Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Konflik Timur Tengah, Bisnis Pariwisata RI Harus Bertahan

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) memprediksi bisnis pariwisata akan mengalami dampak yang signifikan saat konflik geopolitik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Menurutnya, bisnis pariwisata akan mengalami penurunan hingga 30% jika perang AS-Israel dengan Iran berlarut-larut.

Ketua Umum GIPI, Haryadi Sukamdani mengatakan bahwa bisnis pariwisata diprediksi mengalami penurunan hingga 30% karena wisatawan asal negara Eropa tidak bisa menggunakan perjalanan udara atau pesawat.

“Jadi 30% tuh dari Eropa, Eropa dan semua yang melalui hub Timur Tengah ya. Ada Eropa, ada kawasan Timur Tengah, karena lewat situ semua ya,” ujar Haryadi kepada Kontan, Minggu (8/3/2026).

Haryadi menjelaskan bahwa penurunan bisnis pariwisata Indonesia karena biaya Avtur (Aviation Turbine Fuel) akan naik. Sehingga biaya transportasi pesawat dipastikan meningkat.

Prediksi penurunan bisnis pariwisata hingga 30%, kata Haryadi, berkaca pada tahun sebelumnya. Prediksi ini dicontohkan ketika terjadi konflik geopolitik antara Rusia dengan Ukraina.

“Kalau kita bicara real okupansinya kalau kita bicara hotel nih ya, itu drop-nya itu sekitar hampir sekitar 20-an persen. Dari sekitar 60-an persen menjadi sekitar 40-an persen. Itu tahun 2025,” kata dia.

Sehingga, Haryadi menyebut bahwa pebisnis harus tetap bertahan dalam kondisi konflik geopolitik timur tengah saat ini.

Pebisnis pariwisata harus tetap bertahan dengan mengandalkan perjalanan domestik atau dalam negeri. Meskipun hal itu juga masih terkendala adanya efisiensi anggaran Kementerian dan Lembaga.

“Jadi yang jelas apa kita pada posisi survival arahnya. Artinya kita akan konsentrasi untuk menarik pasar yang tadi saya bilang ya. Asia itu termasuk ya Cina, India, ASEAN sendiri, Jepang, Korea, Australia,” tandasnya. ***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS Catat Harga Cabai di Jatim Turun Tajam, Rawit Merah Kini Rp45 Ribu per Kg

30 Oktober 2026 - 19:22 WIB

BMKG Ungkap Musim Hujan di Jawa Timur akan Berlangsung Selama Empat Bulan Saja

30 Oktober 2026 - 19:11 WIB

Gubernur Khofifah Buka 4.807 Lowongan Kerja di Job Fair Inklusif 2026

29 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Menkomdigi: Jika Internet Dipotong, 80 Persen Konektivitas Singapura Lumpuh

28 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Rupiah Rp18.183/US$ Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Ini Kata BI

28 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Meriahkan Operasi Patuh Semeru 2026 Satlantas Polres Gresik Bagikan Cokelat

28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Pemkab Gresik Lakukan Seleksi Sertifikasi BNSP Pelaku Kuliner

28 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Catat, Daftar Rute dan Kota Tujuan Mudik Gratis Nataru

27 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Mendadak Menlu Singapura Vivian Balakrishnan, Kunjungi Jakarta

27 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Trending di Nasional