Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Internasional

Singapore Airlines Minta Maaf Penumpang Muslim Disajikan Daging Babi di Penerbangan Kelas Bisnis

badge-check


					Ilustrasi SIA sajikan makanan mengandung babi (facebook) Perbesar

Ilustrasi SIA sajikan makanan mengandung babi (facebook)

Penulis:  Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Singapore Airlines secara resmi meminta maaf setelah seorang penumpang Muslim disuguhi hidangan pembuka berbahan daging babi dalam Penerbangan SQ24 dari Singapura ke New York pada 7 Juli 2025.

Tindakan tersebut menimbulkan pertanyaan terkait kepatuhan maskapai terhadap pantangan makanan serta upayanya memberi tahu penumpang tentang jenis makanan tersebut.

Menurut laporan, penumpang kelas bisnis yang merupakan penduduk tetap Singapura ini telah memesan Muslim Meal (MOML) untuk salah satu layanan makan, tetapi memilih hidangan dari program “Book the Cook” maskapai untuk layanan makan siang.

Hidangan pembuka yang disajikan adalah “salad Mediterania panggang dengan prosciutto”. Karena tidak familiar dengan kata “prosciutto”, ia bertanya kepada dua pramugari tentang bahan-bahan hidangan tersebut. Kedua pramugari tersebut meyakinkannya bahwa hidangan tersebut tidak mengandung babi.

Namun, setelah menyantap hidangan tersebut, penumpang tersebut menemukan bahwa prosciutto memang terbuat dari babi, yang menyebabkan apa yang ia gambarkan sebagai “pelanggaran pribadi dan spiritual yang mendalam”.

Singapore Airlines secara resmi menanggapi insiden tersebut dengan menyatakan: “Singapore Airlines (SIA) sangat menyesalkan bahwa seorang pelanggan dalam penerbangan SQ24 dari Singapura ke New York pada 7 Juli 2025 disuguhi hidangan pembuka yang mengandung daging babi. Kami dengan tulus meminta maaf kepada pelanggan yang terdampak atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.” Maskapai ini juga mencatat bahwa ketika awak kabin mengetahui bahwa pelanggan tersebut tidak mengonsumsi daging babi, mereka segera meminta maaf, menyingkirkan hidangan tersebut, dan menawarkan alternatif.

Menyusul insiden tersebut, Singapore Airlines telah meningkatkan pelatihan awak kabin dan prosedur layanannya dengan penekanan khusus pada keakraban bahan dan komunikasi yang jelas dengan pelanggan mengenai isi makanan.

SIA tetap berkomunikasi langsung dengan pelanggan yang terdampak terkait insiden ini, komentar perusahaan. Namun, penumpang tersebut menolak tawaran kompensasi awal maskapai berupa voucher S$150, yang ia gambarkan sebagai “menyedihkan dan menghina.” Ia juga menolak tawaran 15.000 dan 30.000 mil KrisFlyer. Penumpang tersebut menekankan bahwa “tidak ada orang beriman — Muslim, Yahudi, Hindu, atau lainnya — yang akan dengan sengaja melanggar hukum diet suci demi 30.000 mil.” Ia juga menyatakan bahwa “ini bukan sekadar kegagalan layanan,” dan bahwa insiden ini “menyebabkan pelanggaran pertama praktik diet religius [nya] dalam 30 tahun.”

“SIA sangat berkomitmen untuk menghormati keberagaman latar belakang agama dan budaya semua pelanggan kami,” demikian pernyataan maskapai, yang selanjutnya menyarankan pelanggan dengan kebutuhan diet khusus, termasuk kebutuhan keagamaan, untuk memesan terlebih dahulu makanan khusus mereka untuk semua layanan makan setidaknya 24 jam sebelum keberangkatan. Pilihan makanan khusus Singapore Airlines termasuk Muslim Meal (MOML), yang memastikan tidak ada alkohol, daging babi, produk sampingan babi, ham, atau bacon yang digunakan dalam persiapan makanan.

Insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang pentingnya komunikasi yang jelas antara maskapai penerbangan dan penumpang mengenai kebutuhan makanan dan persyaratan pelatihan yang tepat bagi awak kabin untuk menangani masalah sensitif tersebut dengan tepat.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Bill Gates Peringatkan, AI Dapat Membuat Bencana Ekonomi

28 Agustus 2026 - 19:07 WIB

Ratu Suthida Bikin Sejarah, Jalani Latihan Solo dengan Jet Tempur JAS 39 Gripen

27 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Era Baru Robotika: Ketika Kecepatan Lari Robot Salip Rekor Usain Bolt

23 Agustus 2026 - 19:21 WIB

Ilmuwan Tiongkok Menciptakan Berlian yang Tak Bisa Dihancurkan

19 Agustus 2026 - 21:42 WIB

KPJ Damansara Specialist Hospital 2, Rumah Sakit Layaknya Hotel

18 Agustus 2026 - 07:39 WIB

Kereta Cepat Tiongkok Pecahkan Rekor Akselerasi dari 0 hingga 800 km/jam dalam 5 detik

16 Agustus 2026 - 18:47 WIB

PM Australia Minta Maaf karena Mengatakan Akan ‘Berhubungan Seks’ dengan Kylie Minogue

7 Juli 2026 - 19:22 WIB

Dr Lee Woo Guan: Robot dan Kecanggihan Teknologi Hanya Membantu, Peran Dokter Tetap Nomor Satu

28 Juni 2026 - 12:29 WIB

Chee Kit Chong WN Australia Dinyatakan Bersalah Memperbudak Lansia Indonesia

28 Mei 2026 - 21:45 WIB

Trending di Internasional