Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Mendahului Neuralink, RRT Izinkan Implan Cip NEO untuk Pulihkan Penderita Lumpuh

badge-check


					Pemerintah Tiongkok telah mengizinkan penggunaan implan cip NEO untuk penderita kekumpuhan, mendahui Neurakink, produk Ekon Musk. Foto: ist Perbesar

Pemerintah Tiongkok telah mengizinkan penggunaan implan cip NEO untuk penderita kekumpuhan, mendahui Neurakink, produk Ekon Musk. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato   |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, TIONGKOK— Sebuah terobosan teknologi yang selama ini hanya ada dalam fiksi ilmiah kini menjadi kenyataan medis.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah perangkat antarmuka otak-komputer (BCI) telah resmi disetujui untuk penggunaan secara komersial di dunia.

Namanya NEO — cip seukuran koin yang memungkinkan orang lumpuh menggerakkan tangan hanya dengan kekuatan pikiran.

Dikembangkan oleh Neuracle Technology Shanghai bersama tim peneliti Universitas Tsinghua, NEO disetujui oleh Badan Pengawas Alat Kesehatan Nasional Tiongkok (NMPA) pada 13 Maret 2026.

Alat ini menjadikan implan otak pertama di dunia yang beralih dari uji coba laboratorium menjadi alat medis yang dapat dibeli dan dipasang secara sah di rumah sakit.

Cara Kerja

Keistimewaan terbesar NEO terletak pada keamanannya. Berbeda dengan proyek Neuralink milik Elon Musk yang menanamkan ribuan elektroda langsung ke dalam jaringan otak, NEO diletakkan di atas dura mater — selaput pelindung terluar otak — tanpa menembus jaringan saraf itu sendiri.

Delapan sensor di permukaannya membaca sinyal listrik otak secara real-time, lalu mengirimkannya ke komputer yang menerjemahkan pikiran menjadi gerakan sarung tangan pneumatik.

Pasien yang selama bertahun-tahun tidak bisa menggenggam benda, kini bisa memegang cangkir, menulis, dan melakukan gerakan dasar lainnya hanya dengan membayangkan melakukannya.

“Pada hari kesembilan latihan, tangan kanan saya berhasil menggenggam bola tanpa bantuan sarung tangan,” ujar salah satu pasien yang telah menerima implan.

Persetujuan ini diberikan untuk pasien usia 18–60 tahun yang mengalami kelumpuhan anggota tubuh akibat cedera tulang belakang bagian leher, namun masih memiliki fungsi otak dan sebagian lengan.

Berapa Harga?

Hingga saat ini, harga resmi perangkat belum dipublikasikan secara terbuka. Namun berbagai sumber memperkirakan total biaya perangkat beserta operasi pemasangannya berkisar 200.000–500.000 RMB (sekitar Rp 440 juta – Rp 1,1 miliar).

Yang paling luar biasa, hanya dalam 48 jam setelah persetujuan diberikan, pemerintah Tiongkok sudah memasukkan NEO ke dalam sistem asuransi kesehatan nasional.

Artinya pasien hanya membayar sebagian kecil, diperkirakan 20–30% dari total biaya, sementara sisanya ditanggung negara.

Ini langkah yang belum pernah dilakukan negara lain untuk teknologi semacam ini. Pemasangan implan komersial pertama dilakukan pada Juli 2026 di sebuah rumah sakit di Shanghai.

Siapa Pengendalinya

Kemajuan ini memicu dua reaksi sekaligus: kekaguman sekaligus kekhawatiran.

Di satu sisi, ini adalah harapan baru bagi jutaan penyandang disabilitas saraf di seluruh dunia.

Di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang mengatur teknologi yang menghubungkan pikiran manusia langsung ke komputer?

Jika NEO berkembang dari sekadar menggerakkan tangan menjadi perangkat yang membaca, menyimpan, bahkan mengirimkan isi pikiran — di mana batasannya? Siapa yang menjaga privasi batin seseorang tetap miliknya sendiri?

NEO bukan sekadar cip medis. Ia adalah pintu gerbang menuju masa depan di mana batas antara otak manusia dan mesin mulai menghilang. Pertanyaannya bukan lagi “bisa atau tidak?” — pertanyaannya: “siapa yang memegang kendali atas pikiran kita?”**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (54): Ritual Goor Kaum Thug untuk Mencekik

8 September 2026 - 06:35 WIB

800 Karateka Ikuti Gelar Gashuku II Lintas Kyokushin Jatim di Purwodadi

8 September 2026 - 05:59 WIB

Waspadai Risiko Abu Vulkanik, IDAI Merilis 13 Rekomendasi untuk Jaga Kesehatan Anakanak

8 September 2026 - 05:21 WIB

Indek Kepuasan Subandi- Mimik Turun, Ahmad Muzayyin: Jadikan Early Warning, bukan untuk Saling Menyalahkan

7 September 2026 - 16:01 WIB

Parlemen Protes Keras, PM Albania Angkat AI Diela Jadi Menteri untuk Cegah Korupsi

7 September 2026 - 15:33 WIB

God’s Eyes View Proyek Nebius: Mengubah Kekuasaan Teknologi dari Pusat Komando ke Seluruh Umat Manusia!

7 September 2026 - 13:50 WIB

Direktur RSKKA Dr Agus Harianto Dorong Agar Iluni Memiliki RS Kapal demi NKRI

7 September 2026 - 11:38 WIB

Gerakan AI Global: Kembalikan Kecerdasan dan Kekuasaan kepada Rakyat!

7 September 2026 - 10:36 WIB

Efek Erupsi Anak Krakatau: Gas SO₂ Terdeteksi di Jateng, Bandara Soeta Tutup 3 Jam

6 September 2026 - 21:09 WIB

Trending di News