Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Jensen Huang Merevolusi Komputasi dari SaaS Jadi GaaS: Operasi Meningkat 500 Kali Lipat

badge-check


					Jensen Huang, CEO Nividia yang melakukan revolusi teknologi komputer hingga efisies 500 kali lipat. Foto: bloomberg Perbesar

Jensen Huang, CEO Nividia yang melakukan revolusi teknologi komputer hingga efisies 500 kali lipat. Foto: bloomberg

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, CALIFORNIA— Selama lebih dari dua dekade, komputer model utama layanan berbasis awan adalah SaaS – Software as a Service.

Artinya anda membayar untuk memakai program atau aplikasi tertentu yang sudah disiapkan penyedia layanan, berjalan di atas perangkat keras mereka. Contohnya layanan surat elektronik, akuntansi, atau kolaborasi kerja.

Dalam paparan resmi Jensen Huang, CEO NVIDIA, pertengahan 2026, ia menyatakan bahwa era ini bergeser menuju GaaS – GPU as a Service / Grid as a Service.

Intinya, yang disediakan dan diperdagangkan bukan lagi “aplikasi yang sudah jadi”, melainkan kekuatan pemrosesan, kemampuan kecerdasan buatan, dan jaringan komputasi terpadu itu sendiri.

Pengguna bisa memesan seberapa besar tenaga yang dibutuhkan, menggunakannya untuk kebutuhan apapun, lalu mengembalikannya—tanpa harus membeli, memasang, maupun merawat perangkat canggih itu sendiri.

NVIDIA meletakkan arsitektur Vera Rubin beserta produk RTX Spark dan CPU Vera sebagai landasan utama pergeseran ini, dengan perkiraan harga akses per unit di Indonesia mulai dari kisaran Rp4.000.000 tergantung tingkat kemampuan yang dipilih.

Mengubah Business Komputasi

1. Perpindahan pusat nilai: Dulu keuntungan ada pada siapa yang membuat program yang bagus. Kini keunggulan berpindah kepada siapa yang memiliki dan mampu menyediakan daya hitung yang paling besar, paling cepat, dan terhubung rapi.

2. Komputasi menjadi layanan dasar layaknya listrik: Seperti halnya kita tidak perlu membangun pembangkit listrik sendiri, cukup pasang meteran dan pakai seperlunya—begitu juga dengan tenaga komputasi tingkat tinggi. Baik perusahaan besar, peneliti, pengembang, hingga usaha kecil kini bisa mengakses kemampuan setara pusat data raksasa hanya dengan berlangganan.

3. Menjawab lonjakan kebutuhan: Perkembangan AI generatif, simulasi nyata, rekayasa obat, peramalan iklim, hingga komputasi kuantum menuntut kemampuan yang tidak sanggup dipenuhi model lama. GaaS memungkinkan beban kerja yang dulunya butuh berbulan-bulan penyiapan, kini bisa disiapkan dalam hitungan menit.

4. Perubahan peta persaingan: Penyedia awan, produsen perangkat keras, hingga pengembang aplikasi kini harus menyusun ulang cara bekerjanya. Bukan lagi sekadar menyewakan ruang penyimpanan atau program, melainkan menyatukan perangkat keras, perangkat lunak, dan kecerdasan buatan menjadi satu aliran daya yang terus mengalir sesuai kebutuhan.

5. Dampak bagi pengguna: Biaya investasi awal turun sangat jauh, namun tuntutan terhadap kualitas jaringan kecepatan internet dan keamanan data meningkat tajam.

Perbandingan Nyata

Supaya terlihat jelas perubahannya, berikut hitungan nyata jika seseorang mengubah cara kerja dari membeli alat sendiri menjadi menggunakan layanan GaaS ini:

Investasi: Rp15.000.000 untuk satu komputer kelas tinggi di rumah atau kantor

Spesifikasi yang didapat: Prosesor kelas atas, memori 32GB, kartu grafis menengah, penyimpanan 2TB
Masa pakai: Sekitar 3–4 tahun sebelum mulai tertinggal zaman
Kemampuan nyata:

– Mengedit video resolusi penuh: 1 jam rekaman selesai 3–4 jam
– Melatih model AI sederhana: 1 minggu harus menyala terus menerus
– Simulasi perhitungan rumit: butuh 2 hari sampai selesai
– Bisa dipakai maksimal 1–2 orang sekaligus
– Biaya tambahan selanjutnya: listrik, pendingin, perawatan, perbaikan, pembaruan dalam 4 tahun ke depan: sekitar Rp4.000.000
– Total pengeluaran selama 4 tahun: sekitar Rp19.000.000
– Saat mau dijual kembali: nilainya tersisa hanya sekitar Rp2.000.000 saja

Pindah ke GaaS

Dengan anggaran yang sama persis Rp15.000.000 yang tadinya untuk beli alat:

– Kekuatan hitung: Bukan 1 kali, melainkan setara 300 sampai 500 kali lipat lebih besar
– Kecepatan edit video: 1 jam rekaman yang tadinya 3–4 jam, kini selesai hanya 3–6 menit
– Melatih model AI: Yang tadinya 1 minggu, kini tuntas dalam 15–30 menit
– Simulasi perhitungan: Yang tadinya 2 hari, kini selesai kurang dari 10 menit
– Jumlah pemakai: Bukan 1–2 orang, melainkan bisa untuk 50–100 orang sekaligus
– Biaya tambahan: Nol rupiah, listrik, tempat, perawatan dan pembaruan teknologi sudah termasuk semuanya
– Masa manfaat: Tidak usang, setiap hari otomatis mendapatkan teknologi terbaru tanpa bayar tambahan
– Nilai sisa: Tidak ada alat yang rusak, berhenti pakai berhenti membayar

Jika pekerjaan Anda butuh kemampuan setara 50 buah komputer kelas tinggi sekaligus:

– Kalau harus beli: 50 × Rp15.000.000 = Rp750.000.000 belum termasuk tempat dan listrik
– Kalau pakai GaaS: cukup sewa seperlunya, misal dipakai 8 jam sehari: sekitar Rp4.000.000 per bulan, atau setahun Rp48.000.000 saja. Saat selesai pekerjaan, sewanya bisa diturunkan atau dihentikan.

Inti Perubahan

Kita sedang beralih dari zaman: “Saya membeli benda, lalu berharap benda itu cukup kuat untuk pekerjaan saya”

Menuju zaman: “Saya memesan tenaga yang pas untuk pekerjaan itu, tenaga yang jauh lebih hebat daripada yang bisa saya beli, dan saya hanya membayar saat benar-benar membutuhkannya.”

Ini adalah dasar dari apa yang disebutnya Komputasi 0,1: fleksibel, merata, dan menyatu dengan segala bidang kehidupan.

Bukan lagi sekadar tukar barang lama dengan barang baru, melainkan mengubah sepenuhnya cara manusia memperoleh dan memakai kekuatan teknologi baru. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

100 Tahun Pondok Darussalam Gontor, Presiden Tiga Kali Pekikan Free Palestine! Mau Heboh, Terserah

19 September 2026 - 16:06 WIB

Ratusan Orang Tuntut PT Annisa Ahmada Kembalikan Ongkos Umrah: Total Rp57 Miliar

19 September 2026 - 15:13 WIB

Sidang Gratifikasi Rp 1,08 M Dirjen BC Jaka Budi Utama, Faisyal Assegap Ancam Datangkan Massa di PN Tipikor

19 September 2026 - 14:30 WIB

Hilang Saat Liputan Erupsi G. Anak Krakatau: SAR Hentikan Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru

19 September 2026 - 12:30 WIB

Empat Bulan Jalani Hukuman Kasus Rp22 Juta, Hellyana Duduk Kembali ke Singgasana Wagub Babel

19 September 2026 - 11:06 WIB

Harga Emas Antam Jumat Naik Rp25.000 Jadi Rp2,623 Juta per Gram

18 September 2026 - 20:26 WIB

Dudung Abdurrahman: Jargas Sudah Siap 100 %, Gresik Bangun 7.363 Sambungan Rumah

18 September 2026 - 19:42 WIB

Polisi OTT 28 Kepala Sekolah Banyuasin Berdalih Bimtek di Hotel Palembang, Barang Bukti Rp30 Juta Lebih

18 September 2026 - 18:21 WIB

Kemenhaj Bekukan Izin PT Annisa Ahmada Travelindo, Telantarkan 200 Jamaah Jombang

18 September 2026 - 06:38 WIB

Trending di News