Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Menelisik Akar Terorisme (41): Roma Menyerah pada Pesona Kebencian

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM— Penyelidikan awal atas psikologi ketakutan ini diperhebat lewat dua novel luar biasa oleh Joseph Conrad, pengamat imperialisme Inggris pada akhir abad.

Karyanya The Secret Agent (Agen Rahasia), pada tahun 1907, kurang dikenal. Berbasiskan gagalnya upaya anarkis untuk meledakkan Observatory Greenwich, novel itu bertujuan melontarkan “tidak ada gunanya tindak kejahatan atas semua hal, doktrin, tindakan-tindakan dan mentalitas manusia.”

Seperti dikatakannya tentang tokoh pahlawan Verloc garapannya yang mengerikan, dia menjadi ‘tipuan memalukan yang mengeksploitasi penderitaan pedih dan nafsu gampang percaya manusia yang tragis berusaha merusak diri sendiri.”

Verlock sendiri adalah “orang yang meledak berkeping-keping sia-sia, bahkan sedikit sekali mengungkapkan pemikiran yang anarkis atau lainnya sekalipun.

Seperti tembok luar Observatory Greenwich, ia tidak memperlihatkan banyak retakan yang paling pucat.”

Masterpiece Conrad, Heart of Darkness (Inti Kegelapan), dimulai dengan naratornya Marlow yang menganggap dok-dok pelabuhan London, “salah satu dari tempat-tempat gelap bumi.”

Karena pancaran sinar kota, dari demi hari, monster itu berubah menjadi pancaran sinar seram pada malam hari, Marlow lantas teringat bahwa kegelapan memang sudah terbenam di Sungai Thames “masa lalu”.

Apa yang dipikirkan komandan pasukan Romawi agar bisa mengubah sungai, “beting, rawa payau, hutan, dan binatang buas… dingin, kabut, badai, penyakit, pembuangan dan akhirnya kematian.”

Bagaimanapun, berawal dari kebencian terhadap hal-hal yang tidak diketahui, bangsa Roma mulai menyerah kepada “pesona kebencian.”

Rasa muak yang melanda dirinya bahkan membuatnya tidak mampu menolak upaya melarikan diri.

Demikianlah Conrad membangun kisahnya dengan pesan bahwa inti kegelapan terletak di kota Eropa serta masa lampau, khususnya di kawasan-kawasan primitif.

Pahlawannya selalu berusaha meneliti sungai besar di Afrika Tengah dan akhirnya diangkat oleh perusahaan raksasa dagang kekaisaran untuk memimpin kapal uap di sana.

Ketika mencapai sungai Afrika, Marlow menemukan berbagai kelompok orang kulit hitam yang dirantai dikecam atas kekejaman yang tidak mereka pahami, membangun rel kereta api yang segera karat sebelum dipergunakan.

Pekerja-pekerja kontrak kulit hitam lainnya menunggu maut menjemput mereka akibat deraan sakit dalam lubang yang tidak perlu.

Dia pun bertemu seorang akuntan suci yang ngotot mempertahankan “kekacauan luar biasa atas tanah itu.”

Bahkan dia mendengar pedagang Kurtz kenamaan, yang membuat gading terus berdatangan dari pedalaman jauh yang dianggap sebagai keajaiban dari belas kasihan, ilmu serta kemajuan.

Marlow kemudian menggerakkan pasukannya menuju sebuah stasiun 200 mil di hulu sungrai, namun menemukan kapal uapnya sudah tengelam di sana.

Dia pun mulai terserang rasa lapar dan rasa marah yang kejam kepada dirinya sendiri ketika bulan-bulan berlalu sementara dia berupaya memperbaiki kapal, yang digelayuti “nafsu merampok bodoh bernoda bagai bau dari beberapa jenazah.” Semuanya nampak tidak nyata di pelabuhan sungai.

“Padang sunyi yang menyelimuti penggalan bumi yang jelas ini menyentak saya sebagai sesuatu yang luar biasa yang tak terlihat, mirip setan atau kebenaran, yang sabar menunggu lewatnya serangan yang luar biasa.”

Akhirnya, kapal uap berhasil diperbaiki dan Marlow pun berhasil melewati sungai berbentuk ular yang luar biasa itu. Para anak buah kapal adalah para kanibal yang hidup dari makan daging badak busuk.

Para penumpangnya adalah para peziarah Eropa bodoh, dengan kulit berwarna kemerahan serta tidak berpikir logis.

Kapal kumbang jorok itu merangkak pelahan “semakin dalam menuju pusat kegelapan.”

Tidak ada yang dapat Marlow pahami dalam perjalanan pulang menuju akar-akar peradaban dan hati manusia yang tersembunyi itu.

Ketika kapal mencapai pos pelayaran milik Kurtz di pedalaman, tempat itu penuh tumpukan gading gajah-gajah yang dibantai.

Pemiliknya yang tak terlihat nampak sangat menyukai hutan belantara yang “membawanya, mencintainya, memeluknya, memasuki nadinya, memakan dagingnya dan memeterai jiwanya pada dirinya sendiri dengan sejumlah upacara jahat yang tidak dapat dipahaminya.”

Agar bisa kaya seperti ini, berapa banyak kekuatan gelap kini mengklaim Kurtz bagi mereka sendiri? Dia harus menduduki kursi tinggi di antara orang-orang hutan yang jahat.

Dia bahkan menulis laporan tentang cara menindas adat-istiadat bangsa Afrika yang diklaimnya sehingga bangsa Eropa seharusnya nampak bagai mahluk supernatural yang dapat melakukan perbuatan baik dengan kemampuan kehendak mereka.

Namun, laporannya justru berakhir dengan tulisan-tulisan cakar ayam yang tidak karuan, “Basmilah semua orang brutal!”
Kurtz sendiri pun segera muncul di atas tandu.

Tubuhnya sekurus pahatan gading kematian. Dia dikitari para pembunuh suku kulit hitamnya. Mereka tetap berdiri di tepi sungai, membiarkannya maju menaiki kapal, yang kini penuh gading-gading gajahnya.

Namun, dia kemudian kembali terhuyung-huyung menuju sebuah upacara suku asli yang tidak diungkapkan, hanya untuk dihentikan oleh Marlow yang mencoba menghancurkan kekuatan mantra atasnya, “mantra berat dan telu hutan belantara yang seolah menariknya menuju payudaranya yang tidak berbelas kasihan akibat bangkitnya instink-instink buas yang terlupakan yang, berkat kenangan atas nafsu berpuas diri yang menakutkan. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lira Datangi Kejari Jombang, Tanya Kelanjutan Hasil Pemeriksaan Kas Kosong KPRI Sejahtetara Jombang

26 Juli 2026 - 11:22 WIB

BPBD Jombang Raih Juara I Resilient Marathon dan Penanggulangan Bencana Jatim 2026

25 Juli 2026 - 13:25 WIB

Kas KPRI Jombang Kosong, Aan Anshori Desak Bupati Warsubi Lindungi ASN Anggota Koperasi

25 Juli 2026 - 11:39 WIB

Tim Tabur Meringkus Asep Jamaluddin Saat Transaksi di BCA Jakarta, Penipuam Umrah dan Haji Rp15 M di Pontianak

25 Juli 2026 - 10:07 WIB

Sutrisno Bersyukur Seluruh Pekerja Selamat, Pabrik Pakan Ternak di Mojowarno Ludes Kerugian Rp600 Juta

25 Juli 2026 - 06:24 WIB

Libur Sekolah 2026, Solo dan Malang Tujuan Favorit Baru Wisata

24 Juli 2026 - 20:27 WIB

Menelisik Akar Terorisme (40): Dracula Isap 650 Darah Gadis Belia

24 Juli 2026 - 19:01 WIB

Jamwas Rudi Margono Ancam Hadirkan Paksa Febrie Adriansyah jika Mangkir Lagi

24 Juli 2026 - 18:35 WIB

Perkuat Sinergitas, Empat Pilar Peradilan Pidana Jombang Gelar Olahraga Bersama

24 Juli 2026 - 17:31 WIB

Trending di News