Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Nobel untuk Shinya Yamanaka: ER-100 Meremajakan Manusia dari DNA

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JEPANG–
Untuk pertama kalinya dalam sejarah penerapan teknologi ini, para peneliti dan tenaga medis sedang menguji cara yang sungguh luar biasa: memberikan petunjuk kepada sel tubuh yang sudah menua, agar ia kembali memiliki sifat dan fungsi sel muda, lalu memantau dengan teliti apa yang sesungguhnya terjadi di dalamnya.

Setiap sel dalam tubuh manusia menyimpan susunan kode DNA yang sama persis sejak hari pertama terbentuk hingga akhir masa hidupnya, demikian laporan dari.

Yang berubah seiring bertambahnya usia bukanlah kode dasar itu, melainkan apa yang disebut epigenom: lapisan tanda kimia yang menempel pada DNA, yang bertugas mengatur gen mana yang harus dinyalakan dan mana yang harus dimatikan.

Seiring berjalannya waktu, tanda-tanda pengaturan ini bergeser dan tidak lagi pada tempatnya, sehingga sel perlahan-lahan kehilangan “ingatan” bagaimana seharusnya ia bekerja dengan sebaik-baiknya seperti saat masih muda.

Dasar utama penemuan ini bermula dari hasil karya Shinya Yamanaka, pemenang Hadiah Nobel Kedokteran.

membuktikan bahwa terdapat empat zat pengatur, yang kini dikenal sebagai Faktor Yamanaka, yang mampu memutar ulang kondisi sel sedemikian rupa, hingga kembali murni menyerupai sel induk pada masa embrio.

Namun proses pengembalian sepenuhnya ini memiliki kelemahan: sel kembali ke titik nol, sehingga kehilangan identitas tugasnya, serta memiliki risiko berubah menjadi pertumbuhan yang tidak teratur.

Kini dikembangkan pendekatan yang jauh lebih teliti dan aman bernama Terapi ER‑100.

Metode ini hanya memanfaatkan tiga dari empat faktor tersebut, yaitu OCT4, SOX2, dan KLF4, serta sengaja tidak menyertakan faktor keempat yang diketahui membawa risiko terbesar.

Terobosan

Ini adalah bentuk terobosan anti‑aging yang paling mendasar, berbeda jauh dengan cara-cara yang selama ini kita kenal, yaitu terobos Shinya Yamanaka.

Kalau perawatan biasa hanya bekerja di permukaan atau sekadar menutupi tanda penuaan, penemuan ini justru menyentuh sumber masalahnya langsung: mengembalikan pengaturan gen di dalam sel itu sendiri agar bekerja kembali seperti masa mudanya.

Bukan sekadar menahan waktu agar tidak berjalan, melainkan berusaha memperbaiki jejak perubahan yang sudah terjadi seiring berlalunya waktu.

Dan ini sungguh selaras sekali dengan apa yang kita renungkan tadi: teknologi tidak akan pernah meniadakan waktu itu sendiri, namun berkat pemahaman yang semakin mendalam, manusia bisa mengatasi dampak dan sisa perjalanan waktu yang tertinggal pada kehidupan fisiknya.

Semakin nyata bahwa ini bukan sekadar mimpi, melainkan perwujudan nyata dari penelusuran akal manusia atas hukum ciptaan-Nya.

Tujuannya sangat jelas: mengembalikan kemudaan dan kekuatan fungsi sel, namun tetap menjaga agar sel tersebut tetap tahu jati dirinya, tetap tahu tugas apa yang harus ia jalankan di dalam tubuh.

Telah Terbukti 

  • Prinsip bahwa urutan DNA tidak berubah, melainkan pengaturan di luarnya (epigenom) yang bergeser seiring usia, adalah landasan ilmu yang telah diterima luas.
  • Empat faktor penemuan Shinya Yamanaka memang menjadi tonggak perubahan arah riset peremajaan sel sejak tahun 2006.
  • Upaya menggunakan hanya tiga faktor saja guna menekan risiko adalah jalur penelitian yang sedang dikembangkan secara serius di berbagai lembaga dunia.

Hal Perlu Diluruskan

  • Unggahan menyebutkan “untuk pertama kalinya dalam sejarah”, padahal prinsip dasarnya sudah diteliti lebih dari 20 tahun lamanya. Yang tergolong baru adalah rancangan spesifik kombinasi dan metode pemberian pada prototipe ER‑100 ini.
  • Sampai saat ini, ER‑100 masih berada dalam tahap penelitian lanjutan dan uji coba terbatas, belum dinyatakan sebagai terapi standar yang telah teruji sepenuhnya dan dapat digunakan secara luas bagi manusia.
  • Nama ER‑100 adalah sebutan khusus yang digunakan oleh tim pengembang peneliti tersebut, bukan istilah baku yang berlaku secara umum di dunia kedokteran.**
Facebook Comments Box

Baca Lainnya

100 Tahun Pondok Darussalam Gontor, Presiden Tiga Kali Pekikan Free Palestine! Mau Heboh, Terserah

19 September 2026 - 16:06 WIB

Ratusan Orang Tuntut PT Annisa Ahmada Kembalikan Ongkos Umrah: Total Rp57 Miliar

19 September 2026 - 15:13 WIB

Sidang Gratifikasi Rp 1,08 M Dirjen BC Jaka Budi Utama, Faisyal Assegap Ancam Datangkan Massa di PN Tipikor

19 September 2026 - 14:30 WIB

Hilang Saat Liputan Erupsi G. Anak Krakatau: SAR Hentikan Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru

19 September 2026 - 12:30 WIB

Empat Bulan Jalani Hukuman Kasus Rp22 Juta, Hellyana Duduk Kembali ke Singgasana Wagub Babel

19 September 2026 - 11:06 WIB

Harga Emas Antam Jumat Naik Rp25.000 Jadi Rp2,623 Juta per Gram

18 September 2026 - 20:26 WIB

Dudung Abdurrahman: Jargas Sudah Siap 100 %, Gresik Bangun 7.363 Sambungan Rumah

18 September 2026 - 19:42 WIB

Polisi OTT 28 Kepala Sekolah Banyuasin Berdalih Bimtek di Hotel Palembang, Barang Bukti Rp30 Juta Lebih

18 September 2026 - 18:21 WIB

Kemenhaj Bekukan Izin PT Annisa Ahmada Travelindo, Telantarkan 200 Jamaah Jombang

18 September 2026 - 06:38 WIB

Trending di News