Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Jemaah An Nadzir Tentukan 1 Ramadhan, Pakai Kain Tipis

badge-check


					Pemimpin An-Nadzir di Gowa, Samiruddin Pademmui, menunjukkan bagaimana kain tipis berwarna hitam itu digunakan untuk memantau bayangan bulan Perbesar

Pemimpin An-Nadzir di Gowa, Samiruddin Pademmui, menunjukkan bagaimana kain tipis berwarna hitam itu digunakan untuk memantau bayangan bulan

KREDONEWS.COM,  JAKARTA-Agama Islam dipraktekkan secara berbeda oleh umat Muslim di seluruh dunia. Seringkali, kebudayaan di suatu tempat ikut memengaruhi bagaimana ibadah dan syariat Islam dijalankan.

Di Indonesia, penentuan awal Ramadhan biasanya dilakukan dengan metode hisab atau pantauan hilal (bulan), namun Jemaah An Nadzir yang ada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, memiliki cara tersendiri untuk menentukan awal bulan puasa itu.

Dikutip dari CNN Indonesia, Jemaah An Nadzir, yang merupakan salah satu aliran Islam di Nusantara, tepatnya di Gowa, Sulsel menggunakan ‘alat bantu’ berupa kain tipis berwarna hitam untuk menetapkan 1 Ramadhan.

Pada prinsipnya, mereka menggunakan metode pantauan bulan atau hilal. Yang berbeda, pemantauan ini dilakukan di balik kain tipis berwarna hitam.

Untuk melakukannya, Pimpinan Jemaah An-Nadzir, Ustad Samiruddin Pandemmui menyiapkan selembar kain hitam. Menghadap arah matahari, pria tersebut kemudian menggunakan kain hitamnya yang memiliki pori-pori besar dan menerawang. Kain tipis digunakan untuk menghalau sinar matahari, sehingga bisa nampak posisi bulan pada sore hari.

“Dilihat dengan kain tipis akan kelihatan bulan itu,” kata dia.

1 Ramadhan 2024 versi Jemaah An-Nadzir
Ustad Samiruddin menerangkan bahwa pemantauan bulan dimulai dengan mengamati tiga bulan purnama 14, 15, dan 16 Sya’ban 1445 H/2024 M, secara berurutan bertepatan dengan tanggal 23, 24, dan 25 Februari 2024 M, sesuai dengan kriterianya masing-masing.

Setelah menetapkan tiga purnama pada pertengahan bulan Sya’ban, seterusnya menghitung perjalanan bulan, maka didapatkan 27, 28, dan 29 Sya’ban 1445 H, bertepatan dengan tanggal 7, 8, dan 9 Maret 2024 M, sambil memperhatikan jam terbitnya bulan di ufuk timur, baik saat fajar kazib, fajar siddiq dan pagi hari, maupun melihat bayangan bulan bersusun dengan menggunakan kain tipis hitam.

Pria tersebut juga menjelaskan bahwa Jemaah An Nadzir memadukan metode tersebut dengan metode lainnya. Salah satunya adalah menggunakan teknologi di ponsel pintar untuk menentukan posisi bulan.***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

ESDM Akui Ada Antrean BBM di Jatim, Target Tuntas Maksimal 2 Hari

20 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Berada di Zona Hijau, IHSG Kembali ke Level 5.000an hingga Jeda Siang Perdagangan

20 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Karhutla Mengancam hingga 2027, Ambil Langkah Konkret

20 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Karhutla Gambut Bisa Diprediksi Secara Sains

19 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Trans Jatim Koridor Malang Raya Diluncurkan 30 Oktober 2026

19 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Aturan Baru Ojol 2026: Pengemudi Bebas Kerja di Banyak Aplikator

19 Oktober 2026 - 18:58 WIB

Kewajiban Sertifikasi Halal Diundur Jadi Oktober 2028

18 Oktober 2026 - 19:54 WIB

Untuk Keselamatan Kemenhub Perketat Pengawasan ODOL Tanjung Perak

18 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Wapres Kunjungi Pabrik Sepeda di Sidoarjo, Dorong Penyelarasan Pendidikan dan Kebutuhan Industri

16 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Trending di Nasional