Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (30): Pasukan Celana Pendek dalam Kerusuhan Suci

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato   |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM— Seperti dilakukan kelompok-kelompok revolusioner lain, kaum Jacobin pun diorganisasikan dalam model pembinaan ala asrama kaum radikal dan komisi yang tersebar luas di seluruh negeri. Namun, mereka justru menghadirkan ancaman bagi para borjuis kelas menengah yang ada di Konvensi, yang tengah menyusun konstitusi liberal baru.

Sulitnya ekonomi yang berjalan iring dengan berkurangnya rasio pembagian roti pada tahun 1795 menyeret Paris terjebak dalam tarik menarik kesusuhan populer yang segera dibubarkan oleh Pengawal Nasional yang setia, yang sebetulnya tumbuh dari milisi sebelumnya juga dari korps-korps pasukan yang terpilih.

Sebuah komisi militer menjatuhkan hukuman mati atas ribuan pasukan bercelana pendek (sans-cullotes) dan para pemimpin mereka ke tempat eksekusi mati atau penjara.

Setelah itu, Dewan Konstitusi baru memperoleh kekuasaan selama empat tahun yang penuh bahaya. Mereka pun akhirnya diusir keluar dari sebuah kudeta terakhir di Brumaire pada tahun 1799 oleh Jenderal Napoleon Bonaparte, yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Kaisar Perancis pada tahun 1804.

Bagi Marrat, kejahatan revolusioner dibenarkan. Itulah senjata rakyat yang berdaulat untuk mendapatkan dan mempertahankan kebebasan mereka melawan tirani.

Penolakan terhadap penindasan menjadi satu Hak asasi manusia. “Kerusuhan suci” menjadi tugas, seperti juga revolusi yang berkelanjutan.

“Mekanisme politik hanya dapat digulung untuk ditata kembali lewat kerusuhan kejam.”

Ideologi ini menjadi perubahan yang menginspirasi Revolusi Perancis yang mengantarkan tiga kerusuhan penting lagi di Paris pada abad selanjutnya.

Belakangan, para pemikir sosialis berpikir bahwa pemberontak ‘Grachus Babeuf yang gagal merupakan puncak perang kelas social yang bakal muncul.

Dalam bukunya Tribun du people (Tribun Rakyat) dan Manifesto of the Equals (Manifesto orang-orang semartabat) pada tahun 1896, Babeuf menyerukan penghapusan harta milik pribadi dan dibangunnnya suatu bentuk komunisme. Namun demikian, doktrin-doktrinnya lebih berutang budi kepada milenialisme kristen dibanding memicu sosialisme.

“Waktu untuk langkah-langkah besar telah tiba,” dia memaklumkan, “Kejahatan berada di puncaknya; ia menutupi muka bumi. Kekacuaan demi nama politik, berkuasa selama berabad-abad. Semuanya harus kembali ditata dan mengambil tempatnya kembali.”

Semakin terbiasa dengan gerakan kaum anarkis yang kemudian muncul lebih kuat, Babeuf menginginkan agar hak atas tanah dan buah-buahan dipulihkan bagi masyarakat setempat.

Dia menginginkan penghapusan harta milik pribadi guna menjamin distribusi produksi yang adil. “Semua seni berbahaya, jika harus,“ dia sebegitu jauh terus memaklumkan;”sejuh kesamaan derajat yang sesungguhnya tetap milik kita!”

Prinsipnya memang sangat utopis dan destruktif, namun sama sekali tidak menarik bagi para pekerja yang tidak mendapatkan tempat pada era Revolusi Industrial yang akan datang.

Ini terbukti dengan gagalnya “Konspirasi Orang-orang yang Semartabat” garapannya, pada tahun 1796, ketika dia memiliki sekelompok kaum Jacobin dan sel-sel militant berupaya membangkitkan para pasukan bercelana pendek yang apatis untuk meraih kekuasaan di Paris.

Sebanyak tiga puluh pemberontak ditembak mati tanpa diadili, sementara Babeuf diadili dan kemudian di bawah ketiang guillotine untuk dipancung. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Petani Lapor Sulit Mendapat Pupuk Subsidi, Menteri Amran Langsung Copot Manajer Gudang Banggai

11 September 2026 - 19:29 WIB

Investasi Jatim Turun 2,6%, Apindo Soroti Kepastian Berusaha

11 September 2026 - 18:59 WIB

Keracunan Massal Pindah ke Lombok Tengah: 352 Siswa di Lima SDN dan MTs Bukitliang

11 September 2026 - 17:14 WIB

Lamaran Ditolak, Mantan Pacar Bunuh Dua Remaja Kakak Beradik 5 Tahun Baru Terkuak

11 September 2026 - 11:34 WIB

Zulhas: MBG, Kita Akui Gagal! Sabar, Kita Perbaiki Manajemennya

11 September 2026 - 10:54 WIB

Sayembara Bukti Ijazah Gibran Berhadiah Rp10,28 M Ditutup, Denny Indrayana: Dilanjut Gugatan ke MK

11 September 2026 - 09:58 WIB

SAR Gabungan Temukan Jaket Pelampung dan Botol, Belum Dipastikan Milik 5 Jurnalis dan 3 Kru Liputan Anak Krakatau

10 September 2026 - 21:46 WIB

Tim SAR Gabungan temulan satu jaket pelampung dan botol putih, tetapi belum bisa dipastikan yang dikenakan para jurnalis, Rabu 10 September 2026. Foto: okezone

Salah Injak Pedal: Alphard Santap 3 Mobil, 11 Motor, dan Rombong Bakso di Sukolilo

10 September 2026 - 03:46 WIB

Menelisik Akar Terorisme (55): Kisah Pembantaian 100 Pria dan 5 Wanita Pelancong

9 September 2026 - 19:53 WIB

Trending di News