-hal tersebut, menurutnya dugaan adanya pembunuhan dalam kasus kematian itu terpaksa diabaikan, dan mulai menyelidiki kemungkinan skenario lain.

Adrianus menduga lakban yang melilit bagian kepala yang bersangkutan sengaja digunakan untuk menutup jalan nafas. “Memang yang menjadi menarik adalah soal lakban itu.”

“Menurut saya, untuk sementara berpendapat bahwa lakban itu digunakan oleh almarhum untuk menutupi jalan nafasnya, sehingga yang bersangkutan tersedak dan kemudian lalu mati kehabisan nafas, tidak terisi paru-parunya dengan oksigen,” ucapnya.

Meski demikian, kata dia, menggunakan lakban untuk menutup jalan nafas merupakan hal yang janggal.

“Janggal. Apalagi upaya menutupi jalan nafas itu kemudian dilakukan itu saja, artinya tidak ada bantuan hal yang lain,” ucapnya.

“Saya menduga dibantu dengan obat-obatan, misalnya obat yang membuat yang bersangkutan tertidur, lalu kemudian jalan nafasnya terhenti dan terjadilah yang bersangkutan berhenti nafas dan meninggal.”

Ia juga menjawab pertanyaan mengenai peluang terjadinya pembunuhan dalam peristiwa itu. Menurutnya, pihak kepolisian biasanya memeriksa lingkungan sekitar tempat kejadian perkara.

Dalam hal ini adalah CCTV, kunci, hingga jendela, apakah ada yang kerusakan pada tempat-tempat tersebut.

“Setelah selesai baru masuk ke yang lain, misalnya melihat apakah ada sidik jari yang tertinggal, apakah kemudian bisa diangkat dengan DNAnya.”

Selanjutnya, kata dia, barulah dilakukan pemeriksaan autopsi.

Dalam kasus kematian itu, Adrianus menduga bahwa polisi sudah memeriksa semua yang ada di sekitar TKP, dalam hal ini kamar korban.

“Kesan saya, pemeriksaan terhadap lingkungan sudah dilakukan. Melihat CCTV, melihat kunci, jendela, semuanya oke,” kata dia.

Bahkan, ia juga menduga polisi telah melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampah yang sempat dibuang oleh yang bersangkutan.

“Begitu juga mungkin obat-obatan yang katanya ada di sekitar korban, juga pasti sudah diambil oleh polisi dalam rangka pemeriksaan. Barulah kemudian dilakukan autopsi,” ucapnya.

Sebelumnya Kompas.TV memberitakan, Arya Daru Pangayunan ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya yang ada di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025) lalu.

Menurut keterangan kerabat korban, Iyarman Waruwu, Arya di kosannya sendiri, dengan kondisi kos yang ditempatinya merupakan kos campuran.

“Di kosannya sendiri. Ini (kos) campur,” tutur Iyarwan pada awak media di Jakpus, Selasa.

Menurut keterangan Iyarwan, pihak keluarga mendapat kabar kematian Arya pada Selasa pagi.

“Pagi ini kami mendapatkan berita duka cita bahwa kerabat kami, Arya Daru Pangayunan, itu yang merupakan pegawai dari Kementerian Luar Negeri, ditemukan pada pagi hari ini dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dalam kamar kosannya,” kata dia.

Iyarman mengungkapkan, ia mendapat informasi dari penjaga kos bahwa ketika ditemukan, kepala korban dililit lakban.

“Tapi saya belum bisa memastikan lakbannya jenis apa, yang jelas itu warna kuning lakbannya, dan kemudian dalam posisi tidur telentang, kakinya ketekuk dan berada di bawah selimut,” tuturnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Driver Ojol Teriak Pendapatan Tak Naik karena Potongan Aplikator Masih 20%

9 Juli 2026 - 18:45 WIB

Pembongkaran Tembok Mutiara City Berujung Gugatan, Pemkab Paparkan Empat Fakta di PTUN

9 Juli 2026 - 18:22 WIB

Perlawanan/ Eksepsi atas Dugaan Penipuan Rp5 Miliar, Tuding Dakwaan Jaksa Kabur dan Minta Hakim Bebaskan Terdakwa

6 Juli 2026 - 22:43 WIB

Pemprov Jatim Resmi Usulkan 2.100 Formasi CPNS-PPPK Tahun Ini

6 Juli 2026 - 19:00 WIB

Penyebab Harga Ayam dan Telur di Peternak Loyo

6 Juli 2026 - 18:49 WIB

Ojol Minta Potongan Komisi 8% Diperluas ke Layanan Delivery

3 Juli 2026 - 18:44 WIB

Kadin Jatim: Perlu Pembahasan Komprehensif RPMK Tembakau

2 Juli 2026 - 19:55 WIB

Ditemukan Gudang Narkotika di Gresik Sindikat Internasional

2 Juli 2026 - 19:10 WIB

BPOM Temukan 12 Obat Bahan Alam Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat

1 Juli 2026 - 20:04 WIB

Trending di Nasional