Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Dari Bojonegoro untuk Dunia: Bonggol Pisang sebagai Kandidat Obat Alam

badge-check


					Dua siswa Bojonegora Perbesar

Dua siswa Bojonegora

Penulis: Wibisono | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Sebuah terobosan pemanfaatan limbah bonggol pisang menjadi bahan kesehatan alternatif dilakukan oleh dua siswa SMP Negeri 1 Purwosari, Bojonegoro, Alvin Putra Pratama dan M. Ridwan Firdaus dengan penelitian berjudul “The Invisible Killer: Bio-Skrining Sitotoksisitas Musa paradisiaca sebagai Kandidat Agen Kemopreventif Alami”.

Dalam keterangan tertulis, Selasa (5/5/2026), secara inovatif, Alvin dan Ridwan tidak hanya berhenti pada pemanfaatan bahan, tetapi juga menguji secara ilmiah kandungan aktif di dalamnya.

Bonggol pisang diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol untuk menarik senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Senyawa-senyawa ini dikenal memiliki aktivitas antioksidan tinggi serta efek sitotoksik yang mampu menghambat pertumbuhan sel abnormal.

Keunggulan inovasi ini terletak pada pendekatan bio-skrining yang sederhana namun terukur. Para peneliti muda ini menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), yakni pengujian terhadap larva udang Artemia salina untuk mengetahui tingkat toksisitas ekstrak.

Dalam metode ini, ekstrak bonggol pisang diuji dalam beberapa konsentrasi untuk melihat tingkat kematian larva sebagai indikator potensi sitotoksisitas. Semakin kecil nilai LC50 (konsentrasi yang mematikan 50 persen organisme uji), maka semakin besar potensi bahan tersebut sebagai kandidat agen antikanker.

Tidak hanya aspek kesehatan, inovasi “The Invisible Killer” juga memiliki nilai keberlanjutan lingkungan. Pemanfaatan bonggol pisang sebagai bahan utama merupakan bentuk upcycling limbah organik menjadi produk bernilai guna. Dengan demikian, inovasi ini memberikan dua manfaat sekaligus, yakni solusi kesehatan berbasis bahan alami serta upaya pengurangan limbah pertanian di masyarakat.

Melalui inovasi ini, Alvin dan Ridwan berharap, bonggol pisang yang selama ini dianggap “tak terlihat” dapat menjadi solusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menghadirkan alternatif pencegahan penyakit yang lebih terjangkau. Inovasi ini juga diharapkan, dapat menjadi pijakan awal bagi penelitian lanjutan dalam pengembangan obat berbasis bahan alam Indonesia.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS: Cabai Rawit Tembus Lebih dari Rp100 ribu Per Kilogram

24 September 2026 - 19:59 WIB

Pengusaha Kapal Akui Tak Semua Operator Berani Angkut Kendaraan Listrik

24 September 2026 - 19:48 WIB

Sekolah Negeri Bakal Digratiskan, Mendikdasmen: Dimulai dari TK hingga Kuliah

23 September 2026 - 20:43 WIB

Warga RI Usia 17 Tahun Bakal Dapat Rp 50 Ribu, Pemerintah Siapkan Rp 3,8 T

23 September 2026 - 19:59 WIB

Pastikan Sesuai Spek, LSM Seven Gab Bersama Dinas PU Sidoarjo Pantau Proyek Jalan Bluru

23 September 2026 - 10:27 WIB

PHK Massal Bayangi Industri Keramik Jatim Imbas Pasokan Gas Terbatas

22 September 2026 - 20:36 WIB

Pemprov Jatim Amankan 411 Aset Idle dari Ancaman Mafia Tanah

22 September 2026 - 20:07 WIB

Arahan Prabowo, Bahlil Godok Strategi Konversi Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:12 WIB

Beras di Ritel Modern Kosong Imbas Fortifikasi Disetop, Mentan Buka Suara

21 September 2026 - 19:02 WIB

Trending di Nasional