Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Rayakan Agustusan dan Sambut Muktamar NU, PNIB Baksos 81.000 L Air Bersih ke Gunung Kidul

badge-check


					PNIB setiap tahun melakukan bakti sosial berupa bantuan pasokan air bersih ke kawasan Gunung Kidul, DIY. Foto: ist Perbesar

PNIB setiap tahun melakukan bakti sosial berupa bantuan pasokan air bersih ke kawasan Gunung Kidul, DIY. Foto: ist

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, YOGYA-– Organisasi kebangsaan lintas agama, suku, budaya dan tradisi Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) kembali menggelar bakti sosial (baksos) penyaluran 81.000 liter air bersih.

Didistribusikan melalui 16 truk tanki bagi warga yang terdampak kekeringan di wilayah Kalidadap Selopamioro Imogiri (atas) Bantul dan di Gubar, Gumbeng, Sumur, Kalurahan, Giripurwo, Kapanewon, Purwosari Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatan PNIB bakti sosial air bersih tersebut dilakukan bersama Komunitas KNS Keluarga Nusantara Sejati dan BEM PTNU Yogyakarta, sebagai bagian dari rangkaian memperingati 81 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus menyambut pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35.

Bagi PNIB, momentum kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai melalui upacara, pengibaran bendera, maupun seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan kehadiran nyata di tengah persoalan kekeringa  yang dihadapi masyarakat.

Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, mengatakan bahwa persoalan kekeringan dan krisis air bersih di Imogiri Bantul Gunung Kidul, Bojonegoro, Lamongan dan daerah lainya merupakan persoalan yang terus berulang setiap musim kemarau.

Kondisi tersebut, menurut Gus Wal, semestinya tidak lagi dipandang sebagai persoalan yang datang secara tiba-tiba, karena siklus kekeringan di sejumlah wilayah telah dapat diprediksi setiap tahun.

“Apa arti kemerdekaan jika setiap musim kemarau masyarakat masih harus berjuang mendapatkan air bersih? Kekeringan di Gunung Kidul, Bantul, Bojonegoro, Lamongan dan sejumlah daerah lainnya bukan persoalan baru.”

“Ini terjadi berulang kali setiap tahun ketika musim kemarau tiba, tetapi solusi jangka panjangnya belum terlihat secara serius,” ujar Gus Wal.

PNIB menilai pemerintah pusat maupun kementerian terkait, khususnya Kementerian Sosial dan Kementerian Pekerjaan Umum, perlu melakukan evaluasi terhadap pola penanganan kekeringan selama ini.

Bantuan air bersih ketika kekeringan terjadi memang penting, namun tidak seharusnya berhenti pada distribusi bantuan setiap musim kemarau.

Menurut Gus Wal, pemerintah perlu membangun solusi yang lebih permanen dan berkelanjutan, seperti penguatan infrastruktur penyediaan air bersih, pembangunan dan optimalisasi sumber air, embung, jaringan perpipaan, serta sistem distribusi air yang mampu menjangkau wilayah-wilayah rawan kekeringan.

“Air adalah kebutuhan dasar manusia. Bukan hanya untuk minum dan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk pertanian, perkebunan dan peternakan. Ketika air tidak tersedia, maka kehidupan dan perekonomian masyarakat ikut terganggu,” tegasnya.

Ia menambahkan, negara tidak boleh hanya hadir ketika masyarakat sudah mengalami krisis.

Pemerintah harus mampu membaca persoalan berdasarkan pola bencana yang berulang dan melakukan mitigasi sebelum dampaknya semakin luas.

“Kalau musibah kekeringan yang datang setiap tahun saja pemerintah masih terkesan abai dan minim solusi permanen, lantas bagaimana jika menghadapi musibah atau bencana alam yang datang secara mendadak dan skalanya lebih besar? Negara harus memiliki kesiapsiagaan dan sistem penanganan bencana yang kuat,” kata Gus Wal.

PNIB mendorong pemerintah pusat bersama pemerintah daerah untuk menjadikan persoalan air bersih sebagai agenda prioritas pembangunan, terutama di wilayah yang secara geografis dan historis menjadi daerah rawan kekeringan. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Penutupan Jombang Fest, Bupati Warsubi Bagikan Penghargaan Juara dan Santunan untuk Yatim Piatu

16 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Bupati Warsubi dan Danrem 082 Tinjau Operasi 8 Gerai KDKMP di Mojoagung dan Mojowarno

16 Oktober 2026 - 15:21 WIB

Tibatiba Angin Berbalik Arah, Empat Relawan Tewas Terbakar Saat Padamkan Kebakaran Hutan Bromo

16 Oktober 2026 - 14:15 WIB

OTT ke 23 KPK Ringkus Bupati Klaten, Wajar Ismoyo: Warga Masyarakat Saya Mohon Maaf

16 Oktober 2026 - 10:57 WIB

Terlibat Kasus OTT ATR/BTN Bogor, Hercules Serahkan Rp800 Juta kepada KPK

16 Oktober 2026 - 07:10 WIB

Lantik Empat Wamen Baru, Kabinet Prabowo 112 Orang tapi Kabinet Dwikora Bung Karno Sebanyak132 Orang

15 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Hakim Fitrizal Lahirkan Yurisprudensi Baru: Yogi Mentawai Divonis Bersalah, tetapi Dimaafkan

15 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Menelisik Akar Terorisme (69): Kekaisaran yang Tidak Terlihat

15 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Nekad Gadaikan Motor Teman, Pria Dukuhklopo Diringkus Polisi

15 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Trending di News