Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Life Style

Dari Luka ke Dendam, Psikiater Jelaskan Tiga Alasan Perselingkuhan Balasan

badge-check


					Dari Luka ke Dendam, Psikiater Jelaskan Tiga Alasan Perselingkuhan Balasan Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA– Psikiater mengungkap tiga alasan utama mengapa korban perselingkuhan kerap memilih membalas dengan cara yang sama. Perselingkuhan memang meninggalkan luka emosional yang dalam karena kepercayaan yang terbangun lama bisa runtuh seketika.

Dr. Santi Yuliani M.Sc Sp.KJ (K) menjelaskan, respons balas dendam sering muncul akibat emosi yang meluap. Menurutnya, “Yang pertama pastinya balas endam, ngerasain rasa sakit yang luar biasa dan ingin membalaskan rasa sakit yang sama kepada pelaku.” Dorongan ini muncul agar pasangan merasakan kepedihan serupa.

Alasan berikutnya berkaitan dengan upaya memulihkan harga diri. Korban perselingkuhan kerap merasa tidak berharga setelah dikhianati. Melalui perselingkuhan balik, muncul keinginan membuktikan diri bahwa mereka masih layak dicintai. “Ini ingin membuktikan bahwa aku gak sejelek-jelek itu amat kok. Nyatanya ada orang lain yang mau sama aku.” Cara instan ini dipilih untuk mendapatkan pengakuan.

Faktor ketiga adalah pencarian rasa nyaman sebagai pelarian dari luka batin. “Yang kedua adalah ingin mencari kenyamanan sebagai obat dari rasa lukanya.” Namun, Dr. Santi menilai langkah ini sering keliru karena tidak menyentuh akar persoalan.

Selain itu, perselingkuhan juga dapat mengubah cara pandang korban terhadap kesetiaan. Kejujuran dianggap tak lagi bermakna karena dikhianati lebih dulu. Mereka pun berpikir,

“Sehingga untuk apa saya setia ketika memang pasangan saya juga tidak setia.” Pola pikir ini berpotensi merusak cara seseorang membangun hubungan di masa depan.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Nabila Gardena Mendadak Viral, Benarkah Terseret Isu Korupsi BUMN?

28 Juli 2026 - 20:09 WIB

Putri Kamboja Menciptakan Sensasi di Piala ASEAN 2026

26 Juli 2026 - 19:34 WIB

Drama di Balik Gol Juara Ferran Torres, Putus Cinta Jelang Final Piala Dunia

22 Juli 2026 - 18:31 WIB

Penggemar Sepakbola Takjub Lihat Kaki Jenjang Presenter

21 Juli 2026 - 19:07 WIB

Bukan Sekadar Cameo, Jung Ho-yeon Ukir Sejarah di Final Piala Dunia 2026

20 Juli 2026 - 18:37 WIB

Cinta Laura Beradegan Intim di Series WeTV ‘Sleeping With The Enemy’

17 Juli 2026 - 21:01 WIB

Rasa Nano-nano Pacar Bek Argentina Berkebangsaan Inggris

16 Juli 2026 - 20:24 WIB

Tate McRae Curi Perhatian saat Bawa Bola Pertandingan Piala Dunia

15 Juli 2026 - 20:24 WIB

Jalan-jalan Sambil Kentut”Rahasia” Penuaan yang Sehat

13 Juli 2026 - 20:33 WIB

Trending di Life Style