Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (44): Eropa Rancang Perbudakan Manusia

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM— Mekanisme sosial Eropa memang dirancang untuk menjatuhkan pandangan manusia atas manusia lain.

Mekanisme itu dimulai dari buku akuntasi hingga desain ruang antardek kapal perbudakaan, mulai dari tawar-menawar gila-gilaan bersama Raja Bonny hingga pelelangan di Charleston.

Para budak Protestan tidak dibaptis seperti dilakukan bangsa Portugis. Kini, tidak ada misi lagi di Afrika. Hanya uang yang hendak dibuat.

Anak buah kapal-kapal budak kulit putih menjadi sampah dok-dok kapal, karena mereka mungkin mati akibat penyakit dalam tempat-tempat jorok berbau karena bakal dibiarkan tanpa uang sepeser pun termasuk dibiarkan sakit di India Barat.

Mereka sendiri sebetulnya merupakan pelayan sebuah sistem yang hanya memperhitungkan pekerjaan manusia dalam buku-buku besar. Basis ekonomi perbudakan merusak semua yang disentuhnya.

Hanya beberapa ribu budak yang berhasil dibebaskan dengan uang di sejumlah kota Eropa dan di perkebunan-perkebunan di Amerika.

Karena bagaimanapun, perbudakaan di Afrika bukanlah suatu proses penumpukan modal. Tidak ada metode lokal untuk melakukan hal ini.

Di antara kaum Ashanti misalnya, jumlah budak yang dimiliki seseorang merepresentasikan tempatnya dalam masyarakat, bukan kekayaannya.

Para budak dengan demikian diijinkan memiliki barang pribadi mereka sehingga budak bekerja keras memperkaya dirinya sendiri, bukan saja memperkaya tuannya.

Dr Johnson dengan keras mengecam masalah ini dalam pengantar sebuah koleksi perjalanan penemuannya dengan mengatakan: “Bangsa Eropa sangat jarang mengunjungi pantai namun memuaskan sifat tamak mereka serta semakin memperbesar kerusakannya; menuntut dominasi tanpa hak dan melakukan kekejaman tanpa perasaan sama sekali.”

Dalam sistem Eropa, perampokan ekonomi berkaitan dengan pelayanan seseorang.

Segera setelah budak dianggap sekedar unit produksi, maka berbagai argumen seputar pengembalian modal pun diperhitungkan sungguh-sungguh di Yamaika, jika budak yang dipekerjakan cepat mati dan pengiriman budak baru belum bisa diterima.

Pembelinya akan mendapatkan keuntungan yang berbeda jika para budak bekerja hingga mati pelahan sehingga bisa mendapat pengganti mereka sendiri.

Perlakuan manusia bagai bintang menyebabkan perhitungan menjadi jauh lebih sederhana dalam istilah-istilah investasi. Namun, Afrika bukanlah utopia, ketika bangsa Eropa mencapai pantai-pantai itu.

Kalabar Lama di Niger Delta, misalnya, sangat pesat majunya sebagai pusat perbudakan. Masyarakat lokal Efik dan bangsa Ibibos sangat benci terhadap suku-suku pantai lain.

Mereka bersikap ragu terhadap manusia. Harapan supaya mati membuat mereka menjadi sangat mengerikan bagi bangsa Afrika Barat lainnya.

Masyarakat rahasia mereka yang tengah berkuasa bernama Egbo atau Leopard, mendera dan melakukan pembunuhan guna menjaga ketertiban.

Para pengikut mereka bisa muncul dengan pedang dan cambuk bersembunyi di balik topi ala setan dengan rambut yang dibuat dari tali panjang.

Pada waktu pemakaman para raja, para permaisuri mereka dijerat mati. Para pengikut mereka dipenggal kepalanya atau dibakar hidup-hidup.

Jurnal tentang perdagangan budak mendeskripsikan kematian pemimpin kota setempat dengan kata-kata ini, “Dengan demikian, kami pun harus siap untuk memenggal kepala. Pada pukul lima pagi hari, kami memenggal kepala para budak, lima puluh kepala pada hari itu…dan ada sandiwara di setiap halaman di kota itu.”

Dengan sikap jijik terhadap kehidupan dominan di Kalabar Lama ini, para kaptain perbudakan dapat saja merasa kasihan termasuk ingin memperjualbelikan oang-orang malang itu. Seelah semuanya usai, mereka pun lantas membawa pergi kaum kulit hitam itu.

Penginjil dan penjelajah Mary Kingsley dengan getir menyebut upaya itu sebagai, “pembunuhan yang terus-menerus, pembunuhan, pembunuhan, pembunuhan” terhadap Afrika Barat. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

100 Tahun Pondok Darussalam Gontor, Presiden Tiga Kali Pekikan Free Palestine! Mau Heboh, Terserah

19 September 2026 - 16:06 WIB

Ratusan Orang Tuntut PT Annisa Ahmada Kembalikan Ongkos Umrah: Total Rp57 Miliar

19 September 2026 - 15:13 WIB

Sidang Gratifikasi Rp 1,08 M Dirjen BC Jaka Budi Utama, Faisyal Assegap Ancam Datangkan Massa di PN Tipikor

19 September 2026 - 14:30 WIB

Hilang Saat Liputan Erupsi G. Anak Krakatau: SAR Hentikan Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru

19 September 2026 - 12:30 WIB

Empat Bulan Jalani Hukuman Kasus Rp22 Juta, Hellyana Duduk Kembali ke Singgasana Wagub Babel

19 September 2026 - 11:06 WIB

Harga Emas Antam Jumat Naik Rp25.000 Jadi Rp2,623 Juta per Gram

18 September 2026 - 20:26 WIB

Dudung Abdurrahman: Jargas Sudah Siap 100 %, Gresik Bangun 7.363 Sambungan Rumah

18 September 2026 - 19:42 WIB

Polisi OTT 28 Kepala Sekolah Banyuasin Berdalih Bimtek di Hotel Palembang, Barang Bukti Rp30 Juta Lebih

18 September 2026 - 18:21 WIB

Kemenhaj Bekukan Izin PT Annisa Ahmada Travelindo, Telantarkan 200 Jamaah Jombang

18 September 2026 - 06:38 WIB

Trending di News