Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (60): Manifesto Komunis Lahirkan Kaum Bolshevik

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

KREDONEWS.COM— Masyarakat rahasia kaum nasionalis semakin lebih bertujuan internasional setelah masa revolusi-revolusi kota meledak pada 1848. Penganjurnya adalah Karl Marx dan Freidrich Engels.

Kedua pengarang Manifesto Komunis kelahiran Jerman itu mengkotbahkan adanya perang rakyat yang melewati batas-batas nasional. Meskipun demikian, setiap kerusuhan komunis masa datang dilancarkan dalam kerangka kerja negara saja.

Kaum Bolshevik meniru kaum Blanquist menggunakan kelompok-kelompok kecil terlatih revolusioner, mereka kecil namun erat hubungannya satu sama lain.

Kaum Carbonari pun melakukannya ketika mengajukan tuntutan kepada angkatan bersenjata. Demikian juga halnya dengan pemberontak Irlandia ketika mengeksploitasi ketidakpuasan pertanian mereka dan komune-komune Paris ketika mengawasi gerombolan perkotaan.

Terlepas dari klaim mereka merepresentasikan kelompok kerja di manapun, Revolusi Komunis gagal berkembang di seluruh Eropa setelah kaum Bolshevik berhasil di Rusia karena mereka sebetulnya adalah orang Rusia sebelum menjadi manusia dunia.

Para perusuh kelas menengah pada 1884, menghentikan solidaritas bangsa Eropa agar bisa terlibat dalam pertikaian nasional. Demikian juga kaum Bolsheviks menghentikan resolusi di seluruh dunia agar bisa menjadi kuat di tanah kelahiran mereka sendiri.

Semua kalangan yang selalu berupaya melancarakan revolusi yang didapat dari luar negeri adalah kaum anarkis.

Mereka mempercayai adanya proses tindakan langsung yang berkelanjutan dalam tradisi Babeuf dan Blanqui.

Mereka kerap terpaksa bekerja pada jalur-jalur lokal karena tujuan pertama mereka adalah menggulingkan pemerintahan dalam negeri.

Bagaimanapun, filsuf prospektif kaum anarkis, Mikhael Bakhunin, mengajarkan keyakinan Babeuf bahwa Revolusi Prancis “merupakan satu-satunya pionir revolusi lain, yang jauh lebih besar dan agung, yang mungkin menjadi yang terakhir.”

Tanpa disadari, pengalaman Perancis telah melontarkan kelahiran nasionalisme di dunia ketimbang sekedar meniupkan kemerdekaan, kesamaan derajat dan persaudaraan.

Bakhunin adalah seorang aristokrat Rusia yang bekerja dalam pasukan Tsar. Setelah mengupayakan beberapa perubahan dalam negara yang penuh penindasan itu, dia tertarik pada karya seorang radikal Perancis yang juga Freemason, Pierre Joseph Prodhon.

Buku Prodhon berjudul Kontradiksi Ekonomi (Economic Contradiction) dipublikasikan pada 1846 terkenal dengan slogannya, Destruam et Aedificabo, “Saya Menghancurkan dan akan Membangunnya.”

Ketika mengalami pertengkaran yang terus berlanjut dengan Karl Marx, Bakhunim lantas mengatakan tentang mentor Perancisnya itu. Yaitu bahwa Proudhon adalah seorang revolusioner karena instink.

“Dia memuja Setan dan memaklumkan adanya anarki” Sangat mungkin bahwa Marx bisa membangun sebuah sistem kemerdekaan yang jauh lebih rasional, tetapi dia tidak memiliki instink kemerdekaan. Karena itu, dia secara keseluruhan tetap saja; dari kepala hingga kakinya, seorang otoriter.”

Proudhon mengajukan persoalan yang kemudian tidak pernah dapat dijawab oleh kaum Marxis dalam penjelasan ekonomis mereka tentang teror terhadap penduduk melalui “kediktatoran kaum proletariat”.

Pamfletnya yang kenamaan, “What is Property?” (Apa itu harta benda) dimulai dengan pendekatan-pendekatan ini. “Jika saya diminta menjawab pertanyaan berikut: “Apa itu perbudakan?” maka saya harus menjawabnya dengan satu kata, “Itulah pembunuhan.”

Dengan demikian, pengertian saya akan segera dipahami… Karena memperbudak manusia berarti membunuhnya. Kemudian, mengapa, terhadap pertanyaan lain ini: “Apa itu harta milik?” mungkin tidak saya berikan jawaban yang senada, ‘Itulah perampokan?.”

Proudhon melontarkan argumen ekonomi demi kesamaan derajat manusia dalam protes utopia sebelumnya. Baginya, negara justru mempraktekkan pencurian legal.

Doktrin ini menarik minat Bakhunin, yang tidak dapat menerima pemisahan kaum Marxis dalam kelas-kelas sosial yang eksklusif.

‘Kelas social, kekuasaan serta negara,’ tulisnya ‘adalah tiga istilah. Masing-masing mengandaikan dua istilah lainnya. Namun mereka semua dapat didahului oleh kata-kata: penaklukan politik dan eksploitasi ekonomi massa.’

Bakhunin tidak ingin menggunakan prinsip negara dan kekaisaran lama tentang upaya memecah-belah dan memerintah.

Dia ingin menyatukan para mahasiswa dan pekerja serta petani dalam suasana persahabatan, yang mampu berpadu satu dalam pemberontakan instinktif demi kebaikan bersama. (Bersambung).

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

351 Siswa SMAN 1 Sampang Cilacap Keracunan MBG: 6 Rawat Inap 19 Kondisi Memburuk Dirujuk ke RSUD

23 September 2026 - 23:02 WIB

Siap Dibawa ke Ranah Hukum, Gus Ipul: Fitnah Ada Aliran Dana Rp480 M ke Muktamar 35 NU di Jombang

23 September 2026 - 22:25 WIB

244 Anak Siswa PAUD/ TK Kecamatan Bawang Batang Dibawa ke Rumah Sakit, Diduga Keracunan Masakan MBG

23 September 2026 - 21:48 WIB

KPK Geledah Kantor ATR/ BTN Mojokerto, Operasi Kelima setelah Bogor

23 September 2026 - 20:40 WIB

Dituntut Hukuman Seumur Hidup, Hakim Jatuhkan Vonis Hukuman Mati kepada Agus Sulaiman Pembunuh Adik Ipar

23 September 2026 - 15:40 WIB

Puluhan Ibu dan Anak Diangkut ke RSUD Kalisari, Diduga Keracunan PMT dari Posyandu Rawabelang Batang

23 September 2026 - 00:21 WIB

Kasus Hoki Minaya Terulang di Lumajang, Holi Menguber dan Tabrak Pencuri Motor Miliknya Hingga Tewas di Ranuyoso

22 September 2026 - 20:34 WIB

Pejabat, Jenderal TNI dan Ulama Dalam Kasus TPPU Rp237 M, Gus Yazid Cabut BAP atas Letjen Widi Prasetijono

22 September 2026 - 14:50 WIB

Menelisik Akar Terorisme (59): Masyarakat Rahasia Tiongkok

21 September 2026 - 22:40 WIB

Trending di News