Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Rupiah Tembus Rp18.000, Menkeu Sebut Masih Sesuai Perhitungan APBN

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan mengatakan, nilai tukar rupiah yang sudah menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, masih masuk hitungan perumusan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di awal.

“Cuman kan gini, ini masih dalam range perhitungan kita yang sebelumnya saya sebutkan itu. Pada waktu APBN pertama kan ada asumsinya 16.500. Tapi kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik, tinggikan. Ya, kita hitung di situ, adjustment cukup tinggi,” kata Purbaya di kompleks DPR RI, Kamis (4/6/2026).

Meski begitu ia tidak mau membongkar seberapa besar penurunan rupiah yang telah diperhitungkan oleh pemerintah, karena ditakutkan akan makin melemahkan nilai tukar rupiah.

“Tapi kan saya nggak sebutkan, dan nanti rupiah melemah signifikan. tp basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang. Lebih kuat dari yang sekarang,” ujarnya.

Soal langkah pemerintah memperbaiki kurs rupiah, Kementerian Keuangan masih masih melakukan intervensi terhadap pasar obligasi.

“Mungkin 8 triliun lebih yang diobligasi, ya.Tapi itu yang nggak boleh diomongin, ya. Tidak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. jadi dampaknya ada,” pungkasnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dengan tekanan 0,27 persen hingga menembus Rp18.015 per dolar, pada Kamis (4/6/2026) pagi.

Kondisi ini, menurut Lukman Leong analis mata uang Doo Financial Futures mencerminkan kuatnya tekanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ditambah sentimen domestik yang masih kurang kondusif.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” kata Lukman.

Selain itu, sejumlah data ekonomi AS yang dirilis lebih baik dari perkiraan pasar turut memperkuat mata uang Negeri Paman Sam.

Data ketenagakerjaan AS serta indeks aktivitas sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan kinerja lebih kuat dari ekspektasi memperbesar optimisme terhadap ekonomi AS.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS: Cabai Rawit Tembus Lebih dari Rp100 ribu Per Kilogram

24 September 2026 - 19:59 WIB

Pengusaha Kapal Akui Tak Semua Operator Berani Angkut Kendaraan Listrik

24 September 2026 - 19:48 WIB

Sekolah Negeri Bakal Digratiskan, Mendikdasmen: Dimulai dari TK hingga Kuliah

23 September 2026 - 20:43 WIB

Warga RI Usia 17 Tahun Bakal Dapat Rp 50 Ribu, Pemerintah Siapkan Rp 3,8 T

23 September 2026 - 19:59 WIB

Pastikan Sesuai Spek, LSM Seven Gab Bersama Dinas PU Sidoarjo Pantau Proyek Jalan Bluru

23 September 2026 - 10:27 WIB

PHK Massal Bayangi Industri Keramik Jatim Imbas Pasokan Gas Terbatas

22 September 2026 - 20:36 WIB

Pemprov Jatim Amankan 411 Aset Idle dari Ancaman Mafia Tanah

22 September 2026 - 20:07 WIB

Arahan Prabowo, Bahlil Godok Strategi Konversi Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:12 WIB

Beras di Ritel Modern Kosong Imbas Fortifikasi Disetop, Mentan Buka Suara

21 September 2026 - 19:02 WIB

Trending di Nasional