Menu

Mode Gelap

Life Style

Budi Gunadi Kritik Rujukan BPJS Berjenjang, Rugikan Pasien, Iso Dut Sak Durunge Dioperasi

badge-check


					Budi Gunadi Kritik Rujukan BPJS Berjenjang, Rugikan Pasien, Iso Dut Sak Durunge Dioperasi Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, JAKARTA– Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menyoroti persoalan sistem rujukan BPJS Kesehatan yang selama ini membuat pasien harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain sebelum akhirnya memperoleh layanan yang tepat.

Ia menilai, mekanisme rujukan berlapis seperti sekarang tidak hanya menyulitkan pasien karena memakan waktu, tetapi juga menimbulkan pemborosan anggaran BPJS yang seharusnya bisa dihemat.

Budi mencontohkan, dalam kasus darurat seperti serangan jantung, pasien kerap dirujuk bertahap mulai dari puskesmas ke RS tipe C, lalu ke tipe B, sebelum akhirnya sampai ke RS tipe A. Padahal, operasi jantung terbuka hanya dapat dilakukan di RS tipe A.

“Padahal yang bisa melakukannya sudah jelas tipe A. Tipe C, tipe B tidak mungkin bisa tangani. Harusnya dengan demikian BPJS tidak usah keluar uang tiga kali. Dia (BPJS) keluarnya sekali saja, langsung dinaikin ke yang paling atas (RS Tipe A),” katanya seperti dikutip dari Antara.

Menurut Budi, pemerintah sedang menyiapkan reformasi besar dalam sistem rujukan yang nantinya berbasis kompetensi. Artinya, pasien akan dirujuk sesuai kemampuan fasilitas kesehatan, bukan sekadar mengikuti jenjang administratif.

Dengan sistem baru ini, pasien bisa langsung diarahkan ke rumah sakit yang benar-benar memiliki kapasitas menangani kondisi medis sejak awal. Kebijakan tersebut juga akan disertai dengan penyederhanaan tarif layanan dan administrasi BPJS.

Beberapa kode tarif akan digabungkan agar lebih sederhana, sehingga tidak membingungkan pihak rumah sakit sekaligus mengurangi potensi masalah klaim. Untuk layanan rawat jalan, pemerintah mengubah sistem dari hanya satu kategori menjadi 159 jenis agar pembayaran lebih akurat dan sesuai kebutuhan pasien.

Budi menegaskan, alur rujukan tetap dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Namun, dokter FKTP akan langsung menentukan level layanan yang dibutuhkan pasien.

“Dokter tingkat pertama akan menentukan arahnya ke mana. Misalnya pasien stroke, kalau cukup ditangani layanan tingkat C, dia langsung ke RS dengan layanan stroke tingkat C. Kalau kasusnya lebih berat, langsung ke tingkat B,” ujar Budi.

Dengan pola ini, pasien tidak perlu lagi berpindah-pindah rumah sakit atau berganti kelas kamar sebelum mendapatkan perawatan yang sesuai. Meski begitu, sistem baru ini masih dalam tahap persiapan dan sedang dipercepat implementasinya.

Ke depan, rujukan diharapkan bisa langsung menuju rumah sakit Madya, Utama, atau Paripurna sesuai kebutuhan medis pasien, sehingga layanan menjadi lebih cepat, tepat, dan efisien.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

No Na Bawa Indonesia ke THE FIRST TAKE Jepang

12 Mei 2026 - 18:36 WIB

Gejala Hantavirus: Demam hingga Sesak Napas

11 Mei 2026 - 20:39 WIB

BPOM Umumkan 11 Kosmetik Berbahaya

7 Mei 2026 - 19:59 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

Kupeluk Kamu Selamanya, Kisah Keluarga yang Menyentuh dan Menggugah Empati

24 April 2026 - 19:38 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Setelah Membuat Tato, Perempuan Alami Nyeri dan Mata Kanan Kabur

20 April 2026 - 21:12 WIB

no na, Menyatukan Akar Lokal dan Musik Global

19 April 2026 - 20:30 WIB

Jennie Masuk Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Tahun 2026

17 April 2026 - 20:31 WIB

Trending di Life Style