Menu

Mode Gelap

Nasional

Misbakhun Kritik Kenaikan Cukai Rokok dan Sebutkan Jenis Subsidi yang Harus Diberikan

badge-check


					Misbakhun Kritik Kenaikan Cukai Rokok dan Sebutkan Jenis Subsidi yang Harus Diberikan Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM.JAKARTA- Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti kebijakan pemerintah yang terus menaikkan tarif cukai rokok. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya membebani industri rokok, tetapi juga merugikan petani tembakau yang menjadi bagian awal dari rantai produksi.

“Bayangkan, ratusan triliun kita terima dari cukai tembakau, ribuan triliun akumulasinya. Tapi tidak ada subsidi apapun terhadap petani tembakau,” ujar Misbakhun dalam pernyataan yang diunggah akun Instagram @totalpolitikkcom, 22 Agustus 2024.

Ia menegaskan, tidak ada alokasi subsidi bibit, pestisida, maupun pupuk yang diberikan pemerintah untuk petani tembakau. Bahkan, menurutnya, di Kementerian Pertanian tidak ada satu rupiah pun anggaran khusus bagi petani tembakau.

“Pernah tahun 2017 ada anggaran Rp5 miliar, tapi itu pun dipakai untuk sosialisasi mengenai bahaya tembakau,” tambahnya.

Misbakhun juga menyinggung soal kondisi industri hasil tembakau (IHT) yang kian terpuruk akibat kenaikan cukai. Ia membandingkan jumlah pabrik rokok yang pada 2004 mencapai 6.000, kini tinggal tersisa sekitar 1.400.

“Bayangkan, pejabat melihat industri rontok senang, melihat rakyat jatuh senang. Ini masuk akal nggak sih, dalam situasi seperti ini cukai terus dinaikkan?” ucapnya.

Politikus Golkar itu mengingatkan, industri tembakau dulu dikenal sebagai salah satu sektor yang tahan krisis, bahkan saat krisis 1998. Namun kini, kata dia, tekanan cukai membuat industri tersebut kehilangan daya tahannya.

“Dulu satu-satunya industri yang tidak masuk zona merah saat krisis adalah tembakau. Tapi sekarang mereka menghadapi tekanan tarif yang eksesif,” jelasnya.

Misbakhun juga mengungkap bahwa para konglomerat yang lahir dari industri tembakau dulu mampu mengakuisisi berbagai sektor usaha lain yang terpuruk saat krisis, dan membuatnya kembali sehat.

Namun kini, kondisi itu justru berbalik karena industri tembakau sendiri mengalami penurunan akibat kebijakan fiskal yang dianggap tidak rasional.*****

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPR Kritik Keras OJK Lambat Tangani Kasus PT Dana Syariah Indonesia yang Macet Rp 2,4 Triliun

17 Januari 2026 - 20:30 WIB

Tubir Telaga Sarangan Ambrol, Tiga Orang dan 8 Unit Motor Turut Tecebur Danau

17 Januari 2026 - 19:46 WIB

Basarnas Kerahkan 40 Relawan dan Drone Mencari Pesawat ATR Jatuh di Lereng Gunung Bulusaraung Maros

17 Januari 2026 - 19:19 WIB

Super Flu Ditemukan di Bali, Menkes Minta Masyarakat Tenang

17 Januari 2026 - 15:48 WIB

Pekerja Migran Indonesia asal Madiun di Australia, Dua Tahun Tak Dibayar

17 Januari 2026 - 15:08 WIB

130 Ha Sawah Terendam Banjir di Ploso, Dispertan: Sudah Dilaporkan ke Jasindo untuk Asuransi

17 Januari 2026 - 14:30 WIB

Bung Karno Lahir di Ploso, Binhad Nurrohmad dan TACB Jombang Rekonstruksi Kedatangan Cindy Adams

17 Januari 2026 - 14:19 WIB

Berbuat Onar dan Resahkan Warga, Polisi Jombang Ringkus 43 Oknum Pendekar Silat dan 27 Motor

17 Januari 2026 - 13:33 WIB

Isawan Risdiawan: 25.686 Tenaga Kerja Jombang Belum Memiliki Pekerjaan

17 Januari 2026 - 13:15 WIB

Trending di Headline