Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (28): Machiavelli Kagumi Casare Borgia

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM— Hingga Revolusi Perancis meledak, teror tidak memiliki banyak defenisi. Merupakan metode penggunaan kekerasan untuk menakuti-nakuti para penguasa dan bawahan mereka supaya bisa menjarah, meraup dan mempertahankan kekuasaan.

Satu-satunya filsuf tentang teror adalah Machiavelli, yang mengagumi teknik-teknik Cesare Borgia. Ia bahkan melukiskan kekejaman tokoh pujaannya itu demi keuntungan para pangeran masa datang.

Namun, seiring adanya “Teror” yang dijalankan kaum Jacobin di Prancis setelah tahun 1792, politik kekerasan revolusioner terungkap. Ia menginformasikan konspirasi dua tirani utama Rusia dan Cina serta lusinan pemerintahan lainnya.

Sejarah “Teror” dapat dilacak, terkait dengan cara sejarah Eropa, sebelum dan sesudah Robespiere, bukan sebelum dan sesudah Kristus.

Bagi Academie Francaise, teror pertama-tama merupakan emosi yang disebabkan oleh pendekatan jahat atau berbahaya. Suatu shock, suatu ketakutan yang luar biasa. Tetapi yang kedua, teror merupakan kekerasan dan kejahatan sistematis yang dilakukan dengan tujuan menakut-nakuti kelompok perorangan.

Istilah ini membedakan pihak yang diteror dan para teroris yang mengatur jumlah kekerasan mereka, yang kadangkala — diakui sebagai sekedar propaganda kejahatan atau pembunuhan sasaran-sasaran yang dipilih; namun dapat mengakibatkan sikap buas massal, seperti pada Pembantaian Hari Raya St. Bartolomeus.

Tujuannya adalah memprovokasi tingkat ketakutan antarmanusia yang diperlukan para pelaku konspirasi untuk meraih tujuan politis mereka.

Meski kacau, dilihat dari pertimbangan dan perencanaannya, “teror“ Revolusi Perancis sangat luar biasa dibandingkan dengan semua penyebaran teror sebelumnya.

Tidak ada pelopor ideologi baru yang demikian. Teror ala Perancis melontarkan adanya supremasi akal budi, kekuataan kehendak yang tanpa batas dan perubahan masyarakat tanpa batas melalui aksi-aksi yang tanpa henti.

Meski demikian, pada tahun 1789, ketika revolusi dimulai, tujuan para pemimpin Masonik Third Estate lebih kecil dibanding tujuan akhir para pemimpin revolusioner Amerika, yang berniat meraih kebebasan, tanpa terlampau memperhitungkan kesamaan derajat, dan akhirnya rasa aman untuk memiliki kekayaan.

Seiring munculnya Rasa Takut Luar Biasa dari para perompak dan konspirator aristokat, yang mengarah kepada upaya mempersenjatai milisi perkotaan dan pedesaan, maka sejak tahun 1789, pengawasan dari Third Estate mulai menghilang. Meskipun demikian, sejumlah markas militer dijaga dengan baik oleh berbagai kesatuan bersenjata, sebelum pasukan revolusi hasil improvisasi para penguasa monarki Austria dan Prusia serta Spanyol mengalami serangkaian kekalahan yang menimbulkan rasa takut yang sangat luas terhadap adanya kudeta yang dilancarkan kelompok-kelompok bangsawan yang setia, khususnya di Perancis selatan,

Seperti ditulis oleh sejarahwan Inggeris, Frode, “Ketakutan merupakan induk kekejaman.” Masyarakat aman dengan pemimpin yang sah sedikit sekali membutuhkan patokan-patokan kaku.

Tetapi terlepas dari logis atau tidak, “teror” memang menjadi respons terencana ketika pemerintah radikal Perancis yang baru berdiri takut terhadap ancaman musuh, baik dari dalam maupun dari luar pintu gerbang istananya. Seperti diamati Salust dari Roma dalam bukunya Catalina, “Ketakutan menutup telinga pikiran manusia.”

Selama revolusi dan dua ratus tahun berikutnya, debat penuh kemarahan yang meledak-ledak seputar pentingnya taktik keji Robespiere dan kaum Jacobin pun muncul. Semua orang yang menulis tentang aksi-aksi ini mengatakan taktik-taktik itu tidak perlu dan tidak dapat dipertahankan.

“Setiap panen membutuhkan sabitnya,” tegas Alphonse Esquiros. “Revolusi Prancis membutuhkan teror.” Pendapatnya ini ditentang oleh para Encyclopediste dan filsuf Benyamin Constant, yang bertujuan “menunjukkan bahwa republik itu aman meski ada terror.”

Bagi Yoseph de Maistre, para aristocrat yang diangkut dengan pedati menuju tempat pembantaian dan penggunaan keadilan sumir lewat pengaduan yang tidak adili, memang diperlukan.

Pemandangan mengerikan baik bagi moral. Orang miskin pun kini dipersiapkan untuk bersedia bertempur di medan perang dan menghancurkan gerakan kontrarevolusi yang muncul. Ketakutan menjadi respon improvisasi terhadap serangan dan konspirasi asing dalam negeri; menjadi sarana kemenangan terorganisasi.

Albert Sorel mencatat adanya kontradiksi yang berhasil: “Tiang gantungan serta tentara dan pemerintahan yang membasmi, demikian juga para pahlawan yang mengorbankan nyawa mereka.” (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Petani Lapor Sulit Mendapat Pupuk Subsidi, Menteri Amran Langsung Copot Manajer Gudang Banggai

11 September 2026 - 19:29 WIB

Investasi Jatim Turun 2,6%, Apindo Soroti Kepastian Berusaha

11 September 2026 - 18:59 WIB

Keracunan Massal Pindah ke Lombok Tengah: 352 Siswa di Lima SDN dan MTs Bukitliang

11 September 2026 - 17:14 WIB

Lamaran Ditolak, Mantan Pacar Bunuh Dua Remaja Kakak Beradik 5 Tahun Baru Terkuak

11 September 2026 - 11:34 WIB

Zulhas: MBG, Kita Akui Gagal! Sabar, Kita Perbaiki Manajemennya

11 September 2026 - 10:54 WIB

Sayembara Bukti Ijazah Gibran Berhadiah Rp10,28 M Ditutup, Denny Indrayana: Dilanjut Gugatan ke MK

11 September 2026 - 09:58 WIB

SAR Gabungan Temukan Jaket Pelampung dan Botol, Belum Dipastikan Milik 5 Jurnalis dan 3 Kru Liputan Anak Krakatau

10 September 2026 - 21:46 WIB

Tim SAR Gabungan temulan satu jaket pelampung dan botol putih, tetapi belum bisa dipastikan yang dikenakan para jurnalis, Rabu 10 September 2026. Foto: okezone

Salah Injak Pedal: Alphard Santap 3 Mobil, 11 Motor, dan Rombong Bakso di Sukolilo

10 September 2026 - 03:46 WIB

Menelisik Akar Terorisme (55): Kisah Pembantaian 100 Pria dan 5 Wanita Pelancong

9 September 2026 - 19:53 WIB

Trending di News