Penulis: Jacobus R. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM –Pangeran pun mulai membuat monster perempuan di Orkneys yang sepi.
Dia kemudian menganggap penciptaan monster perempuan itu mampu mengembangbiakkan ras jahat yang mungkin menciptakan “eksistensi terdalam jenis manusia dengan kondisi menakutkan dan penuh teror.”
Jika ilmu pengetahuan menciptakan kutukan bagi bumi, maka mereka melancarkan revolusi dan menghancurkan masyarakat yang mengutuk mereka.
Pada saat-saat terakhir, Frankenstein memotong monster perempuan itu. Sebagai balas dendam, monster justru menghancurkan istri Frankenstein serta teman akrabnya.
Kini Frankenstein merasa ditantang untuk memburu monster ciptaannya hingga ujung-ujung dunia kemudian menghancurkannya “bagai mangsa yang buas.”
Kebutuhannya melakukan balas dendam mnggelorakan jiwanya sendiri. Dia mati sia-sia di tempat pembuangan sampah di utara, sementara monsternya justru meratapinya dan berupaya bunuh diri di atas tumpukan kayu pemakaman.
Penghayatan yang bercokok dalam benak masyarakat yang belakangan muncul atas legenda Frankenstein melalui mesim mimpi sinema melahirkan adanya penghargaan atas ramalannya yang sebenarnya seputar konflik antara permintaan era industri dan dorongan nafsu yang atavistik.
Monster adalah kaum bangsawan yang membelokkan makna pengorbanan dalam hati Pangeran Frankenstein sendiri.
Dorongan Promotheanya untuk menemukan rahasia hidup manusia sekedar melonggarkan dorongan buas dalam jiwanya.
Dia yakin asal-usul eksistensinya tersimpan dalam terang dan Adam, namun berbagai kekurangan jati dirinya sendiri menyebabkan dia mengeluarkan iblis kegelapan.
Dia terlampau terlambat belajar bahwa konflik antara manusia dan mesin, belas kasih dan pembunuhan, baik dan buruk, ilmu pengetahuan dan teror harus diperjuangkan hingga rusakan sepenuhnya atau untuk hidup hidup tanpa akhir, amin.
Novel horor Victorian yang belakangan muncul juga menangkap imajinasi massa abad-abad mendatang, yaitu Dracula, karya Bram Stoker yang digarap berdasarkan sejarah dan takhayul Balkannya.
Raja Vlad III Dracula atau Impaler dari Wallachia, sebuah negara Romania terjebak antara Sungai Danube dan pegunungan Carpathia membangun kekuasaannya dengan membunuh 20 ribu orang kemudian menusukkan mereka pada tiang-tiang.
Mereka adalah keluarga penduduk asli Boyars, para pemimpin perang lokal yang juga ditaklukan Tsar Ivan Yang Mengerikan (the Terrible).
Vlad III Dracula mengulangi kampanye terornya dua kali lebih mengerikan. Setelah pembunuhan saudaranya, pada sebuah pagi buta Pembantaian Hari Raya St. Bertolomeus, pada tahun 1460, dia pun melakukan pembantaian di Amlas.
Menurut sebuah kisah kontemporer Jerman: “Semua orang yang dapat dikumpulkannya, diperintahkannya dibuang, satu di atas yang lain, bagai sebuah bukit kemudian dicincang mirip kubis dengan pedang dan pisau. Pemimpin agama mereka serta orang-orang yang tidak langsung dibunuhnya, dibawanya pulang ke negerinya. Di sana, dia memerintahkan menggantungkan mereka.”
Dia mengatur tempat termasuk semua yang ada di dalamnya supaya dibakar. Kemudian, dari kawasan-kawasan penentang lain, “dia mengambil pria, wanita dan anak serta mengantarkannya ke Walachia kemudian memerintahkan agar semuanya ditusuk dengan tombak bersula untuk dipertontonkan.”
Berdasarkan kebijakan membakar bumi pemimpin perang sebelumnya, Vlad pun menambahkan siksaan massal bagi taktik terornya melawan kemajuan Turki dari Kekaisaran Otoman.
Dia menetapkan para korbannya sendiri sebagai orang-orang hidup yang dimutilasi guna mengalangi pasukan sultan Turki untuk maju.
Sebagaimana pembuat kronik Byzantium, Chalcondyles mencatat, sebidang tanah sejauh satu satu mil penuh tonggak manusia yang tertusuk tombak menemui sultan.
“Juga ada tumpukan luas sehingga dia dapat melihat jenazah pria, wanita dan anak-anak ditusukkan pada tiang-tiang bersula sekitar 20 ribu dari mereka..“
Pemandangan ini mengalangi sultan “dan orang-orang Turki lain setelah melihat begitu banyak orang ditusuk pada tiang-tiang bersula, ketakutan tidak mampu memahami kenyataannya. Ada bayi-bayi bergelantungan pada ibu-ibu mereka pada tiang-tiang gantungan bersula sehingga burung-burung pun membuat sarang dari payudara-payudara mereka.”
Aksi buas gila-gilaaan ini membuat Hulagu pantas terguncang termasuk pendapat dari abad pertengahan yang kemudian sekalipun.
Bercak-bercak darah kering mengarah kepada legenda vampire. Di mana Vlad III Dracula dihidupkan kembali oleh Bram Stoker sebagai peminum darah bertaring dari perfilman modern.
Upaya penciptaan kembali itu dibantu oleh ingatan nyata terhadap putri Hongaria, Elizabeth Bathori, yang mengisap tuntas darah 650 gadis muda sehinga dia sendiri mandi dalam darah merah segar mereka yang membuatnya tetap awet muda.
Selain legenda pegunungan Transylvanian seputar mahluk-mahluk pengisap darah, yang hanya hidup sebagai jenazah karena suntikan malam hari dari leher mahluk bernafas, Stroker pun menuliskan sebuah dongeng teror imajiner yang masih tetap menakutkan dunia. (Bersambung)

















