Penulis: Tanasyafira L. Tirani | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.CO, JAKARTA — Di ruang pertemuan kenegaraan Istana Merdeka, suasana serius berubah menjadi hangat, akrab, dan penuh senyum.
Di hadapan para pejabat dan awak media, Presiden Prabowo Subianto secara khusus menyerahkan cenderamata istimewa kepada Perdana Menteri India, Narendra Modi: satu set angklung, alat musik bambu khas Jawa Barat yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya.
“Hadiah kecil dari kami, simbol persahabatan dan keharmonisan,” ujar Prabowo sambil menyerahkan alat musik itu dengan senyum lebar.
Modi menerimanya dengan antusias, memegang gagang bambu itu seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga. Matanya berbinar, jari-jarinya menyentuh batang-batang bambu yang tersusun rapi itu.
Keduanya lalu berdiri berdampingan, sama-sama memegang angklung masing-masing. Presiden Prabowo memegang angklung bernada dasar Do (C), suara paling dasar dan utama, sementara Perdana Menteri Modi memegang angklung bernada Sol (G), nada penyangga yang memberi keindahan harmoni.
Seorang pemusik angklung berdiri di samping mereka, siap memandu.
“Cukup digoyangkan perlahan, Pak,” bisik pemusik itu. Keduanya tertawa, lalu bersamaan mengayunkan tangan. Ting… ting… tung… suara bambu berdentang lembut, bersahutan, menciptakan nada yang indah.
Kuch Kuch Hota Hai
Modi tampak sangat senang, mengulangi gerakan itu berulang kali, semakin lincah, seolah sudah terbiasa memainkannya. Prabowo ikut tertawa melihat kegembiraan tamunya.
Momen paling berkesan terjadi saat pemusik utama mulai memainkan alunan nada yang sangat dikenal Modi dan seluruh rakyat India. Melodi lagu legendaris Kuch Kuch Hota Hai mengalun lembut dari deretan angklung.
Ab toh mera dil, jaage na sota hai
Kya karu haye, kuch kuch hota hai.
Secara spontan Modi melangkah mendekat, ikut bergoyang, dan memainkan nada-nada pelengkap lagu itu dengan tepat. Tepuk tangan riuh segera terdengar memenuhi ruangan.
“Wah, hebat sekali Pak Modi, ternyata berbakat musisi!” seru Prabowo sambil menepuk bahu tamunya dengan akrab. Modi hanya tersenyum lebar, matanya berbinar puas, seolah bangga bisa ikut memainkan lagu kenangan negaranya dengan alat musik Indonesia.
Diplomasi lewat budaya ini menjadi momen paling manusiawi di tengah seriusnya pembahasan kerja sama dagang, pendidikan, dan pertanian. Angklung yang sederhana itu menjadi jembatan hati: dua pemimpin bangsa besar, berbeda latar belakang, bersatu lewat nada dan rasa persahabatan.
Filosofi Angklung
“Angklung itu filosofinya kebersamaan. Tidak ada satu nada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya harus bersatu agar indah terdengar,” kata Prabowo menjelaskan makna hadiahnya.
Modi mengangguk setuju, menambahkan: “Begitu juga hubungan kita, Indonesia dan India, harus selalu selaras dan bersatu.”
Pagi itu, di ruang Istana Merdeka, tidak hanya kesepakatan kertas yang ditandatangani, tapi juga ikatan persaudaraan yang dipererat lewat alunan bambu dan melodi kenangan.**

















