Penulis: Gandhi Wasono M | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, MANGGARAI-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) pada tanggal 15 Agustus 2026 telah menetapkan status tanggap darurat diperpanjang dari 30 Agustus hingga 12 September 2026.
Semula tanggap darurat bencana gempa bumi di wilayah Provinsi NTT dilaksanakan selama empat belas hari terhitung mulai tanggal 15-28 Agustus 2026.
Respon Direktur RSKKA Dr Agus
Menanggapi perpanjangan tanggap gawat darurat itu, Direktur Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) Dr. Agus Harianto, SpB, mengakui RSKKA terlambat datang, karena keterbatasan dana.
“Bahkan membeli solar untuk satu kali perjalanan ke Labuhan Bajo saja pada waktu itu tidak sanggup,” ujarnya sambil tersenyum.
Tetapi, kata pria brewok itu, karena kekuatan empati dan dukungan dari banyak pihak, maka RSKKA pada akhirnya bisa masuk ke Dampek, episentrum gempa bumi NTT tanggal 21 Agustus 2026.
Lahirkan RSLK Dampek
Mengingat RSKKA tidak membawa dokter spesialis lengkap, sekali lagi karena keterbatasan dana, maka RSKKA berinisiatif membangun kolaborasi bersama lembaga-lembaga kemanusian, organisasi-organisasi profesi, rumah sakit- rumah sakit, dll yang hadir ke Dampek.
Hasilnya terbentuklah Rumah Sakit Lapangan Kolaborasi (RSLK) Dampek.
“RS lapangan ini pada masa tanggap darurat dini fokus pada penanganan trauma fisik seperti patah tulang dan luka-luka lainnya,” ujar Agus.

Hasri korban Gempa NTT sedang berlatih berjalan setelah menjalani operasi penyambungan tulang oleh dokter bedah RSKKA. Foto: ist
Sebelum RSKKA datang, Dr. Melinda, dokter umum Puskesmas Dampek yang viral itu menyatakan, “Banyak orang mati konyol disini, karena seharusnya dirujuk tetapi mereka tidak mau dirujuk.”
Rupa-rupanya dari pengakuan pasien yang menjalani operasi di RSKKA, alasan mereka tidak mau dirujuk ke RSUD Borong Manggarai Timur, karena pertimbangan jarak.
RSU Borong ada di pantai selatan, sementara Dampek berada di pantai utara.
Dibutuhkan waktu sekitar lima sampai enam jam perjalanan dari Dampek menuju Borong.
Alasan lainnya karena mereka tidak memiliki biaya untuk transportasi dan biaya hidup selama tinggal di Borong.
Kehadiran RSKKA rupanya bisa menjawab problem itu. Banyak pasien yang sebelumnya menolak dirujuk, akhirnya mau menjalani operasi di kamar operasi RSKKA yang berlabuh di Teluk Nangga Lirang, di kampung mereka.
Seperti Hasri, 38 tahun warga Dusun Ranapandang, Desa Satar Kampas Kecamatan Lambaleda Utara Kabupaten Manggarai Timur, dia mengalami patah tulang paha kaki kiri karena
tertimpa reruntuhan tembok.
Saat dokter bedah melakukan visite pasca operasi, dia bercerita menolak dirujuk karena jauhnya perjalanan yang harus ditempuh.
Pasien ini bersyukur karena operasinya bisa dilakukan di kampungnya.
“Saya tidak menyangka, ternyata saya bisa dioperasi di kapal phinisi yang berlabuh di pantai di desa kami,” katanya dengan mata berbinar
Hingga tanggal 29 Agustus 2026, sebagian besar korban bencana gempa bumi yang mengalami patah tulang dan luka-luka sudah mendapatkan pelayanan yang memadai termasuk pelayanan operasi di RSKKA.
Kemudian Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur tanggal 30 Agustus 2026 mengumumkan perpanjangan status tanggap darurat bencana gempa hinggal tanggal 12 September 2026.
Bagaimana RSKKA menyikapinya? RSKKA menjadi motor utama dalam pendirian RS Lapangan Kolaborasi Dampek, merasa perlu untuk menjaga semangat dan team working seluruh kolaborator RS Lapangan dalam memberikan pelayanan yang terbaik pasca bencana.
Selain itu, ternyata banyak masyarakat di Dampek dan sekitarnya yang meminta pelayanan operasi di RSKKA.
“Banyak orang bertanya apakah RSKKA masih ada di Dampek?” ungkap Herlina, Kepala Puskesmas Dampek sembari menyampaikan harapan masyarakat agar RSKKA memperpanjang masa pelayanannya.
RSKKA yang mengusung tema Heal the wounds and restore humanity with love dalam misi kebencanaan ini, merasa belum berbuat banyak dalam upaya merestorasi kemanusian korban bencana gempa.
“Kami merasa belum banyak berbuat dalam aspek trauma healing,” ujar Agus.
“Untuk itu seluruh pengurus Yayasan Ksatria Medika Airlangga yang membawahi RSKKA, sepakat dalam memutuskan melanjutkan pelayanannya dengan mengirimkan psikiater atau psikolog dan dokter spesialis sesuai kebutuhan masyarakat Dampek dan sekitarnya,” tambahnya.
Agus juga mengakui bahwa RSKKA bukanlah sebuah organisasi dengan pendanaan kuat, tetapi seperti batch pertama, dia yakin Tuhan akan memberikan kecukupan dana. Bukan melihat dulu baru percaya, tetapi percaya dulu baru melihat,
katanya.
“Pendeknya kami ingin korban bencana gempa dan tenaga kesehatan di Dampek tidak merasa sendirian. Mereka masih punya sahabat yang bernama Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga,” pungkas Agus.**
















