Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM— Pada puncak aktivitas sekte, puluhan ribu pelancong terbunuh setiap tahun.
Seorang anggota pengadilan jahat ini mengaku menjadi saksi mata atas begitu banyak pembunuhan, sehingga dia “berhenti menghitung ketika pembunuhan sudah mencapai seribu.”
Kaum Phansigar mengilhami teror sejenis sehingga mereka beroperasi selama berabad-abad tanpa banyak aksi balas dendam dilancarkan atas mereka, karena tidak ada orang memberi informasi menentang mereka.
Namun pihak berwewenang India, ketika menangkap sekelompok pembunuh itu, menggantung mereka semua hidup-hidup di atas tiang atau memotong tangan dan hidung mereka.
Yang paling mengejutkan Dr Sherwood berkenaan dengan sekte ini adalah bahwa pembunuhan dilakukan tanpa perasaan bersalah.
Gambaran paling aneh watak para pembunuh ini sama anehnya dengan watak mereka sebagai manusia.
Mereka jarang mengaku memperoleh keuntungan dari situasi paling menyenangkan dari godaan kuat uang sekalipun. Mereka sama sekali tidak memiliki rasa kasihan dan bertobat.
Mereka tidak pernah berusaha menahan diri agar tidak melakukan perbuatan jahat dengan menyesali aksi pembunuhan atas pelancong yang malang.
Kaum Phansigar, ketika ditanya tentang masalah ini bersikap masa bodoh yang dingin berbaur dengan sikap terkejut, mengaku “merupakan bisnis mereka.”
Kemudian, dengan merujuk ajaran-ajaran fatalisme, menganggap diri telah dibaiat sebelumnya untuk mengikuti ajaran-ajaran .
Fatalisme juga membuat mereka membandingkan diri dengan harimau. Mereka mengklaim bahwa sama seperti harimau memenuhi desain alam dengan memangsa binatang lain, demikian juga mereka hanya memenuhi nasib mereka memangsa manusia lain.
Nasib setiap manusia dituliskan di dahi masing-masing.
Para hamba dewi Kali sekedar pelaku para dewi, bukan penyebab kematian manusia.
Demikianlah akhir kisah Dr. Shewood tentang kaum Phansigar, yang dikenal sejak awal selanjutnya berkat nama dari kawasan utara mereka, Thugs (Penjahat).
Orang paling pertama membaca makalah Dr. Sherwood adalah William Sleeman, seorang perwira muda dalam Pasukan Bengali yang sangat berminat terhadap masalah-masalah penduduk asli dan sudah mempelajari empat bahasa bangsa India.
Sleeman begitu terpengaruh oleh persoalan Kaum Penjahat itu dan mulai meneliti aktivitas mereka di kawasan yang dikuasainya.
Penemuannya di sana menimbulkan sensasi karena memperlihatkan bahwa sekte pembunuh itu merupakan organisasi berskala nasional.
Pada tahun 1830, Gubernur Jenderal, Lord William Bentink secara resmi mengangkatnya untuk menindas kaum Penjahat itu di seluruh India Tengah.
Sleeman ternyata mengalami situasi sangat sulit.
Kaum Thugs nyaris tidak mungkin dibedakan dari kaum perampok dan bandit-bandit lain sepanjang jalan. Mereka dilindungi oleh desa-desa karena takut, juga oleh para penguasa lokal yang mereka suap.
Karena jenazah pelancong yang tewas jarang ditemukan, maka tidak seorang pun tahu apakah anggota keluarga mereka yang hilang itu melarikan diri, sudah dimakan binatang buas, tewas karena sebab-sebab alam, atau jatuh di tangan pasukan perampok milik para pangeran lokal, yang melakukan kejahatan penjarahan barang atas semua orang.
Tidak ada polisi di luar tanah Inggris di India. Dengan demikian, Sleeman harus membangun pasukannya sendiri.
Sang perwira Inggris itupun telah mempelajari bahasa kaum Thugs, yaitu Ramasi dari makalah Sherwood termasuk mampu membangun jaringan informan antarmereka.
Dia pun memetakan peristiwa-peristiwa kejahatan mereka, memplot kebiasaan-kebiasaan mereka dan membuat katalog seputar metode mereka memilih dan menolak para korban mereka.
Badan baru pendukung pasukannya ini dikirim mengikuti kaum Thugs, di manapun dia menemukan mereka, meski ada protes dari beberapa penguasa setempat dan para administrator Inggris dari beberapa negara bagian tetangga.
Karena mempelajari masalah ini sama telitinya seperti Sherlok Holmes meneliti Morarty, Sleeman pun menjadi ahli sejarah mereka.
Menurutnya, kaum Thugs mungkin pada awalnya merupakan penunggang kuda cepat Persia dari suku pengembara Sagartii, yang dilukiskan Herodotus bertempur hanya dengan menggunakan pisau lengkung dan plintiran simpulan tali kulit.
Mereka datang ke India bersama para penyerang Muslim.
Kaum Thug sendiri membanggakan diri bahwa lukisan-lukisan abad delapan di gua-gua Ellora memang memperlihatkan bahwa kaum Thugs memang sudah terlibat dalam ritual pembunuhan.
“Dalam satu tempat,” seorang pemimpin Thug, Feringheea, bersaksi, “anda melihat para pria sedang menjerat seseorang; di tempat lain tengah mengubur jenazah, dan dalam tempat lainnya mereka membawa jenazah-jenazah ke makam.
Jadi tidak ada pelaksanaan aksi kalangan Thug yang tidak diperlihatkan di gua-gua di Ellora.”
Seorang sejarahwan Persia mengisahkan tentang seribu orang Thugs yang tertangkap di Delhi sekitar tahun 1290 dibebaskan, dalam suatu tindak pengampunan yang salah, karena melakukan tindakan teror atas Bengali.
Pada abad keenam belas, Kaisar Akbar menangkap 500 kaum Thug lainnya.
Sementara itu pelancorng Perancis Thevenot mengenang “para perampok paling licik di dunia” mencekik para pelancong di jalanan mulai dari Delhi hingga Agra. (Bersambung)

















