Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hari S. Purnomo
KREDONEWS.COM– William Blake adalah penyair visioner dan seniman kenamaan, par excellence Revolusi Perancis. Karya seninya menerangi harapan-harapan masa itu, mulai dari Song of Innocence (Nyanyian Lugu) hingga America and Europe, A Prophecy (Eropa, Sebuah Ramalan).
Ia menyaksikan kejatuhan Penjara Bastile di London, pada tahun 1780, pelemparan batu Penjara Newage oleh para perusuh anak buah Gordon.
Pada tahun 1783, dia menulis tentang teror dalam Poetical Sketches (Berbagai gambaran Puitis). Gambaran puitisnya merupakan serangan atas Gwin, Raja Norwegia: Dewa perang mabuk karena meminum darah; Bumi benar-benar memucat gagal; Amis darah membuat surga muntah. Setan puas memakan leher neraka!
Dalam karyanya Europe, Blake mengungkapkan ketakutannya menyeberangi Selat Channel selama Teror berlangsung:
Dan dalam ladang-ladang anggur merah Perancis muncul cahayanya yang membahayakan jiwa.
Mentari bersinar merah menyalakan bahaya
Teror buas merebak sekitar
Di atas kereta kuda keemasan bergolak luncur roda-roda merah berteteskan darah
Singa-singa mengibaskan ekor dengan marah!
Harimau-harimau merangkak di atas mangsa mengisap gelombang darah merah segar…
Dengan penuh rasa ingin tahu, penentang Teror di Paris, Edmund Burke membuat kata-kata menjadi sangat masyhur dalam bahasa Inggeris.
Tatkala mulai menuliskan bukunya Philosophical Enquiry into the Origin of Our Ideas on the Sublime and Beautiful (Pendekatan Filosofis atas Asal-usul Pemikiran Kita tentang Sublim dan Kecantikan), dia melontarkan gagasan terorisme estetis, namun belakangan disangkalnya sendiri dalam bukunya yang bernada anti-kaum Jacobin bertajuk, Reflections on the Revolution in France (Refleksi atas Revolusi di Prancis).
William Blake sendiri mengalami ekstasi atas kekerasan Paris yang penuh aroma pemberontakan. Dia memperlihatkan semangatnya dalam baris-baris dinamis lukisannya atas masa itu, ketika
Malaikat kawasan “Albon’ berdiri di samping bebatuan malam menyaksikan
Teror yang bergerak mirip komet……
Pada halaman depan buku Europe, Blake melukis seekor ular raksasa yang menelan harapan perwujudan penyatuan negara-negara yang tengah bergolak.
Dan sesungguhnya, dia menilai hilangnya koloni-koloni Amerika sebagai dendam Allah atas tanah Inggeris yang hijau menyenangkan sebagaimana Yahweh menghantam Mesir dengan wabah penyakit sampar agar Firaun membiarkan bangsa Yahudi pergi dari sana.
Wabah Sampar kemudian mulai menyeruak dalam garis-garis merah
Melalui potongan tubuh Pengawal Albion; lepotan sampar menjangkiti warga Bristol
Dan Semangat London yang terjangkit Lepra, menjangkiti semua kesatuan tentaranya:
* Jutaan orang itu meraung kes痛苦an dan melepaskan baju zirah mereka yang ditempa,
* melemparkan pedang dan tombak mereka ke tanah dan berdiri dalam kerumunan telanjang…
* Penyakit sampar merayap di antara angin yang marah…
* Juga oleh orang-orang Amerika buas yang bergegas bersama malam
Mengusir keluar Pengawal Irlandia, Skotlandia dan Wales
* Mereka, penuh dengan lepotan spenyakit ampar, meninggalkan pertahanan garis depan, & spanduk-spanduk mereka pun terbakar
* Sementara api neraka meruntuhkan surga-surga kuno mereka dengan rasa malu penuh derita
(Bersambung)

















