Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA— Gunung Anak Krakatau, Kabupaten Pandeglang, Banten, kembali meletus beruntun sejak Jumat malam, 4 September 2026.
Menurut laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) BMKG, letusan pertama tercatat pukul 23.07–23.23 WIB, memancarkan kolom abu setinggi 13–14 kilometer di atas permukaan laut, menembus lapisan tropopause.
Erupsi berlanjut hingga Sabtu–Minggu, dengan puncak semburan mencapai 15 kilometer.
“Kolom letusan bergerak menyebar ke arah Timur Laut mengikuti pola angin ketinggian menengah,” jelas Kepala Balai Pemantauan Gunung Api BMKG. Dampak langsung dirasakan pesisir Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga sebagian Lampung.
Soeta Tutup 3 Jam
Pada Minggu pagi, Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara pukul 04.00–07.00 WIB untuk pembersihan landasan, menyebabkan puluhan penerbangan dialihkan atau dibatalkan.
“Abu vulkanik menempel pada permukaan landasan dan badan pesawat; harus dibersihkan mutlak demi keselamatan,” tegas keterangan resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Gas SO₂ Terdeteksi di Jateng
Peta sebaran konsentrasi gas Sulfur Dioksida (SO₂) hasil model pemantauan atmosfer Windy.com memperlihatkan wilayah berwarna merah pekat — tanda beban gas tertinggi — membentang dari Selat Sunda melintasi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga tercatat di wilayah Semarang dan pantai utara Jawa Tengah.
“Perlu dibedakan: konsentrasi tinggi di udara bebas belum tentu sama dengan kadar di permukaan tempat warga bernapas,”
Demikian pelurusan info dari Kepala Pusat Informasi & Komunikasi Iklim BMKG.
Sampai hari ini, data pengukuran langsung di permukaan yang dipublikasikan KLH menunjukkan wilayah terdekat seperti Banten Selatan dan pesisir Jakarta Barat berada pada kategori SEDANG, belum melampaui ambang batas bahaya harian menurut Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021.
Namun belum ada laporan pengukuran lapangan resmi terpasang di Jawa Tengah, meskipun terlihat jelas pada peta satelit.
Waspadai Risiko
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa — mengandung kaca vulkanik dan kristal silika mikroskopis tajam yang dapat melukai saluran pernapasan secara permanen jika terhirup berulang.
Gas SO₂ berbau belerang menyengat, lebih berat dari udara sehingga cenderung berkumpul di dataran rendah:
- Kelompok rentan: penderita asma, PPOK, penyakit jantung, lansia, anak-anak, ibu hamil
- Gejala: batuk kering menetap, sesak napas, mata perih, hidung meradang, tenggorokan terasa panas. Ancaman tambahan: bila turun hujan bercampur abu → menjadi air asam sulfat encer — berbahaya bagi kulit, mata, tanaman pangan, dan sumber air minum
“Meskipun saat ini belum melampaui ambang batas darurat, jarak tempuh gas sejauh itu menandakan butuh kesiapan lebih cepat di wilayah timur,” catat peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BRIN).
Tindakan Wajib Pemerintah
Yang telah berjalan:
- BMKG: Pemantauan visual & seismik 24 jam; peringatan SIGMET ke penerbangan setiap 6 jam; penetapan zona larangan 3 kilometer dari kawah
- KLH: Pengukuran rutin PM2.5, PM10, SO₂ di titik Banten–Jakarta–Jawa Barat; hasil dikirim daring terbuka
- Kemenkes: Imbauan pemakaian masker N95/KN95; pembatasan aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan; RS daerah disiapkan pasokan oksigen tambahan.
Yang masih mendesak dilengkapi:
1. Segera pasang alat ukur SO₂ otomatis di pantai utara Jawa Tengah — Semarang, Pekalongan, Cilacap — bukan hanya mengandalkan model satelit
2. Sistem peringatan otomatis langsung ke HP warga, bukan menunggu berita televisi
3. Distribusi masker gratis berjenjang dari barat ke timur mengikuti arah angin ramalan 3 hari ke depan
4. Peringatan hujan asam ke petani & pengelola air bersih: jangan simpan air hujan untuk dikonsumsi bila bercampur debu
5. Pembaruan data jam tetap setiap 6 jam, tidak hanya saat memburuk saja
“Belum darurat nasional, tapi bukan berarti boleh menunggu sampai turun di halaman rumah.” — ungkap juru bicara BPBD setempat.
Kekhawatiran utama bukanlah letusan itu sendiri — yang sudah berulang sejak 2018 — melainkan keterlambatan data di wilayah jauh sumber.
Jawa Tengah sudah terlihat di peta, belum terlihat di laporan. Di situlah celah kesiapan yang paling cepat harus ditambal.**

















