Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Tidak Masuk Akal Gelombang Keracunan Terus Terjadi: 300 Lebih Siswa SMP dan MTs Pati Diangkut ke Rumah Sakit

badge-check


					Seolah terbiarkan kasus keracunan MBG terus terjadi, hari ini Rabu, 9 Seotember 2026, dua sekolah SMP dan MTs diangkut ke puskesnas dan rumah sakit, setekah konsumsi MBG. Foto: ist Perbesar

Seolah terbiarkan kasus keracunan MBG terus terjadi, hari ini Rabu, 9 Seotember 2026, dua sekolah SMP dan MTs diangkut ke puskesnas dan rumah sakit, setekah konsumsi MBG. Foto: ist

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, PATI—  Rabu, 9 September 2026 siang setelah makan siang MBG, gejala muncul mulai pukul 13.00 WIB, terjadi keracunan dua sekolah satu SPPG di Pati, Jawa Tengah.

Masing masing MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Jumlah korban Lebih dari 300 siswa — sekitar 180 siswa MTsN 3 Pati dan 120+ siswa SMPN 1 Gembong.

Gejala sakit perut hebat, mual, muntah berulang, diare, pusing, lemas — beberapa siswa mengalami keringat dingin dan pucat

Evakuasi Puluhan ambulans dari berbagai puskesmas dan RSUD dikerahkan. Siswa dibawa ke Puskesmas Gembong, Puskesmas Jaken, dan RSUD RAA Tjokroaminoto Pati

Penyedia makanan SPPG Gembong — mitra penyalur MBG yang melayani kedua sekolah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Pati: Luky Pratugas Narimo — membenarkan kejadian, menyatakan pendataan dan penanganan masih berlangsung
Status penyebab Sampel makanan diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Ratusan siswa dari dua sekolah di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengalami keracunan massal pada Rabu, 9 September 2026, setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis.

Puluhan ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi para siswa ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.

Kejadian ini memicu kepanikan luas di kalangan orang tua maupun warga.

Kejadian

Pada Rabu siang sekitar pukul 11.30 WIB, siswa MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong menerima dan menyantap makan siang dari SPPG Gembong. Kurang dari dua jam kemudian, tepatnya sekitar pukul 13.00 WIB, siswa mulai mengeluhkan sakit perut secara beruntun.

Dalam waktu singkat, ratusan siswa jatuh sakit bersamaan — muntah, diare, mual, dan lemas.

Situasi di kedua sekolah berubah menjadi panik. Guru langsung menghubungi orang tua dan meminta bantuan medis segera.

Puluhan ambulans dikirim ke lokasi. Siswa dievakuasi secara bertahap ke Puskesmas Gembong, Puskesmas Jaken, dan RSUD RAA Tjokroaminoto Pati.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan barisan siswa berbaris menuju kendaraan kesehatan dalam kondisi lemah, orang tua yang berlari panik menjemput anak-anak mereka, serta kerumunan warga yang berdesakan di depan gerbang sekolah.

Pernyataan Resmi

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, membenarkan kejadian tersebut dalam keterangannya pada Rabu sore:.

“Benar terjadi. Siswa dari dua sekolah mengalami keluhan serupa setelah makan siang.” Kata dia.

“Tim medis sudah di lokasi, pendataan terus dilakukan, dan penanganan kesehatan diberikan kepada semua siswa yang mengalami gejala. Sampel makanan sisa sudah diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut.”

Meskipun penyebab pasti belum diketahui, pola gejala yang serentak dan identik pada ratusan siswa yang bersumber dari penyedia yang sama mengarah kuat pada dugaan keracunan makanan.

SPPG Gembong yang menyalurkan makanan ke kedua sekolah tersebut telah diinstruksikan berhenti beroperasi sementara waktu hingga hasil investigasi keluar.

Kesamaan dengan Blora

Hampir berbarengan dengan kasus di Blora yang menimpa SMAN 1 Tunjungan pada awal September, kejadian di Pati menambah daftar panjang insiden keracunan yang dikaitkan dengan program MBG.

Yang paling mengkhawatirkan: kali ini melibatkan dua sekolah sekaligus dari penyedia yang sama, menunjukkan masalah kemungkinan bersifat sistemik pada proses pengolahan maupun penyaluran makanan.

Orang tua meminta agar tidak hanya penyedia yang ditindaklanjuti, tetapi seluruh rantai pengawasan dari pusat ke daerah dievaluasi menyeluruh.

“Anak-anak kami bukan kelinci percobaan. Setiap kali ada yang sakit, barulah ditindak. Harusnya pencegahan yang didahulukan,” tegas salah satu orang tua yang menunggu anaknya di depan RSUD Pati.

Dua sekolah, satu penyedia, ratusan korban. Kejadian di Pati adalah peringatan keras: ketika keamanan pangan dipertaruhkan demi ketepatan waktu penyaluran, yang paling mahal harganya adalah kesehatan anak-anak bangsa.

Program yang bermaksud memberi kehidupan justru berulang kali mencelakakan penerimanya — ini bukan sekadar kebetulan, ini adalah pola yang harus diputus sekarang juga.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Air Laut Surut dan Gempa Mag 3,8 Terjadi di Sekitar Gunung Anak Krakatau, BMKG: Tenang Bukan Tsunami

9 September 2026 - 16:59 WIB

Truk Tangki Air Angkut 1,5 Juta Batang Rokok Putih, Bea Cukai: Kerugian Negara Rp1,5 Miliar

9 September 2026 - 11:09 WIB

Elektabilitas Gerindra Naik 14.4 Persen, Rahmat Muhajirin: Bukti Program Presiden Prabowo Diterima Masyarakat

9 September 2026 - 09:30 WIB

Keterlaluan Tiga Kali SMAN 1 Tunjungan Blora Keracunan, Wabup Perintahkan SPPG Sukorejo 2 Tutup Permanen

9 September 2026 - 08:24 WIB

Mendahului Neuralink, RRT Izinkan Implan Cip NEO untuk Pulihkan Penderita Lumpuh

8 September 2026 - 06:57 WIB

Menelisik Akar Terorisme (54): Ritual Goor Kaum Thug untuk Mencekik

8 September 2026 - 06:35 WIB

800 Karateka Ikuti Gelar Gashuku II Lintas Kyokushin Jatim di Purwodadi

8 September 2026 - 05:59 WIB

Waspadai Risiko Abu Vulkanik, IDAI Merilis 13 Rekomendasi untuk Jaga Kesehatan Anakanak

8 September 2026 - 05:21 WIB

Indek Kepuasan Subandi- Mimik Turun, Ahmad Muzayyin: Jadikan Early Warning, bukan untuk Saling Menyalahkan

7 September 2026 - 16:01 WIB

Trending di News