Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Para Mullah Iran Tak Akan Pernah Berubah, Tak Akan Pernah Jadi ‘Sahabat’

badge-check

 

Suka atau tidak, sifat rezim Iran tidak dapat dipisahkan dari fondasi ideologisnya. Ia bukan negara normal. Atau diktator konvensional. Identitas ideologisnya dia peroleh dari perlawanannya terhadap Amerika Serikat, Israel, dan Barat. Dalam gambar: “Pemimpin Tertinggi” Iran Ali Khamenei bertemu dengan Presiden Masoud Pezeshkian di Teheran pada 27 Agustus 2024. (Sumber gambar: khamenei.ir)

Oleh Majid Rafizadeh*

 

SURABAYA—KREDONEWS.Com. —Selama lebih dari empat dekade, banyak politisi Barat berharap bahwa negosiasi dapat menyebabkan rezim Islam di Iran berubah perilaku dan sikapnya terhadap Barat. Untuk itu, berbagai pendekatan diplomatik, insentif ekonomi dan konsesi diberikan kepada Teheran. Namun, semuanya gagal. Sayangnya, diplomasi itu akan terus gagal.

Suka atau tidak, sifat rezim Iran tidak dapat dipisahkan dari fondasi ideologisnya. Iran bukanlah negara biasa. Atau diktator konvensional. Negara ini lebih sebagai entitas ideologis yang membangun identitasnya dari perlawanannya terhadap Amerika Serikat, Israel, dan Barat.

Identitas itu dibangun sejak revolusi Islam Iran pada 1979. Identitas itu bukan sekadar sikap kebijakan luar negeri, tetapi prinsip utama keberadaan rezimnya.

Rezim itu menuding Amerika Serikat sebagai “Setan Besar” dan Israel sebagai “Setan Kecil.” Dengan konsep itu, Iran memposisikan dirinya sebagai kekuatan keadilan ilahi yang melawan wujud kejahatan yang dianggap demikian.

Bagi Iran, permusuhan terhadap Amerika dan Israel bukan sekadar retorika. Permusuhan justru merupakan pilar dasar legitimasi mereka. Jika tidak memusuhi AS dan Israel, rezim itu akan kehilangan seluruh pembenaran yang menjadi dasar kekuatannya.

Tidak seperti negara-negara otoriter pragmatis yang bermusuhan karena alasan strategis yang dapat mengubah arah jika perlu, rezim Iran memandang permusuhan terhadap Barat itu sebagai kewajiban agama. Berteman dengan Amerika atau Israel berarti mengkhianati akar Islam revolusionernya. Di mata mereka, itulah alasan sebenarnya. Terkait dengan persoalan keberadaan mereka.

Karena itu, permusuhan tidak dapat dihentikan. Kecuali jika runtuh. Jadi persoalannya sama dengan AS tidak dapat mengabaikan prinsip kebebasan individu, keadilan yang setara di bawah hukum, atau kebebasan berbicara.

Meskipun ini nyata, Barat berulang kali berupaya terlibat dengan Iran. Mungkin dengan keyakinan bahwa insentif ekonomi atau diplomatik dapat mengubah perilakunya. Pendekatan Pemerintahan Obama adalah contoh utama.

Dalam upaya mencapai “kesepakatan nuklir,” Washington mencabut sanksi, memberikan keringanan sanksi miliaran dolar, bahkan mengirim sejumlah uang tunai kepada para mullah yang berkuasa.

Hasilnya? Rezim Iran tidak hanya gagal memoderasi perilakunya. Sebaliknya, ia meningkatkan permusuhannya, menggunakan dana yang diterimanya dari AS untuk melakukannya.

Teriakan “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel” semakin keras, Teheran menyalurkan lebih banyak uang ke kelompok teroris seperti Hizbullah dan Hamas, meningkatkan jumlah uranium lebih cepat dari sebelumnya, dan melancarkan agresinya di Timur Tengah.

Alih-alih menggunakan keuntungan finansial dari kesepakatan nuklir untuk meningkatkan kehidupan rakyatnya, Iran menggunakannya untuk mengonsolidasikan sistemnya yang radikal. Ia memperluas jangkauan militer dan mempercepat ambisi senjata nuklirnya.

Setiap negosiasi dengan Iran mengikuti pola yang sama. Iran membuat janji, mengamankan keuntungan finansial dan politik, dan kemudian, setelah memperkuat posisinya, melanjutkan tindakan agresifnya.

Salah satu ilusi terbesar dalam diplomasi Barat adalah keyakinan bahwa Iran dapat dibujuk untuk meninggalkan program nuklirnya melalui negosiasi. Padahal Iran memandang senjata nuklir sebagai penjamin utama kelangsungan hidupnya.

Iran belajar dari sejarah. Mereka melihat apa yang terjadi pada Muammar Gaddafi dari Libya — yang setuju untuk membongkar program nuklirnya, tetapi kemudian digulingkan dan dibunuh. “Pemimpin Tertinggi” Iran Ayatollah Ali Khamenei secara eksplisit menyatakan bahwa nasib Gaddafi membuktikan mengapa Iran tidak boleh menyerahkan senjata nuklirnya.

Seperti Korea Utara, negosiasi dapat memperlambat sementara pengembangan senjata nuklir Iran. Negosiasi tidak pernah menghentikannya. Rezim akan menyetujui perundingan hanya jika perlu mengulur waktu. Apakah untuk membangun kembali ekonominya di bawah kedok diplomasi, untuk menidurkan Barat agar merasa puas, atau menunggu iklim politik yang tidak menguntungkan, seperti Trump.

Tujuan rezim Iran selalu sama. “Memperoleh senjata nuklir untuk memperkuat dominasi regionalnya dan mencegah segala upaya untuk menyingkirkan rezim dari kekuasaan.

Tidak ada negara yang memahami rezim Iran lebih baik daripada Israel. Tidak seperti beberapa pembuat kebijakan Barat yang terus berpura-pura berdiplomasi, Israel tahu secara langsung bahwa rezim Iran dibangun di atas kebohongan dan tipu daya.

Iran secara terbuka menyatakan tujuannya. Yaitu untuk menghapus Israel dari peta. Konstitusi Iran secara eksplisit menyatakan komitmennya untuk mengekspor revolusi Islam radikal ke seluruh dunia. Karena alasan ini, Israel, yang mungkin khawatir akan biaya yang akan dikeluarkan akibat kehilangan waktu dan kesempatan, menentang segala perundingan dengan Iran.

Sudah saatnya Barat meninggalkan strategi terlibat dengan Iran. Diplomasinya tidak berhasil selama lebih dari empat dekade. Dan tidak akan pernah berhasil.

Iran bukanlah aktor negara rasional yang dapat dibujuk. Ia rezim ideologis yang melihat dirinya sebagai mandat ilahi untuk menentang Barat.

Jika Barat ingin benar-benar menghadapi ancaman yang ditimbulkan Iran, mereka harus berhenti membuat perundingan sia. Sebagai gantinya mereka menggunakan strategi kekuatan. Itu berarti sepenuhnya mendukung sikap Israel melawan Iran. Selain itu, Barat harus mengambil tindakan tegas untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Sayangnya, satu-satunya cara untuk menetralisir ancaman Iran adalah melalui kekuatan. Rezim Iran hanya memahami kekuatan. Selama Barat tidak mengakui kenyataan ini, mereka akan terus dibodohi. Iran hanya mengulur waktu untuk memajukan ambisinya yang tak terkendali.***

 

 

 

  • Dr. Majid Rafizadeh, adalah cendekiawan politik tamatan dan dosen papan atas Amerika, Universitas Harvard. Dia menulis banyak buku seputar kebijakan luar negeri AS. Dia bisa dihubungi lewat [email protected]
Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kubah Panas dari Sahara Landa Eropa, WHO: 1.300 Kematian Sejak 21 Juni 2026

29 Juni 2026 - 11:45 WIB

Pengacara: Saya Dapat Info Polisi Sudah Tangkap Pria yang Terakhir Bersama Ruly Yunis

29 Juni 2026 - 11:09 WIB

Pergelaran Ludruk Lahirnya Soekarno Putra Sang Fajar tidak Menyentuh Ploso, Tampil di Lapangan Pulo Lor Jombang

29 Juni 2026 - 10:07 WIB

Binhad dan Kuswartono Serahkan Buku kepada Eri Cahyadi: Ir Soekarno Lahir di Ploso Jombang 1 Juni 1902

28 Juni 2026 - 15:13 WIB

LEAF71+Noyron Hasilkan Mesin Jet AI Berkecepatan 28.000/ Jam

28 Juni 2026 - 13:31 WIB

Dr Lee woo Guan: Robot dan Kecanggihan Teknologi Hanya Membantu, Peran Dokter Tetap Nomor Satu

28 Juni 2026 - 12:29 WIB

Menelisik Akar Terorisme (27): Kaum Illuminati dan Revolusi Prancis

27 Juni 2026 - 16:44 WIB

Juragan Percetakan Tuduh Tiga Pegawai Mencuri, 21 Hari Dirantai dan Minta Tebusan Rp50 Juta

27 Juni 2026 - 16:18 WIB

Belanda Umumkan Kode Merah: Suhu 39°C Bikin Aspal Meleleh dan Dehidrasi

27 Juni 2026 - 15:44 WIB

Trending di News