Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Menelisik Akar Terorisme (12): Teror Suci dan Perang Agama Prancis

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM-– ‘Dengan demikian perlu bagi seorang pangeran,’ Niccolo dei Machiavelli menulis, ‘yang ingin mempertahankan kekuasannya untuk belajar menjadi tidak baik; menggunakan serta tidak menggunakan pengetahuan ini, menurut pentingnya kasus itu.’

Kajian seputar seorang pangeran adalah soal perang demi kepentingan pemerintahannya.

Menurut pendapat Machiavelli, pangeran masa Renaisans yang paling dihormati di Italia adalah Cesare Borgia, putra Paus Alexander VI, yang kemudian menguasai negara Gereja di seputar Roma.

Pergantian Cesare menuju puncak kekuasaan di Romagna pada 1501 ditentang oleh kelompok-kelompok keluarga Orsini dan Colonna yang berkuasa.

Menghadapi kenyataan ini, Cesare mengundang para pimpinan keluarga itu untuk mengikuti sebuah konperensi damai di Sinigaglia dengan tubuh terikat erat tali- temali.

Bersamaan dengan dilenyapkannya para musuh utamanya, Cesare cepat maju menuju kekuasaan terror di kawasan Romagna yang nyaris tidak terganggu.

Sebagai kepala polisinya, dia menunjuk Remirro de Orco yang kejam, yang membuat penduduk tercekam oleh rasa takut, muak sekaligus sikap patuh kepadanya.

Belakangan, tubuh pelaku paling menakutkan itu malah dipotong oleh bagi dua oleh Cesare dan jenazahnya dipertontonkan di taman umum Kota Cesena.

Tontonan buas itu memuaskan sekaligus mencengkam warga, yang kini berpikir bahwa Cesare mungkin menjadi penyelamat bagi ketakutan yang justru dilancarkannya sendiri.

Seperti Agathocles di Syracusa, Cesare Borgia menjalankan kejahatannya yang paling mengerikan Ketika berupaya menapaki kekuasaan.

Para pesaingnya dan orang-orang taklukan kini gemetaran menyaksikan diri hidup dalam sebuah negara agama, dengan dukungan Gereja sekaligus sebagai kekuatan serta keselamatan yang dijanjikan dalam hidup kini dan masa datang.

Jika ayahnya tidak meninggal mendadak, dan jika paus baru, Julius II tidak dipilih, dan jika sakit tidak membuatnya jatuh, Cesare Borgia mungkin menyatukan seluruh kawasan Italia.

Bagi Machiavelli, dia tentu menjadi contoh penggunaan teror dalam menaklukkan negara dan mempertahankan kekuasaannya setelah kudeta berlangsung.

Seperti diutarakan Cesare kepada penulis biografinya, dia tidak pernah berpikir bahwa pada saat kematian ayahnya, dia sendiripun bakal sekarat.

Dengan demikian, Machiavelli menempatkan Cesare Borgia sebagai model tanpa cacat dari semua pihak yang ingin berkuasa:

Siapapun berpikir negara barunya perlu menjaga keamaan dirinya dari musuh supaya bisa mendapat sahabat, untuk menaklukkan dengan paksaan atau tipuan, untuk membuat dirinya dicintai dan ditakuti rakyat, mengikuti dan dihormati oleh tentara.

Untuk menghancurkan semua yang mampu dan mungkin melukainya, memperkenalkan inovasi dalam kebiasaan-kebiasaan lama, untuk menjadi menjadi kejam dan baik, berjiwa besar sekaligus liberal, menindas militia lama, menciptakan militia baru, mempertahankan jalinan persahabatannya dengan para raja dan pangeran sedemikian rupa sehingga mereka senang memberikan keuntungan kepadanya yang berbarengan dengan rasa takut untuk melukainya. Dengan demikian, orang tidak akan menemukan contoh yang lebih baik dibandingkan dengan tindakan orang ini.

Prinsip kekuasan ini diperlihatkan dalam Perang-perang Agama Prancis. Perang-perang itu dimulai pada 1562, ketika Wali Kerajaan dan Ibu Suri, Catherina de’ Medici mengeluarkan Edict St. Germain, yang mengakui keberadaan kaum Hugenot Protestan pemberontak di dalam negara Katolik.

Parlemen Paris menegaskannya lagi dengan mengutip Injil Mateus, ‘Setiap kerajaan yang melawan dirinya sendiri akan hancur.’ Kaum Hugenot dicap sebagai ‘para pengemis yang muncul dari mana-mana, hidup berbaur bersama para penjahat, pencuri dan pembuat onar yang hidup serta bersembunyi di bawah teks agama.’

Pemimpin Katolik, duc de Guise melancarkan perang sipil dengan melakukan pembunuhan massal atas jemaat Protestan di kota Vassy. Pemimpin Protestan, Pangeran de Conde menghadapinya dengan menyerukan untuk mempersenjatai kaum Hugenot yang ketakutan dan dieksekusi mati.

Kegagalan hukum dan tata sosial demi nama agama ini dieksploitasi para bangsawan ambisius serta para petani yang tidak setia.

Ada masalah-masalah sosial dan agama yang seharusnya dipecahkan. Beberapa ratus petani pengikut Calvin dan Katolik memenggal kepala de Fumel kemudian menjarah kuilnya. Para bangsawan pedesaan pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memperoleh lebih banyak kekuasaan serta berupaya berhenti membayar pajak dalam otoritas pusat yang jatuh runtuh itu. (Bersambung)

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Indonesia Punya Bullion, Prabowo: Simpan 231 Ton Emas Senilai Rp231 Triliun

21 Juli 2026 - 08:15 WIB

5 Badai Persoalan Timpa Hotman Paris: Dua Kali Minta Maaf, Kematian Rocky dan Angpao dari Prayogo Pangestu

21 Juli 2026 - 07:07 WIB

Perundungan Seksual Beruntun Libatkan 27 Pelaku, Polisi Sampang Ringkus 17 Tersangka

20 Juli 2026 - 23:05 WIB

Menelisik Akar Terorisme (37): Seni dan Sastra Awal Teror

20 Juli 2026 - 20:37 WIB

Habiburrokhman: Awas UU Perampasan Aset Berubah Jadi Abuse of Power Aparat Penegak Hukum

20 Juli 2026 - 20:12 WIB

19 Siswa SDN Sendangrejo Blora Keracunan, Diduga dari Susu Kotak

20 Juli 2026 - 19:45 WIB

Pengacara Muda Rocky Martin Napitupulu Tewas Terjatuh dari Tingkat 46 Apartemen Mastepiece Jakarta

20 Juli 2026 - 14:08 WIB

Pelaku Perampokan Bersenjata Toko Emas Tapaktuan Ternyata Oknum Polisi, Kini Ditahan di Mapolda Banda Aceh

20 Juli 2026 - 12:01 WIB

Menang di PTUN, Warga Mutiara Regency Total Hadapi Bupati Sidoarjo yang Ajukan Banding

19 Juli 2026 - 20:56 WIB

Trending di News