Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Membuka dan Menutup Muktamar ke 35, Presiden Prabowo Terima KTA NU dari KH Miftachul Akhyar

badge-check


					Presiden Prabowo menunjulkkan kartu tanda anggota (KTA) dari Rais Aam KH Mitachyul Akhyar sebelum penutupan Nuktamar ke 35 di Jombang, Senin 32 Agustus 2026. Foto: ist Perbesar

Presiden Prabowo menunjulkkan kartu tanda anggota (KTA) dari Rais Aam KH Mitachyul Akhyar sebelum penutupan Nuktamar ke 35 di Jombang, Senin 32 Agustus 2026. Foto: ist

Penulis: Arief H. Soesatyo  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOMBANG— Pada acara penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Senin 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, terjadi momen penuh makna penyerahan Kartu Tanda Anggota (KTA) NU secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Kartu keanggotaan resmi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu diserahkan langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

Turut mendampingi dan menyertai penyerahan adalah Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031 KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Penyerahan ini bukan sekadar serah terima benda plastik bernomor. Di tangan Presiden RI, KTA itu menjadi simbol bahwa di luar jabatannya sebagai Kepala Negara, Prabowo Subianto kini tercatat sah sebagai anggota Nahdlatul Ulama — bagian dari keluarga besar ratusan juta warga NU di seluruh penjuru negeri.

Sebuah ikatan keanggotaan yang menempatkannya sejajar dengan rakyat, di samping kedudukannya sebagai pemimpin pemerintahan.

Momen berlangsung khidmat di pelataran pesantren tempat NU lahir. Di hadapan ribuan peserta, kiai, santri, dan pejabat kabinet, pertemuan Rais Aam, Ketua Umum terpilih, Ketua Panitia Muktamar, serta Presiden RI melengkapi satu rangkaian sejarah.

Presiden pertama hadir dari awal hingga akhir muktamar, dan kini resmi menjadi bagian organisasi yang dijaganya selama ini.

Di halaman luas Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, tempat di mana Nahdlatul Ulama lahir dari pelukan Mbah KH Abdul Wahab Chasbullah, sejarah kembali tercatat pagi ini.

Kehadirannya menutup rangkaian Muktamar ke-35 NU sekaligus membukukan babak baru dalam hubungan pucuk pimpinan negara dengan umat beragama: untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang Presiden RI hadir langsung sejak pembukaan pada 27 Agustus lalu hingga penutupan hari ini.

Empat hari penuh, dari gunting pita pertama hingga penyerahan mandat terakhir, kehadirannya tak putus. Sebuah tanda penghormatan yang tak sekadar seremonial — hadir, mendengar, memahami, dan hadir kembali.

Dalam rombongan pagi itu turut mendampingi Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, hingga Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Barisan kabinet lengkap hadir di tanah kelahiran NU, menegaskan bahwa apa yang diputuskan di sini bukan urusan ulama semata, melainkan urusan seluruh bangsa yang berjalan beriringan.

Di hadapan ribuan peserta, kiai, santri, dan warga Jombang yang memadati pelataran pesantren, Presiden tak hanya menutup acara.

Ia turut menyampaikan ucapan selamat resmi kepada jajaran pimpinan baru — Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU — yang baru saja keluar dari bilik musyawarah AHWA kemarin. Sebuah jabat tangan negara kepada kepemimpinan umat yang baru sahih.

“Kehadiran Presiden dari awal hingga akhir muktamar adalah bentuk penghormatan tertinggi pemerintah terhadap peran historis dan jasa-jasa Nahdlatul Ulama dalam mengawal perjalanan kemerdekaan hingga pembangunan bangsa,” demikian ditegaskan.

Bukan dukungan bersyarat, bukan pula campur tangan.

Melainkan pengakuan bahwa selama lebih dari satu abad, NU berdiri tegak menjadi tiang penyangga keberagaman dan persatuan yang tak pernah goyah.

Muktamar ke-35 bertema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa” kini resmi berakhir.

Kepemimpinan baru terpilih, arah kebijakan ditetapkan, janji-janji dikumandangkan. Namun satu hal yang paling diingat pagi ini bukan sekadar nama-nama baru yang duduk di kursi pimpinan, melainkan pesan yang dituliskan kehadiran seorang Presiden dari hari pertama hingga hari terakhir: Negara hadir bersama umat, dan umat hadir bersama negara — saling menguatkan, bukan saling mendahului.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pemkab Jombang Gelar Upacara Sumpah Pemuda, Ini Daftar Penghargaan Pemuda Berptestasi

28 Oktober 2026 - 16:57 WIB

Truk Angkut 14 Sapi Tabrak Dua Truk, hingga Terguling di Perak Jombang

28 Oktober 2026 - 15:38 WIB

Kinerja Disdikbud 2026, Wor Windari: Rerata Lama Sekolah di Jombang 9,15 Tahun Lampaui Program Nasional

28 Oktober 2026 - 12:31 WIB

Meriahkan Operasi Patuh Semeru 2026 Satlantas Polres Gresik Bagikan Cokelat

28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Pemkab Gresik Lakukan Seleksi Sertifikasi BNSP Pelaku Kuliner

28 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Terjaring Operasi Patuh di Lumajang, Pelajar Nekat Terobos Hingga Menabrak Jatuh Wanita Polantas

27 Oktober 2026 - 18:54 WIB

Jombang Terjadi Hujan Cukup Deras , Wiko Diaz: Ini Hujan Rekayasa Pemprov Jatim untuk Atasi Karhutla

27 Oktober 2026 - 18:28 WIB

Perempuan Mati Mendadak Dalam Posisi Tertidur

27 Oktober 2026 - 15:52 WIB

Kasus Pembunuh Istri Siri dan Anaknya, Polisi Ringkus Dwi Bagus Sembunyi di Desa Mejoyolosari, Gudo Jombang

27 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Trending di News