Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM— Perusahaan East India Company, dengan dukungan negara Inggris, terlampau lama mengoperasikan kerajaan dagang di anak benua Asia.
Meskipun demikian, setelah Napolean dan Prancis kalah, perusahaan dagang itu hanya ditentang oleh sejumlah masyarakat serta kelompok pemuja rahasia. Yang paling menarik dari semua ini adalah Kaum Penjahat (The Thug).
Setelah Lord Mornington mencaplok Seringapatam pada 1799, kerajaan Mysore dan beberapa kerajaan tetangganya di selatan India berada di bawah pengawasan Inggris.
Para prajurit dan administrator Inggris yang tersebar di mana-mana mulai melihat adanya kelompok-kelompok pencekik yang menyatroni jalan-jalan India selatan selama perjalanan musim dingin.
Upaya itu memungkinkan sekitar 100 orang pembunuh itu ditangkap dekat Bangolre. Mereka juga nampaknya beroperasi di utara. Pada 1810, jenazah tiga puluh pelancong, secara ritual disebarkan, ditemukan dalam sumur-sumur di antara Gangga dan Jumma.
Para pelancong memang kerapkali terbunuh di sejumlah bagian anak benua luas itu. Pihak berwewenang tidak berdaya ketika banyak kelompok perampok mengintip orang-orang desa dan kota yang terlampau bodoh untuk berjalan keluar dari kawasan mereka sendiri.
Tidak perlu dibuktikan bahwa pembunuhan-pebunuhan itu saling berhubungan satu sama lain hingga Richard Sherwood, seorang ahli bedah di Fort St George di Madras berusaha menemukan para informan di kalangan para pembunuh ritual yang meneror jalanan India.
Kisahnya seputar sekte itu akhirnya membawanya melakukan investigasi dan penindasan atas kelompok-kelompok itu. Dia memberikan judul artikelnya, “Tentang Para Pembunuh Bernama Phansigar.”
Kaum Phansigar atau pencekik, dengan demikian berasal dari kata bahasa Hindustan, Phansi, hidung. Di bagian-bagian paling utara India, para pembunuh ini disebut penjahat (thugs), berarti para pembohong.
Sekte itu kerapkali dilindungi oleh para penguasa lokal yang berbagi jarahan yang dijarah dari para pelancong yang terbunuh sementara para anggotanya hidup sebagai para petani biasa.
Para pembunuh itu tidak pernah menyerang warga Eropa, karena takut tuntutan ganti rugi. Mereka beroperasi sejauh seratus mil dari rumah mereka melawan sesama pelancong di jalanan.
Kaum Phansingar tidak pernah merampok tanpa diikudi dengan pembunuhan. Untuk melaksanakan aksi, mereka pertama-tama mencekik kemudian menembak korban mereka.
Prinsip mereka, tidak boleh membiarkan seorang korban melarikan diri dari peristiwa itu, betapapun banyaknya yang mereka bunuh, sehingga tidak ada saksi mata atas kekejaman mereka.
Satu-satunya pengecualian yang diakui atas aturan ini adalah dalam kasus anak-anak laki yang masih sangat lemah, yang dikecualikan kemudian diangkat sebagai anak oleh kaum Phansigar dan ketika mencapai usia yang dipersyaratkan, diinisiasi di dalam misteri-misteri mereka yang mengerikan.
Mereka beroperasi dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari sepuluh hingga lima puluh pria. Para anggota umumnya kaum Muslim, namun mempunyai penganut Hindu di antara mereka serta memuja para dewa Hindu.
Inteligensi mereka memang luar biasa unggul. Mereka mengirim lebih dulu para pemandu untuk meneliti serta mendapatkan kepercayaan dari para pelancong kaya.
Kemudian, para anggota utama kaum Phansingar bergabung dengan rekan perjalanan mereka sebagai orang asing. Pemandu ditempatkan di depan kelompok pelancong dan di belakang korban atau korbannya, bila orang-orang itu berusaha melarikan diri.
Dua anggota Phansingar dianggap sangat penting agar pembunuhan seseorang dapat dilakukan. Umumnya tiga orang terlibat…. Ketika bepergian, salah satu Pharingars mendadak melilitkan kain pada leher orang yang hendak mereka bunuh dan menahan ujungnya, sementara ujung lainnya dipegang anteknya.
Kain yang menyilang di belakang leher kemudian ditarik turun dengan erat. Kedua Pharingars kemudian menekan kepala korban ke depan.
Pada waktu bersamaan, antek ketiga bersiap di belakang sang pelancong, menekan kakinya kemudian menjatuhkannya ke depan hingga jatuh ke tanah.
Dalam situasi ini, dia bisa melakukan sedikit perlawanan. Orang yang memegang kaki penderita malang itu kini menendangi bagian-bagian tubuh korban yang sangat peka kemudian segera membuangnya. (Bersambung)

















