Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Sejarah Terorisme (1): Ketika Kekerasan Jadi Pilihan Aksi

badge-check


					Ilustrasi sang penyihir Nedea, dalam mitos Yunani Kuno. Foto ist Perbesar

Ilustrasi sang penyihir Nedea, dalam mitos Yunani Kuno. Foto ist

Penulis: Jacobus E. Lato   |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM– Pengantar:  Terorisme, merupakan topik yang senantiasa menarik dibahas masa kini yang kerapkali dipertentangkan secara diametral dengan politik, ideologi dan agama.

Dia menjadi semacam alternatif, atau rancangan aksi yang diperhitungkan dalam publik yang diam, dalam kegelapan yang berciri kekerasan yang menakutkan sehingga tujuan aksi tercapai.

Pemikiran Machiavelistis ini menyebabkan terorisme menjadi dimensi lain dalam kehidupan manusia, yang mengemuka ketika pihak yang merasa tidak ada cara lain untuk meraih tujuannya selain melalu kekerasan.

Dalihnya pun beragam; politik, ideologi dan agama. Untuk memberikan wawasan berpikir, wartawan Kredonews.com, Jacobus E. Lato menyajikan berbagai tulisan saduran seputar topik tersebut mulai hari. Selamat menikmati.

DALAM berbagai mitos Yunani kuno, teror merupakan cara untuk meraih kekuasaan. Medea yang keji konon membujuk para putri Raja Pelias agar memenggal kepala sang raja, kemudian merebusnya dalam wajan besar yang konon membangkitkannya kembali, namun justru membunuhnya.

Dia meracuni seorang pesaingnya demi mendapatkan tahta Korintus yang kemudian diserahkan kepada suaminya Jason yang berhasil mengantarkan Argonaut kepada Sang Domba Emas.

Dia bahkan menyajikan rebusan potongan-potongan tubuh putera-putera mereka sebagai hidangan suaminya, ketika Jason mengkhianatinya, berselingkuh dengan putri Theba, yang diturunkan oleh semacam napal purba dari surga.

Meskipun demikian, Dewa Zeus sendiri konon jatuh cinta kepadanya. Wanita haus darah ini bahkan menjadi teladan bagi masyarakat Yunani kuno.

Tiga saga terkenal, Iliad, Odyssey serta Aeneid, melukiskan hancurnya dua kota kenamaan pada masanya, Troya dan Kartago. Berkat epos-epos ini, legenda menjadi sejarah.

Satu daya tarik dalam puisi Homerus tentang serangan Yunani atas Asia Kecil adalah terungkapnya kisah kekejaman dan tipu daya masyarakat Abad Perunggu.

Kaum wanita dan anak-anak muda diperkosa dan dijadikan budak. Pengkhianat dirajam batu sementara panah-panah beracun Herakles membunuh mereka pelahan. Ada dua peristiwa yang benar-benar sangat mengerikan:

Pertama perlakuan terhadap jenazah pahlawan Troya, Hector oleh Achilles. Kedua, kisah pembantaian para pelamar dan pembantu yang kesasar oleh Odysseus, sepuluh tahun setelah ia pulang ke rumahnya di Ithaca.

Dalam pertemuan terakhir mereka di luar tembok Troya, Hector melarikan diri dan meminta ampun kepada Achiless, agar memberikan pemakaman yang pantas baginya jikalau dia memang harus dibunuh.

Achiles sebaliknya mencemooh nasehat para dewa dan menolak memberikan pengampunan. Ia memang masih sangat marah atas kematian kekasihnya Patroclus.

Seusai melontarkan tombaknya ke leher Hector, dia bersumpah akan memberikan jasad musuhnya untuk dimakan anjing dan burung-burung. Sisa-sisa pendukung Yunaninya pun berdatangan.

Mereka memultilasi jasad yang sudah dilucuti itu. Achiles memotong urat nadi belakang kaki Hector, menarik urat-uratnya melalui kedua kaki dan menyatukannya di belakang punggungnya.

Ia kemudian menyeret tubuh telanjang itu mengelilingi tembok-tembok Troya termasuk mengitari gundukan makam kekasih homonya, Patroclus.

Kita kini memang tidak lagi percaya kepada para dewa Yunani. Mereka kerap dilukiskan sebagai ungkapan-ungkapan perasaan bersalah psikologis dan sikap fatalisme yang luhur.

Dalam terminologi modern, ketidaksadaran menyebabkan Achiles mengembalikan jasad Hector kepada ayahnya, Raja Priamus untuk upacara pembakaran jenazah. Tentu saja, rakyat Troya merasa diteror oleh perlakuan terhadap pahlawan mereka yang kalah.

Kejatuhan kota agung itu diramalkan lewat penistaan jenazah Hector. Padahal, sebelumnya mereka tidak mempercayai ramalan-ramalan Cassandra, putri Priamus yang sangat langsung dan tepat, yang mengetahui bahwa hari-hari kejatuhan mereka sudah bisa dihitung, sebagaimana terjadi.

Dalam Odyssey, ketika Odysseus kembali ke kerajaannya di Ithaca, dengan menyamar sebagai pengemis, dia berupaya melakukan aksi balas dendam yang kejam dengan dukungan masyarakatnya.

Setelah membantai semua pelamar istrinya, Penelope dengan panah-panahnya yang mematikan, dia menyusun jasad mereka bagai ikan dari jala yang megap-megap berjuang hidup, lalu memanggil para pembantunya yang sudah tidur dengan musuhnya.

Mereka kemudian dimintanya membersihkan semua lepotan darah yang menodai ruangan utama serta membersihkannya dengan belerang dan api. Setelah melakukan semua perintah itu, para wanita itu digantungkan dengan tali-temali kapal.

Karena ketika burung-burung bersayap panjang atau merpati-merpati terperangkap, terjebak dalam semak-semak…

Mereka pun beterbangan untuk bertengger meski dahan-dahannya lapuk

Demikianlah, kepala para wanita itu diikat erat satu sama lain.

Dengan ikatan erat tali seputar leher mereka agar penderitaan mereka berakhir.

Dengan segera kaki mereka menggerenyet meski tak lama.

Odysseus kemudian dikebiri secara keji dan memalukan diiringi cemoohan. Hidung, telinga dan tangan-tangan serta kakinya dipotong kemudian diberikan kepada anjing untuk dimakan.

Demikianlah kisah tentang kepulangannya ke Ithaca dan tempat tidur istrinya.

Penggunaan teror paling menarik dalam tragedi Yunani menjadi titik tumpu psikiatri Freudian, mitos Oedipus.

Dia berhasil menjawab teka-teki yang diajukan mahluk pemakan manusia yang mengerikan, Sphinx. Jawabannya adalah ‘Umat Manusia.’ Jawaban itu justru membebaskan kotanya Thebes dari bencana.

Oedipus kemudian keliru membunuh ayahnya, lalu menjadi Raja Thebes, kemudian menikahi ibunya, Jocasta karena tidak tahu serta mendapatkan anak-anak dari wanita itu.

Tindakan ini menyebabkan seluruh dunia dipenuhi kemarahan ilahi, bagai penyakit campak di Mesir pada masa Moses. Setelah diberitahu tentang kejahatan yang tidak diketahuinya itu, Oedypus pun mencungkil kedua bola matanya dan membiarkan dirinya diburu oleh orang-orang buas agar bias dimaafkan dan mendapatkan belaskasihan terakhir dari surga.

Padahal, yang sesungguhnya diberitahukan oleh Sphinx kepadanya adalah bahwa manusia bakal mengalami penderitaan mengerikan kecuali jika mengupayakan cara yang adil.
Guncangan atas kejatuhan Troya dikisahkan kembali oleh Virgil, yang juga meramalkan kehancuran Kota Kartago dalam bukunya Aeneid.

Dalam pelarian dari kampung halamannya yang dilalap api, Pangeran Troya, Aeneas mengaku tindakan itu dilakukannya karena “dirasuki oleh ketakutan mengerikan”.

Ketika mencapai Kartago bersama rekan-rekannya, dia membuat Ratu Dido tergila-gila kepadanya, sebelum dia melarikan diri agar bisa menemukan kota Roma.

Ratu Dido kemudian bunuh diri. Tumpukan kayu pemakaman nampaknya membuat tubuhnya seolah bercahaya.

Jeritan tangis membumbung naik dari kota menuju surga.

Seakan Kartago diserang para musuhnya
Seakan-akan tempat tua itu hancur lebur dengan kobaran api

Melalap tuntas rumah-rumah manusia dan kuil-kuil megah.

Sebelum epos Latin itu ditulis, Roma menghancurkan Kartago hingga ludes, lewat proses yang sama-sama mematikan seperti badai api Dresden pada Perang Dunia II.

Terdorong oleh ketakutan mengerikan menyusul berbagai serangan Hanibal dari Afrika Utara atas daratan utama Italia, bangsa Romawi pun terpaksa mendengarkan jeritan Cato, Delenda est Carthago—Kartago harus dihancurleburkan.

Setelah pengepungan berlangsung tiga tahun, kota itu dibakar selama tujuh belas hari. Sekitar sepersepuluh dari setengah juta penduduknya selamat.

Mereka dijadikan budak atau dibuang keluar kerajaan. Reruntuhan kota pun dibajak kemudian ditaburi garam. Masyarakat umum Scipio takut nasib yang sama bisa mencapai Roma sebagaimana terjadi ketika bangsa Goth menyerang kota itu pada tahun 410.

Kemudian, seperti belakangan dicatat oleh biarawan Inggris, Pelagius, ‘Setiap rumah berdukacita. Ketakutan luas mencengkram kami. Momok maut melangkah di depan mata kami semua.’ (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Petani Lapor Sulit Mendapat Pupuk Subsidi, Menteri Amran Langsung Copot Manajer Gudang Banggai

11 September 2026 - 19:29 WIB

Investasi Jatim Turun 2,6%, Apindo Soroti Kepastian Berusaha

11 September 2026 - 18:59 WIB

Keracunan Massal Pindah ke Lombok Tengah: 352 Siswa di Lima SDN dan MTs Bukitliang

11 September 2026 - 17:14 WIB

Lamaran Ditolak, Mantan Pacar Bunuh Dua Remaja Kakak Beradik 5 Tahun Baru Terkuak

11 September 2026 - 11:34 WIB

Zulhas: MBG, Kita Akui Gagal! Sabar, Kita Perbaiki Manajemennya

11 September 2026 - 10:54 WIB

Sayembara Bukti Ijazah Gibran Berhadiah Rp10,28 M Ditutup, Denny Indrayana: Dilanjut Gugatan ke MK

11 September 2026 - 09:58 WIB

SAR Gabungan Temukan Jaket Pelampung dan Botol, Belum Dipastikan Milik 5 Jurnalis dan 3 Kru Liputan Anak Krakatau

10 September 2026 - 21:46 WIB

Tim SAR Gabungan temulan satu jaket pelampung dan botol putih, tetapi belum bisa dipastikan yang dikenakan para jurnalis, Rabu 10 September 2026. Foto: okezone

Salah Injak Pedal: Alphard Santap 3 Mobil, 11 Motor, dan Rombong Bakso di Sukolilo

10 September 2026 - 03:46 WIB

Menelisik Akar Terorisme (55): Kisah Pembantaian 100 Pria dan 5 Wanita Pelancong

9 September 2026 - 19:53 WIB

Trending di News