Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Nasional

Pemerintah Kumpulkan Bandar Sapi Usut Kenaikan Harga di Pasar

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Pemerintah pusat menilai kenaikan harga daging sapi dan ayam menjelang Ramadan tidak bersumber dari peternak, melainkan terjadi di tingkat perantara dalam rantai distribusi.

Pemerintah berencana mengumpulkan asosiasi bandar sapi di Jawa Barat guna mengharmoniskan harga dan menekan praktik pengambilan margin berlebihan di tingkat perdagangan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir menyampaikan hasil pemantauan di lapangan menunjukkan harga di tingkat hulu relatif stabil dan tidak mengalami kenaikan signifikan. Namun, harga di pasar konsumen justru melonjak dan dinilai tidak sejalan dengan kondisi produksi.

Tomsi menjelaskan berdasarkan laporan daerah dan pengecekan langsung ke pasar, harga sapi hidup di tingkat feedlotter masih berada di kisaran Rp55.000 per kilogram berat hidup. Dengan kondisi tersebut, ia menilai tidak ada alasan harga daging sapi melonjak tajam di tingkat konsumen.

“Di feedlotters sendiri harga keluarnya Rp55.000 sampai hari ini. Jadi tidak ada masalah di hulu ini, harga sapinya masih Rp55.000 per kilo berat hidup, artinya tidak mungkin harganya itu sampai Rp150.000 kalau ini ikut sama-sama dikendalikan,” ujar Tomsi, Senin (23/2/2026)

Ia mencontohkan temuan di sejumlah pasar di Jawa Barat. Harga ayam di kandang peternak di wilayah Subang tercatat berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram. Namun, setelah masuk ke pasar tradisional, harga jual melonjak jauh di atas kewajaran.

“Di daerah Subang itu harganya Rp22.000 sampai Rp23.000, tapi begitu sampai di pasar terima Rp26.000 dalam kondisi bersih, dijualnya Rp42.000,” katanya.

Menurut perhitungan pemerintah, dengan asumsi rendemen karkas sekitar 70%, harga jual ayam di kisaran Rp38.000 per kilogram sudah memberikan keuntungan yang memadai bagi pedagang.

“Padahal dijual Rp38.000 saja masih ada untung sekitar Rp4.000 sampai Rp5.000 per kilo bagi pedagangnya,” ujar Tomsi.

Tomsi menegaskan, lonjakan harga bukan disebabkan oleh peternak maupun ketersediaan stok nasional. Pemerintah menilai ada pedagang perantara dan broker yang mengambil keuntungan berlebih, terutama menjelang periode permintaan tinggi seperti Ramadan.

“Yang berkeringat, yang memelihara sapi sama ayamnya nggak untung. Broker yang di tengah, pedagang besar yang di tengah, yang memainkan harga,” tegasnya.

Ia menyebutkan, dalam struktur harga terdapat tiga lapisan utama, yakni harga di peternak, harga di pengepul atau bandar besar, dan harga di tingkat konsumen. Berdasarkan pemantauan, harga di peternak tidak mengalami kenaikan, sehingga peternak tidak memperoleh tambahan keuntungan dari momentum Ramadan.

Pemerintah Siapkan Langkah Pengendalian dan Penegakan HET

Untuk mengendalikan situasi tersebut, pemerintah akan menurunkan satuan tugas di tingkat kabupaten dan kota bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Pemerintah juga menegaskan kembali penerapan Harga Eceran Tertinggi sebagai instrumen pengendalian.

“Kita punya harga eceran tertinggi. HET, tegakkan hukum itu. Dan saya minta turun setiap hari,” ujar Tomsi.

Ia menambahkan pemerintah akan melakukan pemantauan dan pembaruan data harga secara rutin melalui Badan Pusat Statistik guna mengidentifikasi daerah yang masih mencatatkan kenaikan harga di atas kewajaran.

“Mana daerah yang masih naiknya keterlaluan. Kita tegakkan betul aturannya berkaitan dengan harga eceran ini,” katanya.

Asosiasi Bandar Sapi 

umpulkanSebagai langkah lanjutan, pemerintah akan mengundang asosiasi bandar sapi, khususnya di Jawa Barat, untuk membahas penyesuaian harga dan memastikan distribusi berjalan wajar.

“Kami hari Rabu besok juga akan mengumpulkan semua teman-teman asosiasi bandar sapi di Jawa Barat untuk juga mengharmoniskan tadi. Jadi kondisi di produsen dan di bandar sudah baik, ini di pasarnya ternyata yang mengambil posisi mencari menambah keuntungannya,” ujar Tomsi.

Ia menegaskan, langkah tersebut diambil agar tidak ada pihak yang dirugikan, baik peternak maupun pedagang, selama harga tetap berada dalam batas kewajaran.

“Peternak tidak rugi. Pedagang pun silakan untung, tapi jangan keterlaluan,” tutupnya.***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ojol Minta Potongan Komisi 8% Diperluas ke Layanan Delivery

3 Juli 2026 - 18:44 WIB

Kadin Jatim: Perlu Pembahasan Komprehensif RPMK Tembakau

2 Juli 2026 - 19:55 WIB

Ditemukan Gudang Narkotika di Gresik Sindikat Internasional

2 Juli 2026 - 19:10 WIB

BPOM Temukan 12 Obat Bahan Alam Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat

1 Juli 2026 - 20:04 WIB

Pertamax Turbo Turun Harga Per 1 Juli 2026, Simak Daftar Harga

1 Juli 2026 - 19:41 WIB

Operasi Gabungan Satpol PP dan Bea Cukai Gresik Berhasil Amankan Ribuan Batang Rokok Ilegal

30 Juni 2026 - 22:33 WIB

Tarif Listrik Juli-Agustus-September Tak Naik

30 Juni 2026 - 21:23 WIB

Tumpeng Nasi Krawu KWG Berhasil Masuk Rekor Dunia

30 Juni 2026 - 06:05 WIB

Peternak Unjuk Rasa dan Bagi Telur Gratis di Gedung DPRD Jatim

29 Juni 2026 - 20:18 WIB

Trending di Nasional