Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (54): Ritual Goor Kaum Thug untuk Mencekik

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM— Sleeman menuliskan deskripsi mendetil tentang ritual pesta atau Tuponee yang diberikan tiap kali usai melakukan pembunuhan, kadangkala di atas makam korban.  Goor atau gula kasar menggantikan komuni roti dan anggur orang Kristen.

Gula ditaruh di atas selimut atau kain, ditebarkan di atas tanah bersih. Di dekatnya ditempatkan beliung yang disucikan dan sepotong perak sebagai persembahan.

Pemimpin kelompok penjahat duduk di atas kain yang ditebarkan, menghadapi ke arah barat, sedang di sekelilingnya duduk berjajar dalam jumlah genap sejumlah pencekik yang lebih terhormat. Anggota kelompok pemujaan lain yang tingkat keahlian mencekiknya kurang, duduk mengitari kain di atas tanah.

Ketua kelompok menuangkan sedikit gula kasar ke lubang sembari berdoa: Mahadewi, sebagaimana kau bersedia menganugerahkan satu lakh (sejenis angka mata Rupee) dan 62 ribu Rupee kepada Joora Naig dan Koduck Bunwari untuk kebutuhan mereka, maka kami berdoa, penuhilah keinginan kami.”

Doa tulus untuk mendapatkan apa yang diminta biasanya jarang diungkapkan, seorang pejudi sekalipun. Kaum Thug lain mengulangi doa, sementara pemimpin mereciki air suci ke dalam lubang dan beliung kemudian membagikan sedikit gula kasar di atas tangan para anggota yang duduk di atas selimut.

Demikianlah pertanda untuk suatu pembunuhan dengan pencekikan simbolik diberikan. Kaum Thug pun kemudian memakan gula kasar dari tangan mereka dalam suasana diam yang agung.

Sisa gula dibagikan kepada peserta sekitarnya. Gula hanya dimakan oleh orang-orang yang benar sudah melakukan pembunuhan. Yang jatuh di tanah dikuburkan dalam lubang.

Jika kebetulan seorang anggota baru memakannya, maka dia pun dipaksa keluar dari upacara serta seorang diri mencekik orang waktu itu juga. Karena dibutuhkan kerahasiaan, kain selalu dibawah untuk digunakan membangun tenda tempat pesta pembunuhan Tuponee dapat dijalankan. Feringheea berbicara tentang dampak luar biasa yang ditimbulkan oleh upacara itu.

“Kami semua kadangkala merasa kasihan, tetapi goor, gula kasar Tuponee mengubah hakikat kami. Ia pun bakal mengubah hakikat kuda. Biarkanlah siapa pun mencicipi goor, maka dia menjadi anggota Thug meski dia mampu melakukan pekerjaan apapun dan kaya raya di dunia.”

“Saya tidak pernah menginginkan makanan; ibu keluarga saya sangat kaya, relasinya sangat bagus di kantor. Saya sendiri menduduki jabatan tinggi di kantor dan menjadi pendukung setia kapan pun saya pergi sehingga yakin mendapatkan promosi jabatan. Namun, saya selalu merasa sial ketika tidak hadir bersama kelompok saya sehingga terpaksa kembali ke Thuggee.:

“Ayah saya menyuruh saya mencicipi goor, gula kasar mematikan itu ketika saya masih anak-anak. Jika saya hidup selama ribuan tahun, maka saya tidak akan pernah mampu menjalani pekerjaan lain apapun.”

Sleeman menegaskan bahwa dia jarang menemukan di antara kaum Thug, Kekejaman tanpa belas kasih, yaitu rasa sakit yang ditimbulkan lebih daripada yang diperlukan untuk mencabut nyawa seseorang— rasa sakit atas pikiran atau badan korban.

Pembunuhan perempuran merupakan pelanggaran aturan yang mereka pertalikan dengan banyaknya keberhasilan kami melawan sistem… tetapi tidak seorang anggota Thug yang diketahui menghina lewat tindakan atau lewat kata-kata kepada wanita yang hendak mereka bunuh.

Tidak ada kelompok penjahat yang pernah berani membunuh wanita yang pantas dicurigai melakukan hubungan seksual yang kejam dengan salah seorang anggotanya. (Bersambung).

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PT Maghfiroh Kampanyekan Tabungan Rp20.000/ Hari untuk Berangkat Umrah ke Tanah Suci

24 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Gudang Plastik Milik Muhaimin di Desa Bandung Jombang Ludes Terbakar

24 Oktober 2026 - 11:42 WIB

Investasi Rp4,8 Triliun, Bupati Warsubi Ground Breaking JIP PT Intiland di Katemas Kudu

24 Oktober 2026 - 10:34 WIB

Menelisik Akar Terorisme (71): Klan Wajah Baru Serang Israel dan Katolik

23 Oktober 2026 - 23:57 WIB

Ibu PKK Lantunkan 5 Tembang, Meriahkan Gebyar Wayang Kulit Ki Bayu Aji Bersama Jo Klithik/ Kluthuk

23 Oktober 2026 - 21:08 WIB

Fraksi Day PKB, Kartiyono Incar Pondok Pesantren sebagai Sektor Unggulan Pariwisata Jombang

23 Oktober 2026 - 20:21 WIB

Polres Jombang Tanam Pohon Mangga, Alpukat dan Jambu di Taman Kebonrojo

23 Oktober 2026 - 14:48 WIB

Kadisnaker Jombang Isawan: Tempatkan 6.718 Naker Lewat Talenta dan Jemput Kerja 2026

23 Oktober 2026 - 08:23 WIB

Damkar Butuh 10 Jam untuk Padamkan Kebakaran Besar Pengolah Ban Bekas Trowulan

23 Oktober 2026 - 07:14 WIB

Trending di News