Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (51): Kebengisan Klan Bhowani dan Phansigar

badge-check


					Ilustrasi. Foto: Ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: Ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |   Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM— Para pembunuh itu bersenjatakan rumal, atau saputangan, yang mereka ikat mengelilingi pinggang mereka.

Bila ada pelancong lain muncul sebelum jenazah korban dimakamkan, maka gang itu berpura-pura meratapinya, seolah korban merupakan satu dari jumlah mereka yang meninggal dunia.

Mereka pun kerapkali harus mengadakan pesta atau berkemah di atas makam korban mereka guna menghancurkan jejak penggalian tanah baru.

Jenazah korban dipotong-potong sehingga tidak bisa diidentifikasi termasuk agar bisa memuaskan tuntutan ritual pemujaan.

Kaki-kakinya dipisahkan, wajahnya dirusak serta tubuhnya dirobek-robek kemudian dimusnahkan guna “mempercepat pembusukannya serta mencegah pembengkakkannya,” karena serigala mungkin mencium lalu menggali jenazah yang tengah hancur.

Setiap kelompok Phansigars memiliki ritus penyembelian khusus untuk diikuti bagi orang yang meninggal.

Sekte itu memuja Kali atau Bhowani, dewi Maut Hindu. Sebelum ekspedisi yang diwarnai aksi perampokan diadakan, seekor domba dipersembahkan di depan patung dewi, sebuah figur mirip vampir berkulit hitam, beroleskan darah kental kering.

Di sampingnya terletak patung kadal, ular serta emblem pembunuh—berupay simpulan tali, pisau, beliung, yang menjadi alat-alat suci yang diharapkan otomatis terbang ke tangan penggunanya.

Bunga-bunga ditaburkan sekitarnya. Buah, kue dan alkohol dipersembahkan kepada sang dewi.

“Kepala domba dipenggal putus, ditaruh dengan lampu bernyala di atasnya dengan kaki depan berada di dalam mulut…di depan patung… Sang dewi pun diminta memperlihatkan kepada mereka apakah dia menyetujui ekspedisi yang tengah mereka meditasikan.

Persetujuannya diharapkan terungkap. Karena itu, getaran-getaran atau gerakan-gerakan kejang tertentu dalam mulut dan lubang hidung patung harus diamati selama doa, sembari sejumlah cairan dituangkan dalam bagian-bagian tubuh patung itu.

Tradisi relijius sekte itu meyakini bahwa pada masa kejayaan mitologi, Kali membantu pengikutnya dengan memakan jenazah orang-orang mati para korban mereka.

Bagaimanapun, pada suatu kesempatan seorang penjahat yang baru bergabung menoleh ke belakang dan menyaksikan sang dewi kedapatan sedang memakan sebuah jenazah.

Sebagai hukuman atas tindakan ini sang dewi menolak untuk terus menelan masuk bukti itu. Namun dia senang para pengikutnya sangat baik menyajikan jenazah dengan satu dari giginya sebagai penganti beliung, sebuah rusuk sebagai pengganti pisau dan baju sarinya sebagai pengganti simpulan tali.

Dia memerintah pengikutnya pada masa mendatang agar memotong dan menguburkan mangsa mereka termasuk juga memberitahu agar mereka sebaiknya menyukai warna-warna kuning dan putih, bahkan dalam tali-temali simpulan mereka.

Sebagaimana umumnya terjadi dalam masyarakat rahasia yang paling efisien, kaum Phansigars memiliki perbendaharaan tanda-tanda dan bahasa rahasia.

Tanda-tanda tertentu di jalan memperlihatkan bahwa seorang korban sudah disiapkan dan menunjukkan jalan yang ditempuh oleh pemandu.

Menarik punggung tangan sepanjang dagu, dari leher keluar, mengingatkan agar berhati-hati. Bahwa beberapa orang asing tengah mendekat.

Menempatkan tangan terbuka di atas mulut kemudian menariknya pelahan ke bawah berarti tidak lama lagi ada masalah sehingga perlu berhati-hati.

Ungkapan, “Bersihkan tempat itu,” berarti “Lihat bahwa tidak ada orang berada dekat tempat itu.” “Bawalah kayu api” berarti “Ambil posisimu.” “Makanlah kenari” berarti “Bunuhlah dia” “Jagalah merang padi,” berarti “Jagalah jenazah, kuburkan dan tetaplah waspada.”

“Keturunan Bhowani?” berarti “Apakah anda juga kaum Phansigars?” Perkawinan silang membantu mempertahankan kerahasiaan kultus ini.

Keluarga-keluarga India di desa-desa mereka sangat terlindung demi mereka sendiri. Para wanita Phansigars pun sadar bahwa terbongkarnya rahasia para pria berarti kehancuran mereka semua.

Inisiasi dalam orde dilakukan berdasarkan kelahiran, meski beberapa anak laki-laki yang ditangkap juga diinisiasi. Anak laki-laki berusia 10 tahun atau lebih diijinkan menemani kelompok-kelompok pembunuh, dengan seorang keluarga dekat sebagai pemimbing.

Pemimbing memaksa si anak untuk benar-benar patuh sembari membawa bungkusan dan makanannya. Secara pelahan, dia pun mengajarkan anak itu memahami misteri Kali dan benar-benar diam kepada para orang asing.

“Dia diperintahkan untuk menganggap kepentingannya sebagai bertentangan dengan masyarakat secara umum dan mencabut hidup seseorang, direpresentasikan sebagai tindakan yang sekedar analog dan sama dengan pembunuhan seorang penjahat atau domba.”

Pada awalnya, anak-anak itu hanya diijinkan untuk mengamati pembunuhan dari jarak jauh. Tetapi mereka pun akan segera mengambil bagian dalam operasi sebagai pemandu.

Akhirnya setelah usia pubertas, mereka pun menjadi pembunuh. Kadangkala, para pembunuh muda itu menggunakan tali tumbuhan dan obat-obat lain yang berperan memperkuat diri guna melakukan penyerangan, tetapi, nyaris semua kaum Phansigar lebih tua tidak menggunakan obat-obatan ketika mencekik para korban. (Bersambung)

 

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (55): Kisah Pembantaian 100 Pria dan 5 Wanita Pelancong

9 September 2026 - 19:53 WIB

5 Jurnalis dan 2 Kru Kapal Belum Ditemukan, Hilang Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau Sejak 7 September 2026

9 September 2026 - 19:22 WIB

Dapur Utama dan Ruang Gizi RSUD Saiful Anwar Terbakar, Tidak Menyentuh Gedung Perawatan Kesehatan

9 September 2026 - 17:43 WIB

Air Laut Surut dan Gempa Mag 3,8 Terjadi di Sekitar Gunung Anak Krakatau, BMKG: Tenang Bukan Tsunami

9 September 2026 - 16:59 WIB

Tidak Masuk Akal Gelombang Keracunan Terus Terjadi: 300 Lebih Siswa SMP dan MTs Pati Diangkut ke Rumah Sakit

9 September 2026 - 16:14 WIB

Truk Tangki Air Angkut 1,5 Juta Batang Rokok Putih, Bea Cukai: Kerugian Negara Rp1,5 Miliar

9 September 2026 - 11:09 WIB

Elektabilitas Gerindra Naik 14.4 Persen, Rahmat Muhajirin: Bukti Program Presiden Prabowo Diterima Masyarakat

9 September 2026 - 09:30 WIB

Keterlaluan Tiga Kali SMAN 1 Tunjungan Blora Keracunan, Wabup Perintahkan SPPG Sukorejo 2 Tutup Permanen

9 September 2026 - 08:24 WIB

Mendahului Neuralink, RRT Izinkan Implan Cip NEO untuk Pulihkan Penderita Lumpuh

8 September 2026 - 06:57 WIB

Trending di News