Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-PT Pertamina Patra Niaga mencermati potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) saat harga minyak acuan tembus ke atas US$ 100 per barel. Anak usaha Pertamina ini pun memproyeksi harga Pertamax bisa berada di level Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per liter.
Memang, mengacu Trading Economics, hingga Jumat (11/9/2026) pukul 16.15 WIB, harga minyak mentah jenis WTI sudah tembus US$ 100,40 per barel atau sudah meningkat 20,42% secara bulanan. Sedangkan, harga minyak mentah jenis Brent berada di posisi US$ 104,91 per barel atau naik 17,96% dalam sebulan.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menjelaskan, kondisi geopolitik saat ini menjadi pemicu tingginya harga minyak. Jika dibandingkan, ia bilang, perang Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz saat ini memiliki efek yang lebih parah dibandingkan perang Ukraina-Rusia.
“Dulu waktu perang Ukraina-Rusia tidak separah ini. Dengan adanya perang di Timur Tengah, ternyata dampaknya secara global, selain ketersediaan energi di dunia, juga terhadap harga yang saat ini belum stabil ya,” kata Eko dalam temu media di Terminal BBM Rewulu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).
Ia mengungkapkan, hal ini turut berdampak pada peningkatan harga BBM. Bahkan, terdapat potensi harga Pertamax mencapai Rp 20.000 per liter apabila ketegangan geopolitik tak mereda dan minyak global tak kunjung kembali ke level US$ 60 – US$ 70 per barel.
“Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp 18.000 sampai Rp 20.000 karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” jelas Eko.
Meski demikian, Eko berharap harga minyak global bisa kembali ke level US$ 60-US$ 70 per barel agar harga BBM juga tak terus mendaki.
“Jadi kalau berharap turun ke US$ 70 per barel atau US$ 60 dolar per barel seperti sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera,” imbuh dia.***


























