Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM— Persoalannya, siapa menyebabkan epidemi itu? Apakah epidemi itu merupakan akibat perbuatan manusia atau keadilan ilahi?
Yudaisme mengkotbahkan bahwa sampar merupakah sebentuk kemarahan Allah terhadap orang-orang yang bersalah di bumi.
Umat Kristen perdana juga meyakini bahwa infeksi ini merupakan ganjaran surgawi atas dosa-dosa mereka.
Sedangkan orang Muslim bersikap sangat fatal atas penyakit; yaitu bahwa tanggal kematian mereka sudah ditakdirkan Allah.
Menurut legenda, cacar air menyelamatkan Mekkah dari serangan orang Kristen pada 569 dalam Perang Gajah.
Kemudian, Jenderal Abesinia, Abraha dan pasukannya yang berkekuatan 60.000 terganggu oleh kawanan burung, yang menjatuhkan penyakit menular ketika menarik mundur pasukan yang sedang menyerang.
Dengan demikian, Nabi Mohamad menjadi penguasa Mekkah yang mampu melanjutkan berbagai perang sucinya. Namun semua itu tidak terlampau mengerikan seperti yang dilakukan umat Kristen dalam Perang Salib Pertama.
Mereka menuduh bangsa Yahudi di Eropa sama seperti Firaun meyakini bahwa bencana itu dilancarkan oleh Harun. Mereka pun dituduh menyebarkan sampar dengan cara meracuni sumur-sumur air.
Di Mayenne saja, lebih dari 12.000 bangsa Yahudi dibakar hidup-hidup, karena kekayaan mereka dinilai sama banyaknya dengan sikap bidaah mereka.
Bioteror membawa masuk pandemi Black Death. Ini adalah salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah manusia. Sebanyak 50 juta orang meninggal, mungkin 50% dari populasi Eropa abad ke-14.
Pada 1346, penduduk Genoese menguasai benteng Kaffa di Krimea untuk mendapatkan keuntungan dari perdagangan kain sutera dan kulit hingga ke Cina.
Mereka pun bisa mengawasi kaum Tartar di bawah pimpinan Janibeg Khan dilumpuhkan oleh penyakit sampar, diserang oleh kutu yang berasal dari tikus Asia.
Khan pun menjadi marah. Dia memerintahkan supaya jasad tentaranya yang kehitam-hitaman dan membengkak dimasukkan ke meriam-meriam pengepungan dan menembakkannya sebagai rudal ke dalam benteng pertahanan lawannya.
‘Dengan demikian, onggokan jasad mati ditembakkan kepada kami,’ seorang sejarahwan Italia menulis.’ Orang Kristen tidak dapat bersembunyi atau membebaskan diri atau melarikan diri dari bencana ini… Udara segera terinfeksi.
Air terkena racun, rusak dan membusuk sehingga bau busukyang sangat mengerikan semakin menyengat.’
Aksi bangsa Tartar yang mengorbankan jasad tentaranya sebagai peluru menyebabkan Bangsa Genose terserang penyakit sampar sehingga memaksa mereka memutuskan meninggalkan Kaffa dengan kapal.
Mereka berlayar menuju Konstantinopel, di mana mereka pun menulari warga Byzantium dan kawasan pantai Laut Tengah.
Sementara itu, bangsa Genoese yang berhasil bertahan hidup berlayar menuju Sisilia dan meninggalkan epidemi itu di sana sebelum bergerak maju ke pelabuhan kota mereka di utara Italia.
Dari sana, penyakit itu menebar ke seantero negeri. ‘Kapankan bencana itu pernah terlihat atau terdengar?‘ Petrach meratap.
‘Catatan apa yang dapat kita baca untuk memperlihatkan rumah-rumah yang dibiarkan kosong, kota-kota yang ditinggalkan, tanah yang tidak diolah, kebun-kebun dipenuhi jasah-jasad yang meninggal, dan kesunyian mencekam luas melanda seluruh dunia?
’Hanya orang kaya yang dapat melarikan diri dari Black Death, seperti yang dilakukan bangsa Florentina dari kota mereka yang terserang parah, seperti dikisahkan dalam Decameron karya Boccacio. Separuh masyarakat Eropa Barat menderita akibat penyakit itu. (Bersambung)















