Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SUKOHARJO — Warung Mie dan Babi Tepi Sawah yang berlokasi di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, diserang dan dibakar oleh sekelompok orang tak dikenal pada Sabtu dini hari, 12 September 2026, sekitar pukul 04.00–04.15 WIB.
Keempat pelaku bertopeng, membawa senjata tajam dan bensin, serta berbagi peran untuk mengancam karyawan sebelum menyulut api di beberapa titik bangunan .
Jodi Sutanto, pemilik warung, menceritakan bahwa saat kejadian ada dua orang karyawan yang sedang berjaga — salah satunya bernama Ali Qoirun Rosyid yang berada di dalam kamar penginapan di lokasi.
Empat orang berbadan sedang, memakai penutup wajah, helm, jaket, dan celana panjang, mendobrak pintu kamar Ali.
Satu pelaku menodongkan senjata tajam, menyuruh Ali berlutut di depan etalase dapur, dan memerintahnya berhitung dari satu hingga seribu sambil diam .
“Satu pun barang tidak ada yang diambil. Mereka langsung menyulut api di gudang, di motor, dan di beberapa titik,” kata Jodi saat ditemui di lokasi pascakejadian.
“Ini murni perusakan, bukan perampokan. Tujuannya jelas: membuat kami berhenti beroperasi,” tegasnya.
Bagian yang terbakar meliputi gudang penyimpanan, ruang tidur karyawan, dan sebagian atap bangunan.
Aset yang hangus antara lain satu unit motor Yamaha Mio, piano kayu, mesin pendingin, genset, peralatan dapur, serta telepon genggam dan televisi. Kerugian ditaksir mencapai Rp40–50 juta .
Jodi menegaskan tidak akan membiarkan aksi penyerangan ini menghentikan usahanya.
“Seluruh dokumen kami lengkap dan sah. Kami akan berjuang melalui jalur hukum dan akan membuka kembali setelah renovasi selesai. Saya tidak akan mundur,” ucapnya dengan emosi tertahan.
Kuasa hukumnya, Teddy Tondowidjojo, menambahkan bahwa laporan resmi telah diajukan ke kepolisian.
AKBP Anggaito Hadi Prabowo, Kapolres Sukoharjo, membenarkan kejadian tersebut dalam keterangannya kepada awak media. “Kami sudah melakukan olah TKP, memasang garis polisi, dan memeriksa dua orang saksi. Keempat pelaku berbagi peran — dari mengancam hingga membakar. CCTV sekitar sedang kami periksa untuk mengidentifikasi pelaku,” ujarnya.
Polisi belum menangkap siapapun dan motif penyerangan masih diselidiki.
Diketahui sebelumnya, keberadaan warung ini memang telah menuai protes dari sebagian warga sejak Maret 2026 karena menjual makanan nonhalal.
Spanduk penolakan sempat dipasang dan akses jalan pernah ditutup tumpukan tanah . Namun Jodi menegaskan usahanya legal dan berizin. Hingga kini, penyelidikan terus berjalan.**

















