Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Menelisik Akar Terorisme (29): Ketika Kekerasan Jadi Bagian Pengamanan

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |   Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM–  Di bawah Robespiere dan Komisi Keamanan Publik, kekerasan menjadi bagian dari mesiu keamaan – suatu aspek perang yang memang tidak dapat dipisahkan.

Pembantaian massal manusia pertama yang dikenal dengan Pembantaian September di Paris pada 1792 merupakan konsekwensi dari kejatuhan Verdun pada pasukan-pasukan asing. Itulah saat jatuhnya radikalisme, wabah ketakutan.

Kaum Jacobin pun mengutuk “kaum tirani partisan dan federasi serta musuh kebebasan.” Akibatnya, ribuan tahanan istimewa ditembak atau dipancung di tiang gouillotine.

Teror bergaya halus (white terror) kaum kontrarevolusioner meluas dari Macon melewati Lyon hingga Marseille sepanjang Rhone, tempat para bandit dan penjahat bergabung dengan pengungsi bangsawan guna membenarkan upaya pembinasaan mereka yang dilancarkan Raja Bourbon, agar segera dipenggal kepalanya bersama Permasurinya, Marie Antoinette.

Teror benar-benar hanya melahirkan terror. Kebijakan kejam yang sengaja dilancarkan Roberspiere memperhebat perlawanan pasukan-pasukan revolusioner. Mereka mulai menekan lawan-lawan mereka dari Perancis dan dari negeri mereka sendiri.

Para pejuang pemenang perang di Vendee di barat dibantai. Pemberontak di Lyon dan Marseille, Toulon dan Bordeaux pun dihabiskan.

Pesaing dan kolega Robespiere, Marat, bahkan menciptakan “tirani kebebasan” atau “diktator pertahanan nasional.” Dia sendiri pun menjadi korban berikut dari aksi pembantaian.

Terdorong oleh langkah-langkah yang direkomendasikan oleh sekelompok kaum radikal yang marah pimpinan Roux yang terkenal dengan slogannya, “Matilah Para Pemonoli,” sebuah Tribun Revolusi pun dibangun.

Tribun ini memiliki kekuasan penuh untuk mengambil alih pasokan barang dan pengawasan harga serta pemilikan harta benda semua tertuduh. Dengan demikian, pengumpulan makanan kini menjadi kejahatan penting.

Sembari melebih-lebihkan Machiavelli sebagai filsuf teror negara, Robespiere berbicara kepada Konvensi seputar prinsip-prinsip moralitas politik, padahal dia seharusnya membimbing lembaga itu dalam pembuatan keputusan.

“Pendorong utama pemerintahan popular pada masa perang adalah kebajikan dan teror. Teror tanpa kebajikan memang sangat penting; tetapi kebajikan tanpa terror sama sekali tidak berdaya. Teror tidak ada artinya selain bertindak adil yang tepat, keras dan tidak berubah-ubah. Dengan demikian, teror melahirkan kebajikan.”

Pidato menakutkan itu menegasi aturan hukum demi mendukung kezaliman guna mempertahankan pemerintah revolusioner tetap berkuasa.

Hak asasi manusia dengan demikian, dicabut demi Keinginan Rakyat yang tidak terlihat namun diasumsikan ada.
Selama masa puncak teror, kira 400.000 korban ditahan sebanyak 17.000 dari mereka dihukum mati.

Angka ini nampaknya kecil dibanding kekejaman abad keduapuluh ketika puluhan juta manusia tidak berdaya mati dalam apa yang disebut sebagai “perang kelas social.” Ribuan para kontra-revolusi lagi dibantai di antara para pemberontak Vendee pada tahun 1793.

Carrier yang keji melaporkan kepada Komisi Keamanan Publik bahwa dia telah memerintahkan untuk membakar dan membasmi semuanya, termasuk kaum wanita sekalipun karena membantu musuh.

Banyak narapidana ditembak mati sementara ribuan lainnya ditenggelamkan di Nantes. Sementara itu Carier menyombongkan diri; “Betapa hebatnya gelombang revolusi Loire.”

Lebih dari 800 orang lagi dieksekusi di Toulon karena bekerja sama dengan penjajah Inggeris. Meskipun demikian, secara keseluruhan, pembunuhan massal dalam negeri selama teror berlangsung hanyalah suatu porsi kecil dari orang-orang yang tewas dalam perang-perang kekaisaran Napoleon.

Faksi-faksi yang melancarkan teror ternyata memakan diri sendirinya, bagai ular memakan ekornya sendiri. Pasukan-pasukan Konvensi yang moderat pun tampil berseberangan sikap dengan Komisi Keamanan Publik, yang sudah terpecah belah.

Pasukan ini semakin hari makin prihatin seiring dengan mulai munculnya serangan kaum sosialis terhadap hak milik perorangan. Sebuah kudeta internal yang meledak pada bulan kesebelas kalender revolusi Perancis, (month of Thermidor) menyebabkan Robespiere dan kelompoknya ditangkap kemudian dieksekusi.

Berhasilnya perang melawan para penyerang asing dan pemberontak internal menyebabkan retribusi menjadi kurang berarti lagi. Itulah masa untuk mengugah anjuran-anjuran revolusi sosial, Para pembersih kini seharusnya dibersihkan. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Hakim Vonis Nadiem Makarim 10 Tahun Penjara, Uang Pengganti Rp45,2 Miliar

30 Juni 2026 - 21:08 WIB

Polisi Ringkus 4 Pelaku Ranmor di Made, AKP Magribi: Mereka Spesialis Acara Hiburan Massal

30 Juni 2026 - 19:27 WIB

Kasus Penyekapan 3 Karyawan Percetakan di Jakarta, Polisi Amankan 7 Orang Tersangka Termasuk Pemilik Usaha

30 Juni 2026 - 11:56 WIB

Tumpeng Nasi Krawu KWG Berhasil Masuk Rekor Dunia

30 Juni 2026 - 06:05 WIB

Korsleting Listrik, Tiga Kamar Tidur Ludes Dilalap Api

29 Juni 2026 - 19:19 WIB

Petugas lakukan pembasahan agar api tak kembali muncul di lokasi kebakaran

Dr. Lee Woo Guan, Ahli Bedah Ortopedi Bertangan Dewa

29 Juni 2026 - 16:19 WIB

Wapres Gibran Buka Permata CAI di Wonosalam, Diikuti 2.000 Santri Gadingmangu Jombang

29 Juni 2026 - 15:26 WIB

Menelisik Akar Terorisme (28): Machiavelli Kagumi Casare Borgia

29 Juni 2026 - 14:03 WIB

Kubah Panas dari Sahara Landa Eropa, WHO: 1.300 Kematian Sejak 21 Juni 2026

29 Juni 2026 - 11:45 WIB

Trending di News