Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Ritual Malam Bakar Obat Nyamuk Nasional, Nilai Pasar Rp7,8 Triliun/ Tahun

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, SURABAYA — Malam hari di rumah mana pun di Indonesia, apakagi musim kemarau saat ini hampir pasti ada ritual yang sama: sebelum tidur, menyalakan obat nyamuk.

Entah itu dibakar di piring keramik di sudut ruangan, dimasukkan ke alat listrik di dekat pintu, atau disemprotkan ke tirai dan sudut dinding.

Kebiasaan ini sudah berjalan turun-temurun, begitu rutin sehingga jarang sekali kita berhenti dan bertanya: sebenarnya berapa banyak yang kita pakai, berapa yang kita keluarkan uangnya, dan apa sebenarnya yang kita hirup setiap malam.

Indonesia adalah salah satu pasar obat nyamuk terbesar di dunia. Di negara tropis dengan kepadatan penduduk lebih dari 277 juta jiwa dan suhu yang mendukung nyamuk berkembang biak sepanjang tahun — permintaan ini tidak pernah surut.

Nilai Pasar Rp7,8 Triliun

Nilai pasar obat nyamuk di seluruh Indonesia mencapai Rp 7,8 triliun per tahun, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 7,2 persen.

Angka ini dirilis oleh Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (ASPHI) survei industri tahunan 2025–2026, yang mencakup seluruh kategori produk pembasmi dan pengusir serangga rumah tangga di pasaran nasional.

Namun di balik angka triliunan itu, jenis obat nyamuk apa yang sebenarnya mendominasi di rumah-rumah kita?

Obat nyamuk bakar masih menjadi rajanya — dipakai oleh 68 persen rumah tangga di seluruh Indonesia.

Data ini bersumber dari survei perilaku kesehatan masyarakat yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan — Kementerian Kesehatan RI, tahun 2024.

Survei yang melibatkan 34 provinsi ini juga mencatat bahwa jumlah gulungan obat nyamuk yang dikonsumsi nasional mencapai 1,57 miliar gulungan per tahun.

Di Surabaya khususnya, data Dinas Kesehatan Kota Surabaya menunjukkan bahwa obat nyamuk bakar tetap menjadi pilihan utama di 58 persen rumah tangga, diikuti obat nyamuk listrik yang sudah mencapai 27 persen — angka lebih tinggi dari rata-rata nasional karena daya beli masyarakat kota yang lebih baik.

Sementara cairan semprot atau aerosol dipakai oleh 9 persen rumah tangga, dan losion pengusir nyamuk oles ke kulit hanya sekitar 6 persen, umumnya untuk anak-anak atau saat beraktivitas di luar rumah.

Dinas Kesehatan Surabaya juga mencatat bahwa lebih dari 95 persen rumah tangga di kota ini selalu menyediakan minimal satu jenis obat nyamuk di rumahnya — dan alasan utamanya bukan sekadar terganggu dengungan, melainkan ancaman nyata penyakit.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 3.217 kasus demam berdarah di Surabaya, angka yang membuat kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tetap tinggi setiap tahun.

Namun ada biaya lain yang tidak tercantum di harga beli obat nyamuk itu sendiri.

Penelitian gabungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga bersama Dinas Kesehatan Surabaya yang diterbitkan tahun 2025 menemukan bahwa dari setiap lima rumah tangga yang rutin memakai obat nyamuk bakar setiap malam.

Satu rumah tangga di antaranya melaporkan keluhan berulang berupa pusing, batuk kering, atau sesak napas ringan pada anggota keluarganya.

Penelitian ini juga mengukur kadar partikel halus PM2,5 di ruangan tertutup setelah obat nyamuk bakar menyala selama 8 jam — dan hasilnya menunjukkan konsentrasi yang melebihi ambang batas kualitas udara dalam ruangan yang ditetapkan WHO.

Zat aktif yang paling banyak dipakai di seluruh produk tersebut adalah deltametrin dan sipermetrin — jenis racun saraf yang dikembangkan untuk serangga, namun ketika dibakar dan tercampur dengan udara ruangan tertutup, dampak jangka panjang terhadap sistem pernapasan manusia masih terus diteliti.

Membatasi Racun

Kementerian Kesehatan RI melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/ MENKES/ 512/ 2015 memang telah menetapkan batas maksimal kadar bahan aktif tersebut, namun peringatan agar tidak menghirupnya secara langsung dan tidak menyalakannya di ruangan yang sangat sempit dan tertutup rapat — sering kali terabaikan demi menjaga agar asapnya tidak hilang ke luar.

Selama nyamuk masih berkembang biak di air genangan di sekitar kita, dan selama kasus demam berdarah masih muncul dari satu lingkungan ke lingkungan lain — maka obat nyamuk akan tetap menjadi barang yang wajib ada di setiap rumah.

Pertanyaannya kini hanya satu: apakah yang kita pakai saat ini adalah satu-satunya cara, atau ada cara lain yang sama efektifnya tetapi tidak mengharuskan kita menghirup apa pun yang kita lepaskan ke udara di dalam rumah kita sendiri.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Mirip Film Perang Fiksi, RRT Lawan Nyamuk Gunakan Senjata Laser

10 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Prakiraan APBD Jombang 2027: Cuma Naik Rp167 Miliar

10 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Harga Naik Terus, Koperasi Unggas Sejahtera Bagikan Gratis 600 Ekor Ayam kepada Warga Batang

10 Agustus 2026 - 13:55 WIB

Diduga Kasus Tanah Kaveling, Polresta Malang Terbitkan Surat DPO terhadap Ipda Wibowo Hari Sucahyo

10 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Mobil Peserta Drag Rage Hilang Kendali, Enam Penonton Tewas Tertabrak 11 Lukaluka di Kotamobagu

9 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Menelisik Akar Terorisme (47): Hector Pahlawan Troya Mati Ketakutan

9 Agustus 2026 - 19:48 WIB

Ilustrasi. Foto: ist

Beroperasi Pakai Ambulans, Petugas Satpol PP Tangkap Pencuri Bangku di Taman Mundu Surabaya

9 Agustus 2026 - 19:29 WIB

Diduga Praktek Mafia Hukum, Istri Cari Keadilan Tiba-tiba Jadi Pengaju Gugatan Cerai di PA Karawang

9 Agustus 2026 - 18:44 WIB

OTT KKP Banjarmasin, KPK Dapat Setoran Rp8,3 M dari Saksi yang Namanya Dirahasiakan

8 Agustus 2026 - 19:07 WIB

Trending di News