Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

RI Posisi ke-4 Kemiskinan Tertinggi Versi Bank Dunia, di Bawah Timor Leste

badge-check


					Angka kemiskinan turun, kesenjangan melebar/Shutterstock Perbesar

Angka kemiskinan turun, kesenjangan melebar/Shutterstock

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Indonesia mencatatkan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income countries) lainnya.

Berdasarkan laporan Macro Poverty Outlook edisi April 2026 dari Bank Dunia, sebesar 64,2% penduduk Indonesia pada 2026 diproyeksikan hidup di bawah garis kemiskinan USD 8,30 per kapita per hari berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 2021.

Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ke-4 tertinggi dari 11 negara di kawasan ASEAN dan kelompok negara berkembang (peers) yang menjadi pembanding. Tingkat kemiskinan Indonesia tercatat berada di bawah Timor-Leste (71,7%), India (70,7%), dan Laos (68,6%).

Tingginya angka kemiskinan versi Bank Dunia disebabkan oleh perbedaan acuan batas pengeluaran harian. Bank Dunia mengklasifikasikan garis kemiskinan berdasarkan status pendapatan negara: Kemiskinan Ekstrem (USD 2,15 PPP/hari): Digunakan untuk negara berpendapatan rendah. Di Indonesia, angka ini telah berhasil ditekan hingga di bawah 1%.

Lower-Middle Income (USD 3,65 PPP/hari): Standar untuk negara berkembang kelas bawah, di mana angka kemiskinan Indonesia berada di kisaran 16–19%.

Upper-Middle Income (USD 8,30 PPP/hari): Standar yang berlaku setelah Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas. Angka USD 8,30 PPP setara dengan pengeluaran sekitar Rp35.000–Rp40.000 per orang per hari.

Sebaliknya, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) dengan acuan Garis Kemiskinan sekitar Rp580.000–Rp600.000 per kapita per bulan (sekitar Rp19.000–Rp20.000 per hari). Perbedaan metode ini menjelaskan mengapa tingkat kemiskinan versi BPS berada di kisaran single digit (sekitar 8,5%–9%), sementara versi Bank Dunia mencapai 64,2%.

Tinggi proporsi penduduk di bawah batas USD 8,30 PPP mengindikasikan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia berada pada kelompok aspiring middle class (menuju kelas menengah) dan kelompok rentan. Mereka tidak tergolong miskin secara ekstrem, tetapi sangat rawan jatuh miskin jika terjadi guncangan ekonomi seperti inflasi bahan pangan, PHK, atau biaya kesehatan mendadak.

Meski tantangan struktur ekonomi masih besar, Bank Dunia memproyeksikan tingkat kemiskinan Indonesia terus melandai secara konsisten dalam tiga tahun ke depan.

Penurunan bertahap ini didorong oleh stabilitas makroekonomi, perluasan cakupan perlindungan sosial (bansos), serta pemulihan penyerapan tenaga kerja pascapandemi.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Gandrung Sewu 2026 Dongkrak Okupansi Hotel Banyuwangi

25 Oktober 2026 - 20:18 WIB

Diskon Tiket Pesawat-Kereta Api Ditebar Saat Nataru, Segini Besarannya

25 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu, Pelemahan Berlanjut Empat Hari Berturut-turut

23 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Prabowo Targetkan Kredit Rp400 Triliun untuk 28 Juta Keluarga pada 2027

23 Oktober 2026 - 19:17 WIB

IHSG Hari Ini: Naik 3 Hari Beruntun, Terbaik Asia

22 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Harga Cabai Rawit Terbang Jadi Rp150.000 per Kg

21 Oktober 2026 - 19:32 WIB

DP 0% Rumah dan Kendaraan Lanjut 2027

21 Oktober 2026 - 19:13 WIB

Pemerintah Tanggung 100% PPN Tiket Pesawat Libur Nataru

21 Oktober 2026 - 19:01 WIB

ESDM Akui Ada Antrean BBM di Jatim, Target Tuntas Maksimal 2 Hari

20 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Trending di Nasional