Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Kolaborasi FIKKIA dan Harvard : AI dalam Neuropsychiatry

badge-check


					Kolaborasi FIKKIA dan Harvard : AI dalam Neuropsychiatry Perbesar

KREDONEWS, BANYUWANGI – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam Universitas Airlangga (FIKKIA UNAIR), menggelar seminar ilmiah bertajuk “Integrating Artificial Intelligence in Health Care : Data-Driven Approach to Enchance and Promote Personalized Intervention in Neuropsychiatric Disorders” di Aula Utama FIKKIA UNAIR Banyuwangi serta kanal Zoom Meeting pada Kamis (06/03/2025) lalu.

Dalam acara tersebut, turut hadir Dr. Kurnia Alisaputri Sp.PD dari FIKKIA UNAIR yang ditemani oleh Benjamin Wade Ph.D dari Harvard Medical School. “Depresi adalah salah satu penyebab utama penyakit secara global yang mempengaruhi sekitar 280 juta orang” jelas Wade dalam kesempatan tersebut.

Dilansir dari unair.ac.id, Wade menjelaskan bahwa diagnosis dan pengobatan gangguan neuropsikiatri saat ini masih bergantung pada parameter klinis konvensional, presentasi neurologis, data genetik serta riwayat medis pasien. Tantangannya adalah, dari yang menggunakan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), hanya 50 persen mengalami perbaikan setelah melalui terapi awal.

Untuk mengatasi tantangan ini, Precision Interventional Psychiatry (PIP) mengembangkan model statistik berbasis machine learning yang menerapkan Artificial Intelligence (AI) guna memprediksi respons pasien terhadap terapi tertentu. Model ini menggunakan data pola kognitif, respons terhadap SSRI, ekspresi genetik, faktor demografis, dan riwayat medis. “Tujuan utama metode ini adalah mempercepat respons pengobatan dengan meminimalkan pendekatan coba-coba”.

Harapannya adalah, Integrasi AI dalam psikiatri intervensional ini dapat membuat metode pengobatan lebih efektif dan efisien. “Pendekatan ini tidak hanya mempercepat diagnosis dan pengobatan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien dengan mengurangi risiko efek samping akibat terapi yang kurang tepat,” tuturnya.

Seminar ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta, terutama mahasiswa dan tenaga medis yang tertarik dengan penerapan teknologi dalam dunia kesehatan. Dengan berkembangnya penelitian di bidang AI dan kesehatan mental, masa depan pengobatan berbasis data semakin menjanjikan untuk memberikan perawatan yang lebih personal dan berbasis bukti.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menteri Sosial Ungkap Warga RI yang Kebagian HP Gratis dari Pemerintah

15 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Pertalite Kosong di Sejumlah SPBU Surabaya

15 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Bantuan Pangan Oktober-Desember Mulai Disalurkan Via Kopdes

14 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Akibat Modifikasi, KM Feronia Tak Tahan Digempur Hukum Fisika

14 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Mentan Siapkan Rp3 T Bangun Pusat Pengembangan Bibit Ayam di Malang

13 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Pengusaha Buka Suara Soal Pembatasan Gas Industri

13 Oktober 2026 - 19:11 WIB

Restitusi Macet Jadi Ancaman UMKM

13 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Meski Putusan MA Inkrah, Pengasuh Ponpes Mahdiy Sidoarjo Resmi Laporkan Dugaan Keterangan Palsu ke Polisi

10 Oktober 2026 - 21:42 WIB

Penerimaan Cukai Rokok Elektrik Tembus Rp1,7 Triliun hingga Kuartal III/2026

9 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Trending di Nasional