Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Menelisik Akar Terorisme (27): Kaum Illuminati dan Revolusi Prancis

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato   |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM— Bonnet terus mengklaim bahwa Dewan Konstituante pada awal Revolusi Perancis memiliki 30 anggota Masonik dan bahwa Pernyataan Hak-hak Asasi Manusia merupakan karya pahlawan Revolusi Amerika, de Lafayette, yang menyerahkan kunci Penjara Bastille kepada Presiden Amerika, George Washington.

Sebetulnya, Hak-hak Asasi Manusia juga bersumber dari para penyumbang pemikiran penting lain kaum aristokrat yang juga bekerja untuk pembuatan Ensyclopedia, yaitu Condorcet.

Ia seorang utopis dan pionir bidang moral yang berbagai pandangannya tentang sejarah berhasil meningkatkan banyak masyarakat melalui perubahan berkelanjutan yang bakal mempengaruhi positivisme Auguste Comte dan dialektika Hegel dan Marx.

Usai Revolusi, Condorcet tidak berhasil. Tidak seperti Mirabeau dan Lafayette, dia terlambat bergabung dengan kaum Jacobin yang menang.

Dia bekerja sama dengan Thomas Paine, yang menulis The Rights of Man (Hak Asasi Manusia). Namun, sebaliknya, karyanya “Plan for a Constitution” dihancurkan. Ketika mengajukan protes, dia justru malah dikecam. Dalam persembunyiannya, dia menulis gambaran historis tentang perkembangan roh (spirit) manusia.

Dia menegaskan lagi hukum alam dan moralitas. Dia tetap percaya pada kemajuan sosial bahkan selama apa yang bakal disebut sebagai “Teror” sekalipun.

“Betapa sambutan terhadap para filsuf merupakan gambaran kemanusiaan ini, bebas dari semua rantainya, bebas dari dominasi kesempatan juga dari musuh-musuh kemajuannya, maju dengan langkah kokoh dan yakin dalam jalan kebenaran, kebajikan dan kebahagiaan.”

Apapun harapannya, Condorcet melarikan diri dari Paris dengan mengenakan pakaian wanita. Dia kemudian bahkan ditolak untuk diberi perlindungan oleh para sahabatnya, sebelum meninggal dunia di penjara karena hal-hal yang tidak dapat dijelaskan.

Mungkin saja karena racun. Pelindungnya yang terakhir, Madame de Verret, konon mengatakan kepadanya. “Tuan, Konvensi mungkin saja mengatakan anda berada di luar hukum, tetapi bukan di luar kemanusiaan.”

Bagaimanapun, Mirabeau merupakan pemain kunci dalam Dewan Konstituante. Dalam berbagai makalahnya, dia mengaku menjadi anggota Freemason, yang dipengaruhi para pengikut Rosicrucia yang misterius dan Kaum Illuminati (Kaum Yang Tercerahkan) yang diagung-agungkanya dalam bukunya History of Prussian Monarchy (Sejarah Monarki Prusia).

Dikatakannya bahwa Kaum Illmuninati mengikuti teladan Yesus dengan logika rahasia dan berstandar ganda mereka, sembari menentang iman kepada Allah karena percaya kepada akal budi manusia.

Mereka ingin menghapus kaum bangsawan, sikap ingat diri dan pajak yang tidak adil serta takhayul, sambil mengajukan kemerdekaan bagi pers dan toleransi universal bagi semua agama.

Dua pemikir sosialis terakhir, Louis Blanc dan George Sand, membuktikan keberhasilan konspirasi Eropa terhadap Kaum Illmuninati yang mistik dari Jerman, khususnya pada organisasinya yang mengagumkan.

Pendirinya, pembuat intrik brilian, Adam Weishaupt, membuat diagram kuno rahasia masyarakat rahasia yang diorganisasi dalam sel-sel itu.

Sistem hirarkisnya mengarah ke puncak kepada guru besar, yang memiliki niat luhur. Namun tidak ada letnan atau sel yang bisa berkomunikasi satu sama lain. Seperti yang dituliskan seorang komentator tentang Weishaupt;

Dia tahu bagaimana mengambil dari setiap asosiasi, dari masa lalu dan masa kini, bagian-bagian yang dibutuhkannya dan memaksapadukan mereka semua dalam sebuah sistem yang sangat efisien – doktrin-doktrin kaum Gnostik dan Manichea yang tidak padu, juga dari para filsuf modern dan para ahli ensiklopedia, metode-metode dari kaum Ismailiah dan Kaum Assasin, disiplin kaum Yesuit dan para Templar, organisasi dan kerahasian para angora Freemason, filsafat Machiavelli, misteri kaum Rosicrucia.

Dan lebih jauh lagi, dia mengetahui bagaimana menyusun unsur-unsur yang tepat dalam semua asosiasi yang ada serta memisahkan orang-orang sembari mengubah mereka sesuai tujuannya.

Pengaruh Kaum Illuminati sangat kuat, sehingga para jenius sastra Jerman, Goethe dan Lessing, menjadi anggotanya.

Percy Bysshe Shelley bahkan menulis sebuah novel jelek berjudul St. Irvyne or the Rosicrucian, (Santa Irvine atau Kaum Rosicrucia) seputar Persaudaraan Protestan dari kaum Salib Merah yang menentang Kaisar Habsburg.

Elizabeth Barret Browning bahkan menyebutnya sebagai “tololnya sekolah berasrama.” Shelley bahkan juga menganggap bahwa kaum Assasin (Pembunuh) dan visi mereka tentang surga telah menginspirasi Kaum Illuminati, ketika dia justru tengah membangun rumah bagi Victor Frankenstein di Ingoldstadt, sebuah pusat spiritual untuk pemujaan.

Putusnya hubungan oleh monster buatan manusia, berarti menjadi cantik merupakan komentar atas strategi Kaum Illuminati yang bertujuan menghancurkan institusi sosial dan politik serta relijius, yang membelenggu individu dalam rantai-rantai yang ingin diretas Rousseau dalam bukunya Social Contract (Kontrak Sosial).

Setelah 1789. ada 2.000 pusat pembinaan di Perancis berafiliasi dengan Grand Orient, bersama dengan kira-kira 100.000 anggotanya. Hampir semua anggota radikal kenamaan Dewan Konstituante diajarkan dengan keyakinan Kaum Illuminati dalam suatu revolusi sosial.

Termasuk para bangsawan seperti d’Orleans, Condorcet dan Lafayette, Mirabeau dan juga para musuh mereka yang belakangan, Danton dan Desmoulis, Marat dan Robespiere sendiri.

Mereka menggunakan teknik konspirasi, sel dan pusat pembinaan serta pertimbangan sumir untuk menggulingkan pemerintah dan memerintah rakyat dengan serangkaian kelompok revolusioner, seperti Kelompok Enambelas di Paris selama perang-perang agama.

Kelompok-kelompok pemberontak ini menjalankan praktek mengadu domba satu sama lain dengan perang guna mendapatkan daya pengungkit bagi tersembunyi mereka.

Sehingga, pertumpahan darah yang dilancarkan oleh kaum Jacobin yang berakhir dalam rejim ketakutan itu sekedar menjadi demonstrasi lain dari masalah: “Seusai Revolusi, siapakah yang bakal memenangkannya.?” (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sopir Mengantuk Tabrak Truk di KM 687 Sumo: 4 Penumpang Tewas, 7 lukaluka

12 September 2026 - 12:54 WIB

Petani Lapor Sulit Mendapat Pupuk Subsidi, Menteri Amran Langsung Copot Manajer Gudang Banggai

11 September 2026 - 19:29 WIB

Investasi Jatim Turun 2,6%, Apindo Soroti Kepastian Berusaha

11 September 2026 - 18:59 WIB

Keracunan Massal Pindah ke Lombok Tengah: 352 Siswa di Lima SDN dan MTs Bukitliang

11 September 2026 - 17:14 WIB

Lamaran Ditolak, Mantan Pacar Bunuh Dua Remaja Kakak Beradik 5 Tahun Baru Terkuak

11 September 2026 - 11:34 WIB

Zulhas: MBG, Kita Akui Gagal! Sabar, Kita Perbaiki Manajemennya

11 September 2026 - 10:54 WIB

Sayembara Bukti Ijazah Gibran Berhadiah Rp10,28 M Ditutup, Denny Indrayana: Dilanjut Gugatan ke MK

11 September 2026 - 09:58 WIB

SAR Gabungan Temukan Jaket Pelampung dan Botol, Belum Dipastikan Milik 5 Jurnalis dan 3 Kru Liputan Anak Krakatau

10 September 2026 - 21:46 WIB

Tim SAR Gabungan temulan satu jaket pelampung dan botol putih, tetapi belum bisa dipastikan yang dikenakan para jurnalis, Rabu 10 September 2026. Foto: okezone

Salah Injak Pedal: Alphard Santap 3 Mobil, 11 Motor, dan Rombong Bakso di Sukolilo

10 September 2026 - 03:46 WIB

Trending di News