Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Petani Plandaan Jombang Siaga Tinggi Menghadapi Serangan Bakteri Kresek

badge-check


					Contoh padi sawah yang terifeksi organisme pengganggu tanaman OPT) bakteri Xanthomanas Oryzae (Penyakit kresek). Foto: istimewa Perbesar

Contoh padi sawah yang terifeksi organisme pengganggu tanaman OPT) bakteri Xanthomanas Oryzae (Penyakit kresek). Foto: istimewa

Penulis: Elok Apriyanto  |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOMBANG–  Petani padi di Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kini berada dalam status siaga tinggi.

Penyakit hawar daun bakteri (HDB) atau kresek yang disebabkan bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae dilaporkan mulai menyerang areal persawahan pada musim tanam (MT) padi MP1 2026.

Xanthomonas oryzae pv. oryzae dikenal secara lokal di Indonesia sebagai bakteri penyebab Hawar Daun Bakteri (HDB) atau Kresek pada tanaman padi.

  • Hawar Daun Bakteri (HDB): Istilah ilmiah dan umum digunakan di kalangan petani serta peneliti pertanian Indonesia untuk penyakit yang ditimbulkan bakteri ini.

  • Kresek: Nama daerah populer, terutama di Jawa, merujuk pada suara “kresek-kresek” yang dihasilkan saat daun padi terserang parah digoyang.

Penyakit ini menyerang daun padi, menyebabkan lesi berair yang mengering, dan dapat menurunkan hasil panen hingga 50% di lahan sawah yang tergenang. Istilah-istilah ini sering muncul dalam panduan dari Kementerian Pertanian dan Balai Penelitian Pertanian Indonesia.

Heri Santoso, petani padi asal Plandaan, mengungkapkan serangan penyakit kresek mulai terlihat jelas di lahan sawah miliknya.

“Kami menyadari pemupukan nitrogen yang terlalu tinggi membuat tanaman menjadi rentan. Selain itu, jarak tanam yang terlalu rapat juga mempercepat penyebaran penyakit,” ujarnya, Minggu (1/2/2026).

Ia mengaku, kondisi tersebut membuat petani khawatir akan penurunan produktivitas padi.

“Ya tentu khawatir produksi turun. Harapan kami ada gerakan penyemprotan massal supaya penyebaran penyakit kresek tidak semakin meluas,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Plandaan, Yus Ardi Baskoro, membenarkan adanya serangan penyakit kresek di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, luas serangan penyakit kresek di Plandaan mencapai 25–30 persen dari total luas pertanaman padi sekitar 2.174,73 hektare.

“Serangan mayoritas ditemukan pada tanaman padi varietas galur atau benih tidak bersertifikat yang masih banyak digunakan petani setempat,” jelas Yus Ardi.

Menurutnya, kondisi cuaca mendung dan lembab dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama berkembangnya bakteri penyebab kresek.

Selain itu, faktor kesalahan teknis budidaya, seperti pola pemupukan yang tidak seimbang dan pengaturan jarak tanam, turut memperparah tingkat serangan.

Serangan penyakit kresek yang terjadi pada fase vegetatif hingga menjelang panen, terutama saat menyerang daun bendera, dinilai sangat kritis. Daun bendera memiliki peran penting dalam proses fotosintesis dan pengisian bulir padi. “Kalau daun bendera terserang, produksi dipastikan turun,” tegasnya.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) bersama PPL telah melakukan penyuluhan intensif kepada petani terkait upaya pencegahan dan pengendalian penyakit kresek di Jombang.

“Fokus kami pada edukasi pencegahan, termasuk mendorong penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap penyakit kresek,” jelas.

Ia menambahkan, meskipun Dinas Pertanian kerap memberikan bantuan obat, namun cakupannya masih terbatas. “Bantuan biasanya tidak bisa menjangkau 100 persen lahan petani yang tanamannya terserang,” pungkasnya. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Unras di Grahadi Berujung Ricuh Malam Ini

26 Juni 2026 - 20:04 WIB

Bapanas Usul Bansos Telur dan Daging Ayam Disalurkan Lagi Imbas Harga Anjlok

26 Juni 2026 - 19:37 WIB

Pria Berkaca Mata dan Bermasker Abu-abu Pegang Setir Terekam CCTV Juanda, Tewasnya Wanita ASN Bangkalan

26 Juni 2026 - 14:58 WIB

Kasatreskrim dan Delapan Kapolsek Jajaran Polres Jombang Resmi Berganti

26 Juni 2026 - 13:46 WIB

Menelisik Akar Terorisme (26): Rahasia Kaum Freemanson

26 Juni 2026 - 12:26 WIB

Taubat Bersama di Ponpes Shiddiqiyyah, Kiai Tar: Koruptor Itu Hidup dari Mayat dan Darah Saudaranya

26 Juni 2026 - 11:25 WIB

Kemenperin Panggil PT Pakerin Buntut Kabar PHK Massal 2.500 Buruh

25 Juni 2026 - 20:29 WIB

CNG Jadi Pengganti LPG 3 Kg, Mulai Diproduksi Juli

25 Juni 2026 - 20:09 WIB

Pemerintah Sepakat Tetapkan Maksimal 40 Tahun Tenor KPR untuk MBR

25 Juni 2026 - 19:45 WIB

Trending di Nasional