Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Pergelaran Ludruk Lahirnya Soekarno Putra Sang Fajar tidak Menyentuh Ploso, Tampil di Lapangan Pulo Lor Jombang

badge-check


					Penyerahan Bendera Merah Putih dari Wiwin Sumrambah kepada aktor pemeran Bung Karno, pergelaran ludruk Budi Wijaya, Lahirnya Soekarno, Putra Sang Fajar, Minggu malam, 28 Juni 2026. Foto: kredonews.com/ priyo suwarno Perbesar

Penyerahan Bendera Merah Putih dari Wiwin Sumrambah kepada aktor pemeran Bung Karno, pergelaran ludruk Budi Wijaya, Lahirnya Soekarno, Putra Sang Fajar, Minggu malam, 28 Juni 2026. Foto: kredonews.com/ priyo suwarno

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOMBANG– Massa memadati lapangan terbuka Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang, pada Minggu malam, 28 Juni 2026. Mereka tumpah ruah berdatangan dari berbagai tempat untuk menyaksikan pergelaran kesenian Ludruk bertajuk Lahirnya Soekarno: Putra Sang Fajar.

Acara ini masih terkait dengan Juni Bulan Bung Karno, digagas Wiwin Sumrambah, S.Pt., M.A., Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, untuk membangkitkan seni ludruk asli Jombang yang semakin redup dan jarang muncul menghibur masyarakat.

Gagasan ini mendapat dukungan penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Hadir sebagai tamu kehormatan antara lain Ibu Hajah Sadar Estuwati, Anggota DPR RI, perwakilan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, jajaran instansi terkait di tingkat kabupaten dan kecamatan, serta Kepala Desa Pulo Lor, Suharto.

Wiwin Sumrambah menegaskan bahwa Ludruk adalah kebanggaan masyarakat Jombang.

“Kesenian ini lahir dari bumi kita sendiri, sehingga menjadi kewajiban bersama agar tetap hidup dan dicintai oleh generasi penerus,” ujarnya.

Melalui lakon yang mengangkat kisah perjalanan hidup Bung Karno. Dari masa kecil yang sering sakit-sakitan hingga menjelma menjadi tokoh perjuangan besar — ia berharap semangat juang dan cinta tanah air dapat terus terjaga.

Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Sadari S.Pn,  menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Ludruk bukan sekadar hiburan, melainkan media penyampaian pesan kehidupan, nasihat, dan kebersamaan yang mendidik,” katanya.

Suasana acara berlangsung meriah dan interaktif. Sebelum pertunjukan utama dimulai, diadakan sesi kuis sejarah yang melibatkan penonton dari berbagai usia.

Salah satu penonton, Valen (12 tahun), siswa kelas 1 SMP warga Jombang, mengaku baru pertama kali menyaksikan Ludruk secara langsung. “Saya senang bisa menontonnya, jadi lebih tahu kisah Bung Karno dan kesenian daerah sendiri,” ungkapnya.

Pergelaran ini diawali penyerahkan keris dan bendera merah putih kepada penari remo, dan pemeran Bung Karno.

Ludruk modern Budi Wijaya adalah model kesenian tradidional yang telah beruban tampilan mulai dari gamelan, pengiting, tata lampu, penggunaan tata panggung, ada pelengkap layar digital.

Meski tetap memegang pakem seni ludruk, tetapi lebih menonjolkan suguhan tambahan musik campursari, seni tradisisi, jaran kepang. Campur aduk, membuat suasana meriah dan menghibur.

Acara inti sajian sesuai lakon: Bung Karno Putra Sang Fajar, diletakkan di ujung akhir pertunjukkan pada acara, itu pun cuma setengah jam.

Oleh karenanya, penonton tidak mendapatkan kisah lebih utuh, apalagi berharap muncul cuplikan kisah bahwa Bung Karno punya jejak sejarah lahir di desa Rejoagung, kecamatan Ploso, Jombang, pada tanggal 1 Juni 1902.

Pada acara itu kepala Desa Pulo Lor, Suharto menyampaikan rasa terima kasih, karena pergelaran ini telah lama dinanti akhirnya terselenggara dengan lancar.

Penyelenggara berkomitmen untuk melanjutkan sinergi, agar kegiatan serupa dapat kembali digelar di tahun-tahun mendatang.**

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kubah Panas dari Sahara Landa Eropa, WHO: 1.300 Kematian Sejak 21 Juni 2026

29 Juni 2026 - 11:45 WIB

Pengacara: Saya Dapat Info Polisi Sudah Tangkap Pria yang Terakhir Bersama Ruly Yunis

29 Juni 2026 - 11:09 WIB

Binhad dan Kuswartono Serahkan Buku kepada Eri Cahyadi: Ir Soekarno Lahir di Ploso Jombang 1 Juni 1902

28 Juni 2026 - 15:13 WIB

LEAF71+Noyron Hasilkan Mesin Jet AI Berkecepatan 28.000/ Jam

28 Juni 2026 - 13:31 WIB

Dr Lee woo Guan: Robot dan Kecanggihan Teknologi Hanya Membantu, Peran Dokter Tetap Nomor Satu

28 Juni 2026 - 12:29 WIB

Menelisik Akar Terorisme (27): Kaum Illuminati dan Revolusi Prancis

27 Juni 2026 - 16:44 WIB

Juragan Percetakan Tuduh Tiga Pegawai Mencuri, 21 Hari Dirantai dan Minta Tebusan Rp50 Juta

27 Juni 2026 - 16:18 WIB

Belanda Umumkan Kode Merah: Suhu 39°C Bikin Aspal Meleleh dan Dehidrasi

27 Juni 2026 - 15:44 WIB

Wartawan Diundang Keluar, Presiden Prabowo Ingin Berdiskusi dari Hati ke Hati Bersama Rektor dan Dosen

27 Juni 2026 - 14:57 WIB

Trending di News